Tom Ozimek

Jumlah klaim pengangguran awal yang diajukan di seluruh Amerika Serikat  setiap minggu — data kesehatan ekonomi yang paling tepat waktu — melonjak menjadi 6.606.000. Jumlah tersebut hanya sedikit lebih rendah dari rekor 6,9 juta klaim yang diajukan selama minggu sebelumnya, menurut Departemen Tenaga Kerja AS. (pdf).

Jumlah klaim pengangguran minggu sebelumnya direvisi naik 219.000 menjadi 6.867.000 dari 6.648.000.

Ekonom yang disurvei oleh Reuters mengatakan, mereka memperkirakan klaim pengangguran selama seminggu yang berakhir tanggal 4 April mencapai 5,3 juta, sementara beberapa ekonom memperkirakan setinggi 9,3 juta.

“Angka-angka suram ini menyatakan laporan pekerjaan bulan April yang memecahkan rekor,” kata Beth Ann Bovino, kepala ekonom Amerika Serikat di Global Ratings di New York.

Beth Ann Bovino mengatakan, kini Amerika Serikat berada dalam resesi, dan tampaknya semakin parah, pertanyaannya adalah berapa lama untuk memulihkan ekonomi Amerika Serikat. 

Angka-angka pengangguran tanggal 9 April adalah melonjak tinggi hampir bersejarah bagi Amerika Serikat, sebesar hampir 10 kali rekor krisis pra-COVID-19 dari 695.000, pada tahun 1982. 

Klaim baru tersebut membawa jumlah orang Amerika Serikat yang mencari tunjangan pengangguran dalam tiga minggu terakhir menjadi lebih dari 16,8 juta.

Departemen Tenaga Kerja mengeluhkan lonjakan pengangguran saat pandemi. “Virus COVID-19 terus memengaruhi jumlah klaim awal dan dampak virus COVID-19  juga tercermin dalam meningkatnya angka pengangguran yang diasuransikan,” kata Departemen Tenaga Kerja AS. 

Angka pengangguran awal adalah 5,1 persen untuk minggu yang berakhir pada tanggal 28 Maret, peningkatan 3,0 poin persentase dari minggu sebelumnya dari tarif yang tidak direvisi, demikian Departemen Tenaga Kerja AS menyatakan.

Anjloknya ekonomi yang semakin parah, hampir pasti menandakan dimulainya resesi global, dengan kehilangan pekerjaan yang mirip dengan yang dialami orang-orang saat Resesi Hebat lebih dari satu dekade lalu.

Sekitar 95 persen populasi Amerika Serikat kini diperintah untuk tetap berada di rumah, dan banyak pabrik, restoran, toko, dan bisnis lainnya ditutup atau menyaksikan penjualan yang merosot.

“Saya sangat kecewa, tidak tahu apa yang akan terjadi terjadi,” kata Laura Wieder, yang diberhentikan dari pekerjaannya mengelola bar olahraga yang kini ditutup di Bellefontaine, Ohio.

Rencana undang-undang bantuan darurat senilai  2,2 triliun dolar AS ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden Donald Trump pada tanggal 27 Maret, memberikan negara-negara bagian lebih banyak fleksibilitas untuk memperpanjang kompensasi pengangguran.

Undang-Undang Bantuan, Pemulihan  dan Keamanan Ekonomi Akibat Coronavirus mengembangkan kemampuan negara-negara bagian untuk menyediakan asuransi pengangguran bagi banyak pekerja yang terkena dampak pandemi COVID-19, termasuk untuk pekerja yang biasanya tidak berhak atas tunjangan pengangguran, seperti kontraktor independen. Banyak ekonom percaya masih ada lagi kemerosotan pasar tenaga kerja.

“Pasar tenaga kerja telah memasuki masa traumatis. Kami memperkirakan angka pengangguran melonjak hingga 14 persen di bulan April,” kata Gregory Daco, kepala ekonom Amerika Serikat di Oxford Economics di New York.

 “Tidak Jatuh Bebas “

Berbicara di Face the Nation pada tanggal 5 April, St. Louis Federal Reserve President, James Bullard mengatakan ia tidak percaya ekonomi atau pasar pekerjaan Amerika Serikat “jatuh bebas” di tengah pandemi.

 “Kami meminta orang untuk tinggal di rumah untuk berinvestasi dalam kesehatan nasional. Penyerapan program asuransi pengangguran adalah hal yang baik karena hal itu berarti anda mentransfer ke orang-orang yang sedang terganggu oleh karantina demi kesehatan ini,” kata James Bullard.

 Fed Distrik St. Louis pada akhir bulan Maret memperkirakan, sekitar 47 juta orang Amerika Serikat dapat kehilangan pekerjaan karena kejatuhan ekonomi yang didorong oleh virus, yang akan membawa angka pengangguran menjadi sekitar 32 persen.

James Bullard mengatakan kepada radio Bloomberg pada tanggal 30 Maret, bahwa ia memperkirakan pengangguran dalam kisaran antara 10 dan 42 persen. Ia menambahkan bahwa  mengharapkan ekonomi akan pulih tajam setelah virus dikalahkan.

Goldman Sachs baru-baru ini memperkirakan penurunan 9 persen dalam jumlah Produk Domestik Bruto untuk kuartal pertama dan 34 persen terjun di kuartal kedua.

“Penurunan besar dalam Produk Domestik Bruto ini adalah konsisten dengan 19,8 juta pekerjaan yang hilang pada bulan Juli, membawa angka pengangguran di seluruh Amerika Serikat semakin meningkat,” kata analis di lembaga pemikir yang berbasis di Washington mengomentari angka Goldman Sachs. Ia menambahkan perkiraannya sendiri yang mengerikan mengenai 20 juta pekerjaan hilang pada musim panas.

“Perkiraan kami adalah jauh lebih besar dari yang diperkirakan bahkan seminggu yang lalu, saat perkiraan tersirat 14 juta akan cuti atau diberhentikan,” demikian Economic Policy Institute (EPI) dalam catatan tanggal 1 April yang menyalahkan wabah COVID-19 telah memberangus pasar tenaga kerja.

“Pasar tenaga kerja semacam ini tanpa henti dalam waktu yang singkat tidak pernah terjadi,” kata Heidi Shierholz, seorang ekonom di Economic Policy Institute.

 Analis Bank of America memperkirakan angka yang sama. Dalam laporan yang dirilis pada tanggal 2 April, para analis memproyeksikan bahwa 16 juta hingga 20 juta pekerjaan akan hilang dalam beberapa bulan. Mereka memperkirakan pengangguran melonjak hingga lebih dari 15 persen, lebih buruk daripada angka selama resesi pada tahun 2007-2009.

Bank of America dan Goldman Sachs mengharapkan rebound tajam setelah pandemi mereda di Amerika Serikat.

 Ivan Pentchoukov dan Associated Press berkontribusi pada laporan ini.

(Vv/asr)

Video Rekomendasi : 

 

Share

Video Popular