Rezim Komunis Tiongkok pada 17 April 2020 secara resmi mengumumkan bahwa produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama turun 6,8% dari periode yang sama tahun lalu. Pada hari yang sama, Komunis Tiongkok mengadakan pertemuan Biro Politik Komite Pusat dan pertama kali mengusulkan “enam jaminan.” Jaminan itu diantaranya termasuk “menjamin pekerjaan bagi masyarakat” dan “menjamin mata pencaharian dasar atau pokok”. Beberapa ekonom memperkirakan bahwa pengangguran di Tiongkok mencapai lebih dari 200 juta orang, yang secara langsung mengancam mata pencaharian dasar warganya

 Mulan –  The Epoch Times –

 Direktur dari Kantor Riset Ekonomi Makro Global – Akademi Ilmu Sosial Tiongkok, Zhang Bin dan rekannya, mengatakan dalam artikel yang ditulisnya, bahwa epidemi virus Komunis Tiongkok (pneumonia Wuhan) telah menyebabkan kerusakan serius pada pasar pekerjaan perkotaan yang ada saat ini. Hingga akhir Maret 2020 lalu, masih ada 70 hingga 80 juta orang belum kembali bekerja, dan lebih dari 70% dari mereka adalah pekerja migran.

Artikel itu dipublikasikan di akun publik WeChat “The China Finance 40 Forum (CF40)” pada 18 April 2020. Artikel itu mengatakan bahwa ada 290 juta pekerja migran di Tiongkok, terutama tersebar di industri manufaktur, konstruksi, akomodasi dan katering, grosir dan eceran, layanan kependudukan dan industri jasa lainnya. Pekerjaan yang paling tidak terjamin dan penuh risiko kehilangan pekerjaan. 

Artikel itu juga menyebutkan bahwa pekerjaan baru di Tiongkok juga menghadapi tekanan besar, dan perlu menciptakan 11 juta pekerjaan baru setiap tahun untuk memenuhi kebutuhan kerja para siswa yang baru lulus dan petani yang beralih ke pekerjaan di perkotaan.

Pada akhir tahun lalu, Zhu Baoliang, kepala ekonom Pusat Informasi Nasional di bawah Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Partai Komunis Tiongkok, mengatakan kepada media: “Jika Tiongkok ingin memenuhi kebutuhan dasar lebih dari 8,7 juta lulusan perguruan tinggi dan lebih dari 3 juta penduduk pedesaan yang beralih pekerjaan di kota, maka Tiongkok perlu mempertahankan pertumbuhan ekonomi sekitar 6%. Jika tingkat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kurang dari 6%, dan tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan, maka masalah ketenagakerjaan akan memburuk.”

Namun, PDB Tiongkok yang baru diumumkan untuk kuartal pertama tahun 2020 turun 6,8% dari periode yang sama tahun lalu dan 9,8% dari bulan sebelumnya. Kemerosotan ekonomi Tiongkok semakin cepat, dan gelombang pengangguran yang membayangi adalah salah satu dari krisis yang meledak.

Sejak Maret 2020, perusahaan besar dan kecil membekukan karyawan dan cuti yang tidak dibayar.

Setelah pemulihan kerja pada akhir Februari 2020,  pada bulan Maret tersiar kabar banyak perusahaan membekukan karyawan dan cuti yang tidak dibayar serta mencabut subsidi kesejahteraan karena pengurangan pesanan atau pembatalan pesanan dari Eropa, Amerika dan Jepang.

Pada Februari 2020, Foxconn secara mendesak merekrut pekerja lini produksi dalam pemulihan kerja, menawarkan bonus 5.250 yuan / sekitar Rp. 11.5 juta per orang untuk menarik pekerja. Namun, seiring dengan penyebaran wabah virus Komunis Tiongkok, permintaan dari luar negeri dan pesanan anjlok. Dikabarkan bahwa Foxconn akan berhenti merekrut pekerja di Shenzhen, Zhengzhou dan sejumlah area industri lain sejak 18 Maret 2020.

Sepenggal video wawancara dari pabrik Foxconn di Zhengzhou pada 15 April lalu menunjukkan bahwa pekerja sekarang tidak perlu bekerja lembur, dan gaji bulanan turun menjadi lebih dari 1.000 yuan. Di masa lalu, gaji pokok dan upah lembur bisa mencapai 4.000 hingga 5.000 yuan per bulan. Banyak karyawan harus bekerja sampingan untuk menambah kebutuhan rumah tangga, dan beberapa orang yang tidak tahan terpaksa mengundurkan diri.

Shanghai Changshuo, yang juga merupakan produsen untuk ponsel Apple, sekarang tidak lagi bekerja lembur, dan karyawan hanya menerima gaji pokok sebesar 2.500 yuan atau sekitar Rp. 5.5 juta per bulan.

Produsen mainan yang didanai investor Hong Kong, Dongguan Fanta Toys Co., Ltd., yang memiliki lebih dari 1.200 karyawan, mengumumkan penutupan pabriknya pada 18 Maret dan saat ini masih menunggak upah karyawan.

Komunis Tiongkok memaksa perusahaan untuk tidak melakukan PHK, dan banyak orang menjadi pengangguran terselubung

Zhuhai Jinghao Electronics Co,Ltd, mengumumkan pada 8 April 2020 bahwa semua karyawan pabrik akan diliburkan selama setengah tahun dari 20 April hingga 8 Oktober 2020.

Pada 8 April 2020 lalu, Haier Hisense Group Co., Ltd mengklarifikasi rumor PHK, mengatakan bahwa laporan tentang Hisense yang mem-PHK 10.000 karyawan itu tidak benar, tetapi mengkonfirmasi bahwa perusahaan mengambil langkah-langkah personalia seperti penurunan gaji eksekutif dan eliminasi akhir.

Pada pertemuan rekrutmen yang diadakan oleh Talent Center di Taman Industri Suzhou pada 27 Maret, hanya sekitar 80 perusahaan yang yang merekrut. Pada periode yang sama tahun 2019, sekitar 150 perusahaan berpartisipasi dalam bursa kerja.

Sebuah survei terhadap lebih dari 7.000 pekerja yang diadakan “zhaopin.com”, sebuah jaringan rekrutmen Tiongkok pada pertengahan Maret lalu, menunjukkan bahwa lebih dari 60% responden mengalami penurunan gaji, keterlambatan pembayaran, atau tunggakan upah.

Selain itu, dalam dua bulan pertama tahun ini saja, lebih dari 100 perusahaan memberhentikan karyawan. 

Pada awal April lalu, tersiar kabar, bahwa Country Garden, sebuah perusahaan pengembangan properti yang berbasis di Guangdong, Tiongkok mem-PHK 30.000 karyawannya. Sehubungan dengan itu, orang dalam Country Garden mengatakan bahwa jumlah karyawan pada 2019 berkurang sekitar 29.000 dari akhir tahun sebelumnya, dan 25.000 di antaranya dirotasi.

Dewan Negara Partai Komunis Tiongkok berulang kali menekankan “menstabilkan lapangan kerja.”

Pendapat lebih lanjut untuk meningkatkan stabilitas lapangan kerja yang diterbitkan Dewan Negara Komunis Tiongkok pada 24 Desember tahun lalu, diantaranya tentang syarat dari norma dan perilaku perusahaan mem-PHK karyawannya. Itu dituding memaksa perusahaan untuk tidak melakukan PHK, dan sengaja menurunkan jumlah pengangguran, karena  mengurangi upah, mengurangi jam kerja, rotasi karyawan dan pelatihan di tempat kerja, hubungan tenaga kerja tetap harus dijaga. Tetapi bagi orang-orang ini, itu sama dengan pengangguran terselubung.

Pengangguran di Tiongkok mencapai lebih dari 200 juta orang, memberi dampak pada mata pencaharian dasar pekerja

Liu Chenjie, kepala ekonom dari Shenzhen Upright Asset Management co.,Ltd., mengatakan di majalah Caixin pada awal April 2020 lalu, bahwa imbas epidemi mungkin menyebabkan 205 juta pekerja Tiongkok kehilangan pekerjaannya, atau tingkat pengangguran lebih dari 25% dari 775 juta penduduk Tiongkok yang bekerja. 

Angka ini jauh lebih tinggi dari tingkat pengangguran 6,2% dalam survei perkotaan yang diumumkan otoritas Komunis Tiongkok pada bulan Januari dan Februari 2020, dan 5,9% pada bulan Maret.

Terbetik berita, bahwa data resmi Komunis Tiongkok hanya mencakup 442 juta pekerja perkotaan, tidak termasuk 290 juta pekerja migran yang lebih rentan terhadap fluktuasi ekonomi. Selain itu, Komunis Tiongkok hanya menggunakan sekitar 120.000 rumah tangga sebagai sampel dalam survei bulanannya, yang hanya menduduki 0,03% dari angkatan kerja perkotaan. Jelas ini menunjukkan distorsi dari data pengangguran Komunis Tiongkok.

Diperkirakan dalam dua bulan pertama tahun ini, jumlah orang di industri jasa yang belum kembali bekerja mencapai 220 juta orang. Ditambah dengan 30 juta pekerja yang tidak dapat bekerja kembali di perusahaan kecil dan menengah. 5 juta pekerja yang tidak dapat bekerja kembali di industri di atas ukuran yang ditentukan, semuanya mencapai hingga 260 juta orang tanpa pemulihan kerja kembali.

Situasi epidemi di Eropa dan Amerika Serikat masih belum jelas hingga saat ini, sementara ekonomi Tiongkok terpecah karena faktor-faktor seperti kehancuran rantai pasokan industri. 

Gelombang pengangguran kini sedang membayangi berbagai industri, dan secara langsung mengancam mata pencaharian pokok masyarakat luas. “Melanggar garis bawah mata pencaharian masyarakat” menjadi masalah terbaru rezim Komunis Tiongkok. (jon)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular