oleh Liu Yi

Baru-baru ini, negara-negara seperti Vietnam telah mengumumkan larangan mengekspor biji-bijian. Tiongkok sebagai salah satu negara pengimpor biji-bijian terbesar di dunia telah membuat dunia luar khawatir, apakah krisis pangan akan terjadi di negara tersebut. Meskipun Beijing mengklaim bahwa pasokan pangan mereka tidak bermasalah. Namun, ada media Hongkong yang menyebutkan bahwa hasil panen pangan tahunan di daratan Tiongkok mungkin saja bisa  memenuhi kebutuhan jatah pangan rakyat. Akan tetapi jika ditambah dengan biji-bijian yang dibutuhkan industri, maka jelas tidak cukup.

Baru-baru ini, penyebaran virus komunis Tiongkok atau pneumonia Wuhan sedang merebak secara global. Sementara itu, beberapa negara sedang terserang hama belalang. Banyak negara telah berhenti mengekspor bahan pangan. 

Sebagai salah satu konsumen dan importir bahan pangan terbesar di dunia, apakah Tiongkok mengalami krisis pangan ? Masalah tersebut telah menarik perhatian dunia. Namun, beberapa ahli di daratan Tiongkok mengklaim bahwa pasokan biji-bijian di Tiongkok cukup aman.

Stok biji-bijian untuk industri di Tiongkok mengkhawatirkan

Menurut berita ‘wallstreetcn.com’ pada 3 Maret, Cheng Guoqiang, seorang profesor dari Universitas Tongji mengatakan dalam sebuah wawancara dengan media Tiongkok bahwa jika pandemi global ini masih belum dapat dikendalikan secara efektif, maka potensi memicu krisis pangan global sangat tinggi. Akan tetapi, tidak akan terjadi kehabisan persediaan pangan di daratan Tiongkok.

Wang Liaowei, seorang ekonom senior di Pusat Informasi Biji-Bijian dan Minyak Nasional Tiongkok atau China National Grain and Oils Information Center mengatakan, pada 28 Maret bahwa pasokan dan permintaan biji-bijian Tiongkok secara keseluruhan masih longgar.

Selain itu, dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan pangan harian masyarakat, juga masih mampu secara efektif menghadapi bencana alam besar atau peristiwa darurat yang mungkin muncul.

Sebuah artikel yang dimuat di Hongkong Economic Times pada 30 Maret menyatakan bahwa, meskipun komunis Tiongkok menyatakan bahwa stok pangan selain mencukupi konsumsi rakyat bahkan berlebih. Tetapi cukup dikonsumsi tidak berarti cukup dipakai.

Alasan mengapa Tiongkok mengimpor sejumlah besar biji-bijian setiap tahun, adalah karena ada kesenjangan besar dalam biji-bijian yang digunakan sebagai bahan baku untuk produk industri. Misalnya, jagung impor tidak hanya digunakan untuk pemrosesan pakan, tetapi juga untuk produksi alkohol medis. Hal lain yang menjadikan tidak cukup adalah masalah struktural pada biji-bijian Tiongkok, yaitu : 

Pertama, harganya lebih mahal daripada pasar internasional, sehingga ada yang memilih biji-bijian impor. 

Kedua, biji-bijian yang bermutu tinggi perlu diimpor. 

Ketiga, Kekurangan stok yang bersifat regional, seperti Guangdong, perlu mengimpor beras dalam jumlah besar dari Thailand dan Vietnam.

Oleh karena itu, ada dua masalah dengan persediaan pangan Tiongkok : Pertama, dampak ganda yang datang dari luar negeri, ketika belalang menyerang Afrika, India dan Pakistan. Tidak jelas apakah masih akan ada bencana alam di kemudian hari.

Pada saat yang sama, epidemi telah memberikan dampak terhadap produksi dan penjualan. Penerapan kontrol ekspor oleh negara penghasil biji-bijian, telah melambungkan harga pangan internasional.

Selain itu, dampak yang timbul dari dalam negeri Tiongkok. Apakah produksi biji-bijian Tiongkok terpengaruh oleh wabah. Karena itu, baru dapat diketahui nanti setelah musim semi dan musim tanam berakhir. Bahkan, hanya bisa menarik kesimpulan setelah stok biji-bijian musim panas keluar.

Namun, stok pangan Tiongkok tahun ini menghadapi ancaman bencana alam, penyakit karat strip gandum telah ditemukan di 9 provinsi. Ini memengaruhi panen lebih dari 13 juta hektar ladang gandum. Ini adalah kejadian paling parah dalam 10 tahun terakhir.

Pertemuan Ahli dan Pengawasan Pedesaan dan Pertanian Tiongkok menyimpulkan bahwa, hama dan penyakit tanaman utama Tiongkok tahun ini cenderung memberikan dampak lebih berat daripada tahun lalu.

Dunia luar menduga komunis Tiongkok berbohong, krisis pangan mungkin muncul

Meskipun pihak berwenang komunis Tiongkok terus mengklaim bahwa persediaan pangan mencukupi, tetapi beberapa orang di industri pangan bersikap skeptis.

Menurut data resmi dari komunis Tiongkok yang dikutip dalam ‘Krisis Pangan dan Masalah Tanah untuk Budidaya di Tiongkok’ yang dipublikasikan di media online ‘GNews’ menyebutkan bahwa, total produksi biji-bijian Tiongkok pada tahun 2019 adalah 660 juta ton.

Sebaliknya, Amerika Serikat dan India yang memiliki tanah subur dan hasil panen lebih tinggi daripada Tiongkok, masing-masing hanya menghasilkan panen biji-bijian 500 juta ton dan 240 juta ton.

Mengingat komunis Tiongkok selalu bermain dengan angka, dunia luar memperkirakan bahwa hasil panen tahunannya paling-paling mencapai 350 juta ton. Sedangkan kebutuhan yang tidak terpenuhi digantungkan pada impor.

Selain itu, menurut data resmi yang disajikan komunis Tiongkok, kebutuhan pangan Tiongkok pada dasarnya tidak mungkin dihasilkan dari swasembada seperti yang diklaimnya.

Meskipun data menunjukkan bahwa kebutuhan biji-bijian per kapita Tiongkok telah mencapai 470 kg, tetapi sekitar 55% tidak digunakan untuk makanan. Termasuk hampir 30% digunakan sebagai bahan baku industri, sehingga hanya tinggal sekitar 207 kg yang digunakan untuk konsumsi manusia, yang jauh di bawah standar 400 kg per kapita sebagaimana ditetapkan oleh FAO.

Para ahli memperkirakan, bahwa impor biji-bijian aktual Tiongkok mungkin 2 kali lipat dari 200 juta hingga 300 juta ton yang dilaporkan secara resmi.

Beberapa ahli telah memperingatkan, bahwa wabah pneumonia komunis Tiongkok telah menyebabkan kepanikan. Sedangkan negara-negara di seluruh dunia berusaha untuk menimbun bahan pangan untuk kebutuhan darurat. Jika negara lain tidak lagi mengekspor atau Tiongkok tidak mendahului membeli, maka stok pangan Tiongkok akan terancam.

Virus Komunis Tiongkok Berpengaruh Besar, Banyak Negara Melarang Ekspor Biji-bijian

Pada 28 Maret, Neveen Gamea, Menteri Perdagangan dan Industri Mesir mengatakan bahwa mulai 28 Maret, Mesir menghentikan ekspor berbagai produk biji-bijian selama 3 bulan ke depan.

Kementerian Perdagangan dan Industri Mesir menyebutkan, bahwa keputusan tersebut merupakan langkah yang diambil dalam kerangka rencana ekonomi komprehensif. Yang mana disetujui oleh pemerintah dan merupakan bagian dari langkah-langkah preventif Mesir, tak lain untuk menangani dampak pneumonia komunis Tiongkok saat ini.

Pada awal pekan lalu, Vietnam, negara pengekspor beras terbesar juga mengumumkan menghentikan ekspor beras mulai 24 Maret 2020. 

 Selain itu, di Asia Tengah, Kazakhstan, salah satu negara pengekspor gandum terbesar di dunia juga melarang mengekspor gandum, gula, kentang, dan wortel. Di Eropa, Serbia telah menghentikan ekspor minyak bunga matahari dan beberapa produk pertanian lainnya, Rusia juga mengatakan akan melakukan peninjauan mingguan terhadap ekspor biji-bijian mereka. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular