Pemerintah India pada hari Selasa 13 April 2020 mengumumkan memperpanjang pemberlakukan lockdown secara nasional di negara yang berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu hingga  3 Mei 2020 mendatang.

oleh Reuters

Perdana Menteri Narendra Modi dikutip Reuters menegaskan pengorbanan ekonomi diperlukan untuk menyelamatkan jiwa. Pasalnya, jumlah kasus virus Komunis Tiongkok atau Virus Wuhan  di negara itu sudah melebihi 10.000 kasus.

Negara itu merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi setelah titik pandemi mengakibatkan melonjaknya angka pengangguran. Akan tetapi, Modi mendesak rakyatnya untuk mempertahankan disiplin  dalam tiga minggu pertama lockdown.

 “Itu berarti sampai 3 Mei, kita masing-masing harus tetap dalam kondisi lockdown,” kata Modi dalam siaran televisi nasional India.

Ia mengatakan, ketika dilihat hanya semata dari sudut pandang ekonomi tidak diragukan lagi terlihat mahal. Akan tetapi, jika dinilai kepada kehidupan warga negara India, maka tak bisa diperbandingkan sama sekali.

Baru-baru ini di Mumbai, ribuan pekerja migran yang menganggur berkumpul di sebuah stasiun kereta api. Mereka menuntut agar diizinkan mudik ke kampung halaman mereka.

 “Karena kereta api dan bus tidak beroperasi, mereka membuat keributan. Untuk membubarkan mereka, terpaksa menggunakan tongkat,” kata seorang pejabat senior polisi India.

Ratusan ribu warga India keluar dari kota-kota besar ke kampung mereka di pedesaan. Itu ketika Modi mengumumkan Lockdown pada bulan lalu. Bahkan, banyak warga yang nekat jalan kaki dengan keluarga mereka di jalan raya yang kosong.

 Seperti India, Pakistan dengan penduduk 205 juta jiwa, turut memperpanjang lockdwon, yang akan berakhir pada hari Rabu 15 April ini. Lockdown Kembali diberlakukan hingga dua minggu mendatang.

Sedangkan, Nepal memperpanjang Lockdown di negara dengan penduduk 30 juta jiwa hingga 27 April 2020. Adapun, Nepal memiliki 16 kasus virus dan tidak ada kematian. Akan tetapi khawatir limpahan kasus dari India.

 Test Massal

Meskipun sejumlah yang terinfeksi di India sangat kecil dibandingkan dengan beberapa negara Barat, para ahli kesehatan khawatir itu dikarenakan rendahnya tingkat test India. Ahli memperkirakan tingkat infeksi aktual bisa jauh lebih tinggi. Karena tidak memiliki alat uji dan peralatan pelindung untuk pekerja medis, India hanya menguji 137 per juta penduduknya, dibandingkan dengan 15.935 per juta di Italia, dan 8.138 di Amerika Serikat.

Pakar kesehatan sudah memperingatkan bahwa meluasnya penularan dapat menjadi bencana di negara di mana jutaan orang tinggal di daerah kumuh yang padat. Ditambah dengan sistem perawatan kesehatan yang terlalu padat.

 Menurut laporan pemerintah, India hanya memiliki sekitar satu dokter per 1.500 warga. Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan satu dokter per 1.000 warga.

 Di daerah pedesaan, tempat dua pertiga penduduk India tinggal, rasionya adalah seorang dokter dengan lebih dari 10.000 orang.

 Sejauh ini, lebih dari tiga perempat kasus India terkonsentrasi di sekitar 80 dari lebih dari 700 distrik negara itu, termasuk New Delhi dan Mumbai.

 “Ini adalah permintaan dan doa saya kepada semua warga negara, agar kita tidak membiarkan coronavirus menyebar ke daerah baru,” kata Modi.

 Meski demikian terhentinya kegiatan ekonomi senilai 2,9 triliun dolar AS  itu memakan banyak korban.

 Sejak lockdown dimulai pada akhir Maret, pengangguran hampir dua kali lipat menjadi sekitar 14,5 persen, menurut Pusat Pengawasan Ekonomi India, sebuah think-tank swasta yang berbasis di Mumbai.

 Lockdown di India sudah memicu eksodus jutaan pekerja dari industri kecil seperti tekstil dan industri jasa seperti ritel, pariwisata, konstruksi dan sektor lainnya dari kota ke desa.

 “Saya sangat menyadari masalah yang Anda hadapi — beberapa untuk makanan, beberapa untuk perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, dan lainnya karena menjauh dari rumah dan keluarga,” kata Modi.

Perdana Menteri India itu menawarkan pembatasan di bagian negara yang bukan hot spot virus mungkin sedikit berkurang pada minggu depan.

Mantan menteri keuangan India, P. Chidambaram mengatakan bahwa sementara negara itu berdiri di belakang Modi dalam memerangi pandemic. Ia yakin Modi bisa berbuat lebih banyak untuk membantu masyarakat miskin.

 “Ada uang, ada makanan, tetapi pemerintah tidak akan mengucurkan uang atau makanan,” katanya.

 Sebagian besar ekonom swasta dan Bank Dunia telah merevisi penurunan perkiraan pertumbuhan India untuk tahun ini menjadi antara 1,5 persen dan 2,8 persen karena pandemi.

 Barclays Bank pada hari Selasa lalu memperkirakan pertumbuhan nol pada tahun ini.

 Angka resmi pemerintah tentang penyebaran virus Komunis Tiongkok di Asia Selatan adalah sebagai berikut:

 India memiliki 10.363 kasus yang dikonfirmasi, termasuk 339 kematian

 Pakistan memiliki 5.374 kasus, termasuk 93 kematian

 Bangladesh memiliki 803 kasus, termasuk 39 kematian

 Afghanistan memiliki 714 kasus, termasuk 23 kematian

 Sri Lanka memiliki 219 kasus, termasuk 7 kematian

 Maladewa memiliki 20 kasus dan tidak ada kematian

 Nepal memiliki 16 kasus dan tidak ada kematian

 Bhutan memiliki lima kasus dan tidak ada kematian

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular