oleh Xiao Jing

Media Arab Saudi berbahasa Inggris ‘Arab News’ pada 7 April melaporkan bahwa Mohamed Talaat yang tinggal di Gharbia, sebuah provinsi yang terletak di tengah delta sungai Nil. Ia telah mengajukan gugatan kepada Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping atas penyebaran virus yang diciptakan untuk kebutuhan senjata biologis. 

Laporan itu mengatakan bahwa pada 17 Maret pengacara Amerika Larry Klayman mengajukan surat gugatan ke Pengadilan Federal di Texas di Texas Utara, menuduh komunis Tiongkok mengembangkan senjata biologis, sehingga menyebabkan virus menyebar ke seluruh dunia. Ia juga menuntut agar pemerintahan Komunis Tiongkok memberikan kompensasi setidaknya USD. 20 triliun atas kerusakan yang terjadi.

Kasus gugatan tersebut mendorong Mohamed Talaat untuk mengajukan gugatan serupa di Mesir. Ia mengatakan bahwa alasan untuk mengambil tindakan hukum terhadap komunis Tiongkok adalah untuk memastikan hak dan kepentingan Mesir. Apalagi, banyak laporan berita media percaya bahwa virus komunis Tiongkok dibuat di daratan Tiongkok.

Talaat menunjukkan, melalui media sosial, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi telah didesak untuk mengundang para ahli hukum internasional dalam rangka membentuk komite untuk membantu membawa gugatan ke otoritas yang lebih tinggi.

Penerbangan terhenti karena epidemi pneumonia komunis Tiongkok, membuat Mohamed Talaat tidak dapat mengambil tindakan lebih lanjut. “Ketika semuanya kembali normal dan pesawat kembali terbang, saya dapat terbang ke seluruh pelosok dunia untuk mempromosikan kasus ini dan mengajukan gugatan terhadap pemerintah Tiongkok. Sekarang yang saya lakukan hanya langkah pertama”.

Sampai berita tersebut diturunkan, warga Mesir yang didiagnosa positif terinfeksi virus komunis Tiongkok adalah 1.699 orang dengan kematian sebanyak 118 orang.

Komunis Tiongkok menyembunyikan fakta epidemi, AS menuntut kompensasi USD. 20 triliun

Pada 17 Maret, pengacara Amerika dan aktivis sosial konservatif, Larry Klayman mengajukan gugatan lewat pengadilan di Texas utara. Tuntutan itu menuduh komunis Tiongkok yang menyebabkan pandemi global akibat mengembangkan senjata biologis.

Larry Klayman dalam pernyataannya menyebutkan : “Warga Amerika pembayar pajak tidak beralasan untuk menanggung kerusakan besar yang disebabkan oleh pemerintah komunis Tiongkok. Rakyat Tiongkok adalah orang baik, tetapi pemerintah mereka tidak. Ia (komunis Tiongkok) harus membayar (pandemi) dengan harga yang mahal”.

Larry Klayman juga menghmbau siapa pun yang telah dirugikan oleh virus komunis Tiongkok untuk bergabung di situs webnya ‘Freedom Watch USA,’ tak lain untuk menjadi bagian dari gugatan class action yang kemudian secara bersama-sama menuntut kompensasi.

Para terdakwa tersebut termasuk : Pemerintah komunis Tiongkok, militer, ahli senjata biologi dan kimia militer Chen Wei, Institut Virologi Wuhan dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok dan direkturnya Wang Yanyi, dan peneliti institusi tersebut Shi Zhengli. Gugatan tersebut menuntut pengadilan federal negara bagian untuk melakukan persidangan juri, dengan jumlah tuntutan kompensasi setidaknya USD. 20 triliun.

Saat ini, kasus tersebut telah diajukan di Pengadilan Federal Texas.

Asosiasi Pengacara India mengajukan gugatan internasional, menuntut pertanggungjawaban komunis Tiongkok

Dewan Ahli Hukum Internasional (ICJ) dan All India Bar Association baru-baru ini mengajukan gugatan kepada Dewan HAM PBB tentang penyebaran virus komunis Tiongkok di seluruh dunia dan menyebabkan rusaknya kesehatan fisik dan mental yang serius bagi masyarakat dunia. Mereka juga menuntut komunis Tiongkok untuk bertanggung jawab terhadap pandemi global yang diakibatkan oleh menyembunyikan situasi epidemi yang sebenarnya.

Adish C. Aggarwala, ketua Asosiasi Pengacara Seluruh India dan ketua Komisi Ahli Hukum Internasional menyebutkan dalam surat gugatan : Mengingat pengembangan rahasia senjata biologis dan kimiawi komunis Tiongkok yang memiliki daya bunuh berskala besar, kami dengan rendah hati meminta Komisi PBB Hak Asasi Manusia untuk menginstruksikan Tiongkok (Partai Komunis Tiongkok) untuk memberikan kompensasi kepada masyarakat internasional dan negara-negara anggotanya, terutama India.

Dalam gugatan itu, Adish C. Aggarwala juga menyebutkan, bahwa dampak pandemi terhadap ekonomi India, termasuk ketidakseimbangan pasokan dan permintaan komoditas dan migrasi populasi yang terpinggirkan. “Kegiatan ekonomi India telah terhambat yang pada gilirannya telah menyebabkan pukulan besar bagi ekonomi daerah di negara itu juga ekonomi global.

Dalam surat gugatan itu juga disebutkan bahwa komunis Tiongkok telah dengan saksama merencanakan sebuah konspirasi dalam upaya untuk menyebarkan coronavirus atau virus komunis Tiongkok ke seluruh dunia. Tindakan tersebut telah melanggar Peraturan Kesehatan Internasional, Hak asasi manusia internasional dan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Dengan alasan tersebut India mengajukan gugatan kepada Dewan HAM PBB, menuntut agar komunis Tiongkok bertanggung jawab atas pandemi global yang disebabkan oleh penyembunyian faktanya.

Meskipun jumlah aktual kompensasi tidak disebutkan dalam gugatan, menurut perkiraan Acuite Ratings & Research Ltd, lockdown berskala luas yang belum pernah terjadi sebelumnya di India, termasuk penutupan perusahaan, penangguhan penerbangan dan penghentian semua moda transportasi karena merebaknya pneumonia Wuhan ini telah menimbulkan kerugian ekonomi India mencapai hampir USD. 4,64 miliar setiap harinya. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular