Netizen Kanada Osuka Yip membuat petisi di Change.org, sebuah organisasi non-pemerintah. Petisi yang dibuat kali ini ditujukan pada sekjen WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus yang dianggap tidak kritis terhadap data komunis Tiongkok terkait Virus Komunis Tiongkok. Lebih dari 500.000 orang telah menandatangani petisi online di situs Change.Org itu. 

Epochtimes.com

Wabah virus Komunis Tiongkok telah menyebar ke seluruh dunia. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus berulang kali meremehkan epidemi untuk menyenangkan Komunis Tiongkok. 

Baru-baru ini, sebuah petisi diluncurkan di Change.org  sebuah organisasi non-pemerintah. Petisi itu menuntut Tedros Adhanom Ghebreyesus mundur dari jabatannya. Hingga pagi 26 Maret, lebih dari 500.000 orang telah menandatangani petisi itu. Selain itu, sejarah kelam Tedros Adhanom Ghebreyesus kembali diungkapkan media.

Netizen Kanada bernama Osuka Yip meluncurkan petisi di Change.org. Petisi yang dibuat kali ini ditujukan pada sekjen PBB Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus yang dianggap tidak kritis terhadap data komunis Tiongkok terkait Corona Virus komunis Tiongkok. Tedros   dikritik karena menolak menyatakan wabah virus Komunis Tiongkok sebagai “darurat kesehatan masyarakat global” pada 23 Januari 2020 lalu. Pada kenyataannya, tidak ada obat untuk virus corona itu. Sementara jumlah diagnosa dan kematian telah meningkat lebih dari 10 kali hanya dalam lima hari, seperti misalnya jumlah yang didiagnosis 800 orang, meningkat puluhan ribu orang. Jumlah yang meninggal lebih dari 350 orang.  

Petisi yang dibuat pada 31 Januari itu berpendapat Tedros tidak cocok memangku jabatan sebagai direktur jenderal di badan kesehatan PBB. Alasannya adalah karena Tedros dianggap lamban dan meremehkan kasus epidemi, dan meminta Tedros untuk segera mengundurkan diri.

Petisi itu juga menyatakan bahwa WHO seharusnya netral secara politik, tetapi Tedros secara langsung percaya begitu saja dengan angka kematian dan jumlah diagnosa yang diberikan oleh pemerintah komunis Tiongkok tanpa penyelidikan, sehingga membuat kecewa banyak orang. Selain itu, teknologi medis Taiwan jauh lebih maju dari beberapa negara lainnya, WHO seharusnya tidak mengecualikan Taiwan karena alasan politik.

Petisi itu ditulis dalam beberapa bahasa, termasuk Korea, Mandarin Tradisional, Jepang, Thailand dan 13 bahasa lainnya. Saat ini, hampir 510.000 telah menandatangani petisi itu. Target dari tanda tangan bersama ini adalah mencapai satu juta orang.

Sejarah kelam Tedros kembali diekspos

Tedros dikritik karena mengeluarkan informasi yang salah, menyesatkan kebijakan pencegahan pandemi, sehingga menyebabkan pandemi menyebar ke dunia dan puluhan ribu orang meninggal. Namun, ini bukan pertama kalinya Tedros membiarkan pandemi menyebar secara luas. Sejak tahun 2017, ia dikritik tim dokter Amerika karena penanganannya yang tidak tepat ketika terjadi kolera di Afrika.

Menurut The Nation Interest, pernyataan dan tindakan Tedros terkait wabah virus Komunis Tiongkok sama persis dengan masalah kolera di Sudan tahun 2017. Pada saat itu, pejabat Sudan mengatakan bahwa penyakit itu disebabkan oleh air minum yang tidak bersih, bukan karena kolera, sehingga menyebabkan pecahnya wabah.

Sekelompok dokter di Amerika Serikat menuding Tedros tidak dapat mengelak dari tanggung jawabnya atas kematian yang disebabkan oleh penyebaran kolera yang terus menerus. Dalam petisi yang ditandatangani bersama untuk Tedros itu, mereka mengkritiknya : “Epidemi di Sudan jelas merupakan kolera berskala besar, dan keheningan Anda itu harus dikecam.”

Koran itu mengutip sebuah laporan the New York Times sebelumnya, bahwa selama masa jabatannya sebagai menteri kesehatan Ethiopia, Tedros telah menutupi secara berturut-turut tiga epidemi kolera di Ethiopia pada tahun 2006, 2009 dan 2011, yang menewaskan ratusan orang.

Beberapa bulan sebelum Tedros menjabat sebagai Sekretaris Jenderal WHO, Profesor Lawrence O. Gostin, seorang pakar kesehatan masyarakat di Universitas Georgetown di Amerika Serikat, menyatakan bahwa Tedros menyembunyikan epidemi kolera dalam negeri semasa menjabat sebagai Menteri Kesehatan. 

Lawrence O. Gostin memperingatkan, WHO akan “kehilangan legitimasinya.” jika dipimpin oleh sosok orang yang menutupi epidemi di negaranya sendiri.

Lawrence O. Gostin, saingan Tedros dalam pemilihan Sekjen WHO. Dia pernah mengatakan, bahwa selama masa jabatannya sebagai menteri kesehatan Ethiopia, Tedros pernah mencegah wartawan meliput berita tentang pandemi malaria. 

Lawrence O. Gostin menuding bahwa sebagai menteri kesehatan, Tedros menyembunyikan wabah malaria karena alasan “stabilitas nasional”. Sementara itu menutupi informasi terjadinya malaria itu tidak bisa dimaafkan. Namun, dengan bantuan Komunis Tiongkok, Tedros berhasil menjabat sebagai Sekjen WHO hingga saat ini.  (jon)

 

Share

Video Popular