Pemerintahan komunis Tiongkok menginstruksikan kepada seluruh masyarakat di Tiongkok untuk segera kembali berproduksi. Namun demikian, banyak daerah karena dampak epidemi, perusahaan-perusahaan dihadapkan pada kenyataan bisnis suram. Ditambah dengan pembatalan besar-besaran pesanan hasil produksi. Dalam situasi lenyapnya pesanan dan kesulitan tenaga kerja, membuat pengusaha tidak tertarik untuk kembali berproduksi

 oleh Chen Han

Zhejiang Yiwu International Trade City, dahulu pernah dikenal sebagai Supermarket Dunia. Ia  memiliki koneksi dengan lebih dari 2 juta usaha kecil dan menengah di Tiongkok. Zhejiang Yiwu juga memiliki produk-produknya yang diekspor ke 219 negara dan wilayah di seluruh dunia. Perusahaan itu merupakan jendela penting bagi perdagangan luar negeri Tiongkok.

Karena dampak epidemi, Kota Yiwu yang semula ramai sekarang sudah mengalami krisis serius. Video yang beredar di Internet menunjukkan bahwa lalu lintas dari dan ke pelabuhan Yiwu yang dulunya padat, sekarang lengang, hanya menyisakan beberapa truk pengangkut barang.

He Junqiao, seorang cendekiawan di bidang keuangan dan pengamat perdagangan Tiongkok mengatakan :  “Hampir semua pekerjaan di Tiongkok, 80% dari tenaga kerja bekerja di perusahaan swasta, perusahaan asing, bukan di perusahaan milik negara maupun  perusahaan pusat. Oleh karena itu, begitu pesanan lenyap, banyak usaha kecil ikut tutup. Karena epidemi ini, banyak orang tidak memperoleh pekerjaan. Pekerjaan hilang lagi setelah adanya upaya untuk mengaktifkan kembali kegiatan, salah satu penyebabnya adalah epidemi dan yang lainnya karena kondisi ekonomi yang buruk. Beberapa orang tidak dalam situasi yang  baik, sangat buruk”.

Selain itu, banyak perusahaan dagang dengan luar negeri yang khusus menangani produk seperti pakaian jadi, sepatu, topi, dan pengolahan tekstil juga menghadapi krisis. 

Baru-baru ini, banyak pemberitahuan tentang perusahaan sedang libur atau perusahaan menghentikan kegiatan beredar di Internet, sebagian besar pemberitahuan itu berlaku mulai 1 April hingga akhir bulan Juli. Namun demikian, beberapa pengumuman perusahaan sedang libur bahkan tidak  memberitakan soal batas waktunya.

Dari pemberitahuan penangguhan kegiatan perusahaan yang diunggah oleh netizen, dapat dilihat bahwa beberapa pabrik telah menghentikan semua perekrutan tenaga kerja sejak bulan Maret lalu dan PHK terus berjalan. 

Pada saat yang sama serangkaian subsidi kesejahteraan yang diberikan perusahaan kepada karyawan telah ditiadakan.

Mr. Xi, warga Hunan memperkirakan, bahwa perusahaan swasta di Tiongkok yang pailit tahun ini akan menjadi hal yang umum. Hal demikian terutama perusahaan yang bergerak di bidang ekspor. Dampak terhadap mereka lebih besar.

Mr. Xi mengatakan : “Misalnya, aliran harian orang, termasuk volume penjualan harian yang mungkin tidak cukup untuk mendukungnya untuk melanjutkan usahanya. Beginilah industri nyata tahun ini, Sepi. Begitulah respons semuanya. Lalu semua orang terpaksa menurunkan harapan mereka. Jadi tujuan tahun 2020 ini adalah asal bisa bertahan hidup, tidak ada cara lain”.

Selain itu, di bawah tekanan pihak berwenang yang menghendaki perusahaan lokal untuk segera melanjutkan aktivitas usaha, gedung pabrik Shaoxing Guanghao Machinery Technology Co, Ltd yang terletak di Provinsi Zhejiang mengalami kebakaran. Namun demikian, banyak netizen curiga bahwa itu merupakan upaya perusahaan untuk “memperpanjang umur dengan mengamputasi lengan”.

He Junqiao mengatakan : “Epidemi belum sepenuhnya mereda, tetapi sudah diperintahkan untuk melanjutkan aktivitas bisnis, karena daya tahan ekonomi Tiongkok sudah tidak ada. Ini adalah dilema. Setiap orang butuh makan. Jika mereka tidak pergi bekerja, banyak orang tidak bisa makan, jadi situasinya sangat sulit, sangat sulit”.

He Junqiao menyebutkan bahwa, jatuhnya sejumlah besar perusahaan dalam negeri sekarang menjadi bencana bagi ekonomi Tiongkok. Disebutkan juga ekonomi Tiongkok tidak dapat terlepas dari ekonomi dunia. 

“Mobil tidak dapat dibuat dalam ruang yang tertutup’. Ini tidak mungkin. Jika ekonomi Tiongkok dan Amerika dipisahkan, ekonomi Jepang dan Tiongkok dipisahkan, dan negara-negara lain menindaklanjuti, maka ekonomi Tiongkok akan hancur. 

Ia menambahkan,  karena ratusan juta pekerja migran Tiongkok kehilangan pekerjaan, lalu pulang ke kampung halaman mereka untuk bertani. Katakan saja luas pedesaan Tiongkok adalah 2 miliar mu, 1,4 miliar orang penduduk, berapa banyak tanah per kapita yang dapat dikelola ? Rasanya untuk menghidupi diri sendiri saja susah. Jika demikian maka itu adalah bencana yang mematikan.”

Beberapa ahli memperkirakan bahwa sekitar 200 juta orang di daratan Tiongkok menghadapi risiko kehilangan pekerjaan, hal demikian sebagai akibat dari penurunan ekonomi oleh tekanan epidemi. Masalah pengangguran akan menyebabkan tekanan besar dan ketidakstabilan bagi seluruh masyarakat, membuat upaya komunis Tiongkok memelihara stabilitas menjadi kontraproduktif. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular