Zhang Yujie – Epochtimes.com

Situs web “HiNet Life” melaporkan pada 6 April, hingga saat ini, sudah ada puluhan perusahaan mengangkat topik epidemi virus komunis Tiongkok atau Wuhan pneumonia dalam laporan keuangannya. Epidemi ini bahkan memaksa beberapa perusahaan untuk menurunkan perkiraan keuangan mereka.

Misalnya, Burberry telah mengumumkan pada awal Februari lalu, bahwa mereka telah membatalkan pedoman perkiraan keuangan setahun penuh. 

Sedangkan kinerja tokonya di daratan Tiongkok turun drastis 70% hingga 80% pada periode dua minggu dari akhir Januari hingga awal Februari 2020. Tapestry, yang memiliki merek seperti Kate Spade dan Coach, mengakui bahwa ledakan wabah akan berdampak negatif pada kinerja penjualannya hingga  250 juta dolar AS pada tahun ini.

 Toko-toko Peritel Tutup

Menurut penelitian Amenity Analytics di Amerika Serikat, epidemi menjadi ancaman besar bagi industri ritel. Epidemi ini disebutkan 160 kali dalam 19 panggilan konferensi pengecer yang berbeda hanya dalam 2 minggu.

Saat ini, virus komunis Tiongkok merajalela di dunia. Sedangkan merek yang membuka toko khusus di daratan Tiongkok telah ditutup jauh hari sebelumnya. 

Firma riset pasar Coresight Research mengatakan dalam laporannya bahwa banyak merek butik termasuk Burberry, Tapestry, Capri dan LVMH telah menutup beberapa tokonya di daratan Tiongkok karena wabah itu.

Alan Behr, seorang pengacara di industri fashion dan mitra di firma hukum Phillips Nizer, mengatakan bahwa, butik ritel berfokus pada pengalaman pribadi. Jika pelanggan khawatir tentang kontak dengan orang-orang, maka bisnis ritel butik akan menghadapi tantangan.

Pengecer butik online juga sulit menghindari dampak epidemi, karena banyak pengecer menghadapi masalah pasokan yang sama dengan pengecer offline.

 Rantai pasokan bergantung pada Tiongkok, terjadi krisis putusnya pasokan

Sebelum ledakan wabah, banyak merek internasional masih bergantung pada jalur produksi atau bahan baku dari pabrik di Tiongkok. 

Marie Driscoll, direktur perusahaan riset pasar Coresight Research, mengatakan bahwa untungnya dealer memiliki lebih atau kurang diversifikasi rantai pasokan mereka setelah perang dagang AS-Tiongkok, jika tidak situasinya mungkin akan lebih buruk.

Edward Hertzman, pendiri dan presiden Sourcing Journal, mengatakan bahwa, beberapa merek tidak membeli bahan baku langsung dari daratan Tiongkok. Akan tetapi bahan baku pemasok mereka berasal dari daratan. Misalnya, beberapa merek pemasok Vietnam bergantung pada kain atau dekorasi dari daratan Tiongkok. Sedangkan pasokan bahan baku terganggu karena keterlambatan pengiriman di pelabuhan.

Perusahaan konsultan global Berkeley Research Group mengatakan bahwa, dalam laporannya di daratan Tiongkok, epidemi telah menyebabkan pabrik ditutup. Adapun pekerja tidak bisa bekerja seperti biasa, sehingga menghambat produksi dan transportasi barang.

Sebagai contoh pada industri pakaian, analis di lembaga pemeringkat internasional Moody’s pernah mengatakan dalam laporannya, bahwa epidemi yang memburuk dapat merusak rantai pasokan pakaian global. Sehingga merugikan perusahaan yang sangat bergantung pada pengadaan barang dari daratan Tiongkok, baik langsung maupun tidak langsung.

Industri mainan juga merupakan industri besar lain yang terkena dampaknya dalam rantai pasokan daratan Tiongkok.

 Analis S&P mengatakan bahwa, dampak epidemi pada produsen mainan pada kuartal kedua dan seterusnya memiliki ketidakpastian. Mungkin akan menghadapi gangguan rantai pasokan, seperti merek Mattel dan Hasbro atau merek lainnya. 

Hasbro telah memasukkan epidemi dalam daftar faktor risiko investor. Selain itu, menyebutkan bahwa mungkin ada keterlambatan atau kekurangan dalam produksi dan transportasi produk, serta peningkatan biaya dan pendapatan yang tertunda. (hui/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular