Ray Walsh, seorang ahli privasi digital di ProPrivacy, mengatakan kepada The Epoch Times,“Tidak diragukan lagi bahwa pemerintahan Tiongkok memahami media sosial memberikan potensi yang sangat kuat untuk menyebar informasi sesat. Potensi virus ini untuk menyebarkan informasi sesat adalah menjadikan media sosial sebagai alat yang sangat berguna, untuk menyebarkan berita palsu serta menyebabkan perselisihan dan kebingungan.”

Ray Walsh mengatakan Komunis Tiongkok juga cenderung berusaha “untuk meyakinkan rakyatnya sendiri”—bukan hanya rakyat negara lain — dengan berusaha menyemai konspirasi bahwa virus itu berasal dari Amerika Serikat.

Rakyat di Tiongkok tidak memiliki akses ke platform media sosial ini dan terus-menerus dicekoki propaganda oleh rezim komunis di sana. Meskipun narasi yang didorong oleh Komunis Tiongkok dapat berubah dengan cepat, namun tujuannya adalah sama: untuk membelot tanggung jawab  Komunis Tiongkok atas penanganannya yang gagal terhadap virus Komunis Tiongkok. Selain itu, untuk menggambarkan citra positif bahwa Komunis Tiongkok telah berhasil mengendalikan wabah.

Anggota parlemen Amerika Serikat menyerukan di Twitter untuk melarang pejabat partai Komunis Tiongkok dari platform media sosial. Sedangkan sekelompok senator Amerika Serikat menyerukan penciptaan gugus tugas baru untuk secara langsung melawan propaganda tersebut.

“Propaganda tersebut tidak terlalu mengejutkan, meskipun keberanian adalah mengejutkan,” kata Walter Lohman, merujuk pada informasi sesat. “Tiongkok telah lama memiliki tugas perang politik, terus-menerus melawan Taiwan, Tibet, Uighur, Falun Gong, dan musuh lainnya yang dirasakan oleh negara Tiongkok.”

Ada sejumlah alasan potensial, mengapa Amerika Serikat menjadi target utama propaganda Komunis Tiongkok. Negara Barat lainnya, seperti Italia, baru-baru ini juga menjadi target media yang dikelola pemerintah Tiongkok, tetapi tingkat yang lebih rendah.

Amerika Serikat dipandang oleh Tiongkok sebagai pesaing utamanya, sebagaimana yang dikatakan oleh Walter Lohman. Tiongkok juga “cenderung terlibat dalam apa yang dianggapnya sebagai masalah perilaku” dalam perang dagang Tiongkok dengan Amerika Serikat, yang telah “menyerang pilar penting legitimasi rezim Komunis Tiongkok.”

Alasan lain adalah bahwa Donald Trump berulang kali menyebut Tiongkok sebagai sumber virus  Komunis Tiongkok, yang muncul di Wuhan pada bulan Desember 2019, dan Beijing bermaksud menghindari tanggung jawab, sebagaimana dikatakan oleh Walter Lohman.

Dalam beberapa minggu terakhir, rezim Komunis Tiongkok mengklaim tidak ada kasus baru. Komunis Tiongkok juga menuduh bahwa kini Tiongkok menghadapi ancaman yang lebih besar — ​​infeksi yang didatangkan dari luar negeri. 

Namun demikian, serangkaian dokumen internal pemerintah Tiongkok yang diperoleh oleh The Epoch Times menunjukkan situasi di kota Wuhan adalah jauh lebih buruk dari apa yang telah dilaporkan secara resmi. Para warganegara Tiongkok juga menggambarkan realitas yang berbeda di lapangan.

Share

Video Popular