Walikota Wuhan tiba-tiba mengumumkan lockdown kota sehingga jutaan orang kabur dari kota sebelum jam lockdown berlaku. Akhirnya lockdown dibebaskan setelah 76 hari berlalu, membuat warga yang sudah terkurung selama 2 bulan lebih berlomba keluar dari “kurungan”. Namun sebagian warga memilih buruan keluar dari kota selagi pembebasan, karena mereka khawatir jika kebijakan berubah-ubah

oleh Gu Xiaohua, Ling Yun

Pembebasan lockdown di 75 titik yang merupakan akses keluar masuk Wuhan dilakukan serempak mulai 8 April pukul 00:00 waktu setempat. Banyak gerbang tol berbayar di Wuhan telah dipenuhi kendaraan yang mengantre untuk keluar kota sebelum pukul 00:00. 

Seorang warga bermarga Chen, yang tinggal di komunitas Hualou di Distrik Jianghan, Wuhan yang akan kembali bekerja di kota Wuxi, Jiangsu, adalah salah satunya yang berada dalam kendaraan sedang menunggu “gong” dibunyikan pada pukul 00:00.

“Buruan kabur malam ini juga”

“Buruan kabur malam ini juga. Siapa tahu besok keluar kebijakan yang berbeda”, kata Mr. Chen kepada reporter Epoch Times. 

“Karena belakangan ini masih ada warga yang terinfeksi, karena itu cepat keluar (kota Wuhan) lebih baik, daripada nanti terkena lagi lockdown. Kebijakan di kota satu dan lainnya berbeda”.

 Ia berkata : ” Waktu itu (merujuk 23 Januari), bos sudah meminta saya untuk buruan kabur setelah mendengar informasi akan ada lockdown, tetapi saya tidak bertindak, Akhirnya saya terus dimarahi. Jika mau kabur harus cepat karena sudah banyak warga yang kabur keluar kota.” Mr. Chen  menyesal karena tidak bertindak cepat kala itu.

Mr. Chen mengatakan ia sama sekali tidak melakukan uji infeksi atau asam nukleat, memantau kode kesehatan), mungkin setelah tiba di tujuan nanti akan kembali dikenakan karantina, biarlah !  “Sebelumnya, perusahaan tempat dirinya bekerja sudah memberitahukan kepadanya, asalkan ia dapat keluar dari kota Wuhan, hal-hal lainnya nanti perusahaan bisa bantu mengurus sehingga tak perlu khawatir.”

Rekaman menunjukkan, begitu penghalang jalan dibuka oleh petugas, pengendara mobil yang telah terkurung selama lebih dari 2 bulan membunyikan klakson sambil berjalan melewati gerbang tol.

Ada warga yang meninggalkan pesan : Warga Wuhan yang hampir gila karena terkurung, membunyikan klakson mobil sambil berjalan melewati gerbang tol. Setiap orang tampaknya sedang melampiaskan gejolak emosi, manis dan pahit yang dirasakan dalam hatinya masing-masing. Emosi tersebut hanya dapat dirasakan oleh warga yang terkurung dalam kota.

Wanita etnis Mongolia : 1 jam lebih awal tiba di gerbang tol

Mrs. Liu bertiga dengan keluarganya yang sudah keluar dari kota Wuhan sedang menempuh perjalanan pulang ke Mongolia. Ketika menerima wawancara reporter Epoch Times, ia sudah tiba di kota Xinyang, provinsi Henan. 

Mrs. Liu yang kedua orang tuanya tinggal di Distrik Hanyang mengatakan, ia sudah tiba di gerbang tol 1 jam lebih awal dari jam 00. Ia sudah menyediakan kartu tol tetapi terpakai, Saat menunggu waktu, ia melihat kendaraan yang berada di belakang mencapai ratusan.

Saat bercakap-cakap dengan kawannya melalui aplikasi Tik Tok, ia baru tahu bahwa kendaraan yang sudah menunggu di gerbang tol Wuhan Barat jauh lebih banyak dibandingkan dengan gerbang tol yang ia lewati. 

Menurut perkiraan sekitar 100.000 orang warga meninggalkan kota Wuhan dalam 2 hari setelah pembebasan lockdown. Di antaranya, lebih dari 55.000 orang meninggalkan Wuhan dengan naik kereta api pada 8 April, menuju ke Delta Sungai Zhujiang dan tempat-tempat lain. Distrik Baiyun di Guangzhou, Shenzhen, Distrik Shandong Tengah, Shaoguan, Zhanjiang dan tempat-tempat lain mengharuskan warga yang tiba dari Wuhan untuk memberikan hasil uji asam nukleat terbaru.

Alasan Mrs. Liu bertindak cepat kabur ketika lockdown dibuka yakni takut kebijakan berubah. “Kita tidak tahu bagaimana peraturan nantinya berubah, sekarang sudah jadi seperti ini, bisa kabur cepat kabur. Kebijakan berubah-ubah, sampai kita terjebak lagi, entahlah !”

“Apakah besok (berubah) menjadi lebih ketat ? Karena kita sudah terkurung selama hampir 80 hari dan ingin pulang, jadi kami memilih untuk berangkat pagi-pagi sekali”, katanya.

Mrs. Liu mengatakan bahwa sehari setelah mereka tiba di Wuhan, virus komunis Tiongkok mengganas. Sehingga terkena kurungan dalam rumah selama lebih dari 70 hari. Selain keluar ke pasar untuk belanja, hampir tidak keluar rumah. Kecuali 2 hari lalu ketika pergi untuk melakukan tes asam nukleat.

Setelah tiba di kampung halamannya, Hebei, tes asam nukleat harus dilakukan lagi. Yang memiliki hasil tes itu yang boleh menjalankan karantina di rumah, Jika tidak harus dikarantina di tempat karantina bersama. “Biar dikarantina dalam rumah tak apalah, toh aku sudah bisa pulang”, katanya.

Banyak netizen melalui media sosial melaporkan bahwa tidak ada pemeriksaan saat warga meninggalkan kota Wuhan, Kartu Hijau, hasil tes asam nukleat, surat bukti kembali bekerja semua tidak diperlukan, pokoknya lancar. Tetapi tidak ada jaminan apakah perlu menjalani karantina setibanya di tempat tujuan, itu urusan lain. Bagaimana persisnya, belum diketahui. 

Kekhawatiran di belakang pembebasan lockdown

Otoritas komunis Tiongkok menyembunyikan situasi sebenarnya tentang epidemi dengan merekayasa angka dan menekan dokter yang memiliki informasi, sehingga peluang terbaik untuk melakukan pencegahan dan pengobatan tertunda. 

Akhirnya, epidemi menyebar luas ke seluruh dunia dan menjadi bencana internasional terbesar sejak Perang Dunia II. Orang-orang yang berada di kota Wuhan adalah korban dari bencana ini. 

Sampai saat ini kepedihan warga Wuhan masih ditutup-tutupi oleh komunis Tiongkok dengan gembar-gembor resmi bahwa warga Wuhan berada dalam “situasi yang sangat baik”.

Pada 23 Januari, pihak berwenang terpaksa memberlakukan lockdown kota sehingga banyak pasien yang terinfeksi tidak dapat ke rumah sakit untuk melakukan diagnosis. Mereka tidak dapat menemukan tempat pembaringan karena rumah sakit penuh sesak. Beberapa orang sampai melakukan bunuh diri dengan melompat dari jembatan, beberapa warga terpaksa diisolasi di rumah tetapi menginfeksi seluruh keluarga. Meninggalkan insiden-insiden memilukan, kisah-kisah kehancuran keluarga. 

Sebagai contoh, sutradara Hubei Film Studio yang berusia 55 tahun Chang Kai dan keluarganya yang terdiri dari 4 orang, satu per satu meninggal dalam 20 hari karena terinfeksi virus komunis Tiongkok.

Selain itu, meskipun warga etnis Tionghoa di berbagai tempat perantauan menyapu bersih bahan-bahan medis masyarakat internasional dan mengirimkannya ke daratan Tiongkok sebagai bantuan kemanusiaan, tetapi banyak barang-barang tersebut ditumpuk dalam gudang milik Palang Merah. Kemudian dijual kembali oleh oknum tak bertanggung jawab. 

Pada saat yang sama, staf medis rumah sakit-rumah sakit besar di Wuhan tidak memiliki cukup persediaan bahan medis. Ribuan staf medis terinfeksi dan puluhan orang dari mereka menemui ajal.

Terlepas dari kenyataan bahwa Wuhan telah membebaskan lockdown kota, tetapi masih ada kasus infeksi di Wuhan. Pihak luar memperkirakan bahwa masih ada puluhan ribu orang di Wuhan yang berpotensi sebagai penular virus dengan tanpa menunjukkan gejala sakit. 

Baru-baru ini, 70 lokasi yang berstatus aman virus dengan ditempeli tulisan ‘komunitas bebas epidemi’ telah secara resmi dicabut statusnya. Itu gara-gara positif infeksi masih terjadi. Karena itu masyarakat terus khawatir dan bertanya-tanya kapan epidemi ini akan benar-benar berlalu ? (sin)

Video Rekoemendasi :

Share

Video Popular