Venus Upadhayaya 

Kota Qom di Iran, adalah kota tujuan penting peziarah Syiah dan pusat Revolusi Islam pada tahun 1979. Sekarang Qom, menjadi pusat wabah krisis virus komunis Tiongkok yang dikenal sebagai pneumonia Wuhan, dan para ahli percaya hal ini memiliki dampak politik di Iran dan di seluruh Timur Tengah.

Menurutr Dr. Pierre Pahlavi pada tahun 1960-an, Qom menjadi pusat dari mana Ayatollah Khomeini menentang dinasti Pahlavi.  Pahlavi adalah seorang profesor di Departemen Studi Pertahanan di Canadian Forces College dan anggota keluarga Pahlavi yang memerintah Iran sebelum Ayatollah Khomeini merebut kekuasaan.

“Pada bulan Januari 1978, kota suci Qom adalah tempat bentrokan pertama antara ulama radikal dengan kekuatan monarki. Qom selama beberapa tahun itu merupakan kediaman Ayatollah Khomeini dan, dalam hal ini, modal nyata dari Republik Islam selama beberapa bulan setelah runtuhnya sistem kekaisaran,” kata Pierre Pahlavi.

Menyebar Dari Qom

Iran melaporkan dua kematian pertama akibat Virus komunis Tiongkok atau pneumonia Wuhan yang dikenal dengan Coronavirus di negara itu di Qom pada tanggal 19 Februari. Sejak itu, Coronavirus merebak tidak terhentikan. Awalnya menyebar tanpa henti oleh pesan ulama untuk peziarah agar terus datang ke Qom, tidak seperti kota-kota lain di dunia itu yang segera menutup pintunya.

“Kami menyebut tempat suci ini, Daralshafa, artinya orang datang dan menyembuhkan penyakit mental dan fisik, jadi tempat suci tersebut harus dibuka,” kata Seyyed Mohammad Saeedi, Penjaga Masoumeh dan perwakilan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei di kota Qom, menurut sebuah video di acara sosial media.

Nicole Robinson, seorang ahli Timur Tengah di Heritage Foundation yang berbasis di Washington, mengatakan kepada The Epoch Times di Amerika Serikat dalam emailnya bahwa ratusan mahasiswa dan ulama junior Tiongkok belajar di seminari di Qom serta tatalaksana ‘virus Komunis Tiongkok’ oleh ulama senior adalah sebuah bencana.

“Tidak jelas berapa lama wabah dimulai, tetapi respons pemerintah Iran untuk menjaga tempat keagamaan tetap dibuka meskipun kemungkinan wabah awal cenderung terjadi karena Coronavirus tidak terkendali dan malah menyebar ke kota-kota lain di Iran,” kata Nicole Robinson.

Karena para pemimpin Iran sering mengunjungi Qom, Virus Komunis Tiongkok menyebar di antara para elit penguasa, bahkan membunuh salah satu penasihat Ali Khamenei, tiga komandan Pengawal Revolusi Iran, Wakil Menteri Kesehatan Iran, mantan duta besar untuk Suriah yang saat ini bekerja sebagai penasihat Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, Duta Besar Khomeini untuk Vatikan, dan seorang penasihat kepala Kehakiman.

CNN melaporkan bahwa 8 persen anggota Parlemen Iran terinfeksi virus itu. 

“Kunjungan tambahan pejabat tinggi pemerintah Iran ke Qom seperti Wakil Menteri Kesehatan Iran Harirchi Iraj menyebarkan Coronavirus di antara pejabat tingkat tinggi pemerintahan Iran,” kata Nicole Robinson.

Menurut Kantor Berita Republik Islam, media pemerintah Iran, pada hari Rabu, 354 orang Iran meninggal akibat Coronavirus dan 9.000 orang lainnya terinfeksi Coronavirus.

Namun, Radio Farda, penyiar bahasa Persia yang didukung oleh Kongres Amerika Serikat, melaporkan rezim Iran menutup-nutupi wabah Coronavirus dan bersumber dari situs web berita Entekhab yang mengatakan korban tewas akibat Coronavirus adalah lebih dari 2.000 orang.

Menggeser Kritik

Seyyed Mohammad Saeedi menyalahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk krisis  yang berkembang di kota Qom karena Qom adalah tempat perlindungan bagi kaum Syiah di dunia, pusat seminari-seminari agama dan kota tempat sumber-sumber pesaing Syiah hidup.

“Musuh ingin menanamkan rasa takut di hati orang, membuat Qom terlihat seperti kota yang tidak aman dan membalas dendam atas semua kekalahannya,” kata Seyyed Mohammad Saeedi pada doa malam hari Jumat menurut Radio Farda. Pierre Pahlavi mengatakan teori konspirasi selalu berkembang di Iran di bawah situasi semacam itu.

“Sejak operasi Stuxnet, virus dunia maya  digunakan untuk menetralkan program nuklir Iran satu dekade lalu, politisi dan para pemimpin militer Iran mengembangkan sindrom benteng terkepung yang cenderung ikut campur paranoia,” kata Pierre Pahlavi.

Operasi Stuxnet adalah virus komputer yang berhasil menembus peralatan pengendali sentrifugal milik Iran yang digunakan untuk memperkaya uranium, menangani tantangan sementara untuk program nuklir Iran, menurut Reuters.

Dampak Dalam Negeri Iran

Krisis viurs komunis Tiongkok menambah kesengsaraan internal rezim Iran karena krisis itu mengalami perlindungan masyarakat sejak bulan Desember.

Pierre Pahlavi mengatakan krisis baru ini menambah sumber ketegangan rezim Iran dan terbukti “sangat merusak” masa depan rezim Iran.

“Ketidakmampuan para pemimpin Iran untuk mengatasi krisis baru ini dan kecenderungan para pemimpin Iran untuk meminimalkan besarnya krisis Coronavirus hanya meningkatkan ketidakpercayaan rakyat Iran terhadap sistem yang dianggap semakin tidak mampu membela kepentingan rakyat Iran,” kata Pierre Pahlavi.

Iran menghadapi unjuk rasa anti-rezim oleh masyarakat Iran sejak tahun 2017, yang baru-baru ini diintensifkan setelah militer Iran mengaku secara keliru menembak jatuh sebuah pesawat Ukraina, menewaskan sedikitnya 130 warga Iran.

Gregg Roman, Direktur Forum Timur Tengah, menyebut unjuk rasa di bulan Desember 2017 sebagai situasi yang “ironis” karena unjuk rasa tersebut memulai krisis flu burung yang menyebabkan pemusnahan massal ayam dan unggas lainnya, yang mengarah pada kenaikan harga telur yang tinggi.

Harga telur naik 50 persen dan bahkan 100 persen, menurut Vox, dan menjadi simbol masalah ekonomi yang lebih luas bahwa rezim Iran tidak mampu menyelesaikan krisis, di mana unjuk rasa dengan cepat menyebar ke banyak kota lain di Iran.

“Jadi kini, fakta bahwa mereka adalah [elit] yang ditaklukkan dan menjadi lebih rentan terhadap virus ini, seperti ini, tawar-menawar Faustian yang mereka buat dengan pejabat kesehatan masyarakat mereka,” kata Gregg Roman menambahkan bahwa virus kembali untuk “menggigit mereka.”

Nicole Robinson mengatakan ketidakmampuan rezim Iran untuk menangani krisis hanya akan memicu ketidakpuasan masyarakat lebih lanjut.

Bunuh Zona

Gregg Roman menuduh bahwa rezim Iran menolak bertanggung jawab atas krisis kesehatan masyarakat dan menciptakan zona bunuh, membunuh zona di seluruh kota yang diduga terinfeksi Virus Komunis Tiongkok.

Gregg Roman menggunakan istilah “zona bunuh” untuk menekankan ketidakmampuan rezim Iran dalam menangani Coronavirus di seluruh Iran. Laporan Atlantik dari akhir bulan Februari menggambarkan bagaimana dalam beberapa minggu pertama wabah Coronavirus, rezim iran mendorong orang-orang untuk mengunjungi Qom, bukannya menerapkan karantina diri sendiri, mempermudah penyebarannya ke seluruh Iran.

NCRI mengatakan dalam rilis tanggal 10 Maret bahwa kematian melebihi 3.600 kasus dan menutup-nutupi wabah Coronavirus di Qom oleh rezim Iran telah mengubah “9,7 juta penduduk Teheran menjadi tempat pembunuhan,” karena Qom dan Teheran sangat terhubung.

Media sosial penuh dengan video penguburan massal korban terinfeksi di Iran, termasuk beberapa video di mana orang-orang berunjuk rasa mengenai penguburan korban dekat rumah mereka.

Ada juga video yang memperlihatkan rezim Iran membersihkan orang-orang dan jalan dengan menggunakan pestisida dan semprotan untuk pertanian. Namun tidak dapat dibuktikan keaslian video itu.

Dampaknya di Timur Tengah

Para ahli mengatakan bahwa virus itu akan membuat Iran lebih terisolasi dan kurang aman di Timur Tengah, sehingga secara substansial memengaruhi kekuatan Iran di kawasan Timur Tengah.

“Karena negara-negara Timur Tengah seperti Irak, Kuwait, Afghanistan, Bahrain, dan Oman telah melaporkan kasus virus pertama di negaranya dan semua negara-negara ini memiliki hubungan kuat dengan Iran. Bahkan, Libanon, Uni Emirat Arab dan Bahrain sudah mengklaim bahwa negaranya  memiliki kasus Coronavirus yang berasal dari Iran,” kata Esra Serim.

Esra Serim mengatakan epidemi Coronavirus berdampak bermakna terhadap Iran sebagai pusat ziarah agama.

Ali Bakeer, seorang analis politik berbasis di Ankara mengatakan kepada The Epoch Times dalam sebuah pesan bahwa krisis Coronavirus akan berdampak pada legitimasi rezim Iran di kawasan Timur Tengah.

Ali Bakeer mengatakan krisis Coronavirus akan “meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran, dan berkontribusi untuk lebih jauh mengisolasi Iran karena kini lebih banyak negara menyadari betapa berbahaya rezim Iran ini.”

Ali Bakeer mengatakan rezim Iran tidak pernah menikmati transparansi dan krisis Coronavirus menunjukkan bahwa rezim Iran tidak dapat dipercaya bahkan pada saat bencana seperti ini.

Pierre Pahlavi mengatakan pemerintah negara-negara Arab lainnya dengan minoritas Syiah adalah khawatir warganegaranya akan melakukan perjalanan ke situs-situs keagamaan di Iran dan membawa virus itu ke negara asalnya.

Dalam sebuah pernyataan, pemerintah Arab Saudi mengecam rezim Iran untuk memberi warganegara Arab Saudi masuk ke Iran di tengah wabah virus itu dan mendesak Iran mengungkap identitas warganegara tersebut.

“Tindakan ini adalah bukti tanggung jawab langsung Iran dalam meningkatkan infeksi dan wabah COVID-19 di seluruh dunia,” kata pernyataan Arab Saudi.

Menurut Pierre Pahlavi   pernyataan Arab Saudi itu menggambarkan selain menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di kawasan Timur Tengah, epidemi virus itu telah menjadi subyek perang psikologis nyata antara berbagai negara di kawasan Timur Tengah.

Esra Serim, seorang  analis Turki yang berbasis di Prancis, mengatakan  bahwa ia tidak mengharapkan kerusuhan domestik meningkat di Iran beberapa hari berikutnya tetapi dapat terus berlanjut.

“Karena, rezim Iran yang diisolasi oleh pemerintahan Amerika Serikat dapat menimbulkan kuburan yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan regional dan global,” kata Esra Serim.

Esra Serim mengatakan kesengsaraan ekonomi Iran akan terus meningkat karena Iran berada di bawah sanksi Amerika Serikat dan mengandalkan bantuan Tiongkok.

“Dan kini hubungan Iran dengan Tiongkok terpaksa terganggu karena masalah epidemi yang serius di Tiongkok,” kata Esra Serim. 

The Epoch Times merujuk novel Coronavirus, yang menyebabkan penyakit COVID-19, sebagai virus  Komunis Tiongkok, karena Komunis Tiongkok telah merahasiakan dan salah menatalaksana wabah Coronavirus. Sehingga Coronavirus menyebar ke seluruh Tiongkok dan mengakibatkan  pandemi global.  (vv)

Share

Video Popular