Laporan Zhao Ruoshui – HK.Epochtimes.com

Baru-baru ini, negara-negara dan pihak di seluruh dunia menyuarakan tudingan bahwa pemerintahan komunis Tiongkok menyembunyikan informasi epidemi. Sehingga memicu krisis global dan menuntut kompensasi.

Josh Hawley, senator republikan dari Missouri, Amerika Serikat, mengusulkan prosedur peradilan untuk para korban dari virus komunis Tiongkok pada 14 April 2020, menuntut rezim Komunis Tiongkok bertanggungjawab atas epidemi  yang kini sudah menjadi pandemi global.  

Jika RUU itu disahkan, Amerika Serikat akan mencabut kekebalan kedaulatan nasional Komunis Tiongkok. Selain itu, dapat menuntut komunis Tiongkok membayar kompensasi yang disebabkan penyembunyiannya atas informasi epidemi melalui hak litigasi individu. Akibat informasi epidemi yang ditutupi komunis Tiongkok, sehingga memicu pandemi global dan menyebabkan kerugian  pada negara-negara yang terkena dampaknya. Dengan membekukan properti pemerintah komunis Tiongkok, untuk memastikan RUU tersebut dapat dilaksanakan.

Pada saat yang sama, RUU ini memungkinkan Departemen Luar Negeri AS membentuk “Kelompok Kerja untuk Pengaduan Korban Virus  Komunis Tiongkok.” Bahkan, bisa, melakukan penyelidikan internasional terhadap cara-cara penanganan otoritas Komunis Tiongkok selama merebaknya wabah, dan menuntut kompensasi dari pemerintahan komunis Tiongkok.

Hawley mengatakan: “Ada bukti yang cukup menunjukkan bahwa Komunis Tiongkok telah membohongi dunia dan berperilaku buruk, menyebabkan virus itu meletus dari masalah medis regional, meledak menjadi epidemi yang menular secara global.”

Hawely juga berkata :  “Kita perlu meluncurkan penyelidikan internasional untuk sepenuhnya memahami komunis Tiongkok atas kerusakan dunia, agar para korban di Amerika Serikat dan negara-negara lain dapat menuntut kompensasi dari komunis Tiongkok dan  harus bertanggung jawab atas pandemi virus ini.”

 Inggris dan Prancis menindaklanjuti kecaman kepada Komunis Tiongkok 

Pada 16 April, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengatakan ada daerah abu-abu di Tiongkok yang menangani wabah virus itu. “Terjadi hal-hal yang tidak kita ketahui,” kata­nya kepada Financial Times.

Macron mengatakan, Jangan terlalu naif hingga mengatakan jauh lebih baik dalam menangani ini. Kami tidak tahu, jelas ada hal-hal yang terjadi yang tidak kita ketahui. Ia mengatakannya tentang manajemen wabah Tiongkok. Menurut Macron, Tidak mungkin bagi negara-negara dengan informasi bebas membandingkan dengan negara-negara yang tidak memiliki informasi seperti itu. 

Sementara itu, otoritas Inggris juga mengatakan secara blak-blakan. Pejabat sementara Perdana Menteri (PM) Inggris, Dominic Raab, mengatakan pada konferensi pers pada hari Kamis 16 April waktu setempat, bahwa Inggris dan sekutu akan mempertanyakan  Komunis Tiongkok tentang wabah epidemi: “Bagaimana awal mula terjadinya coronavirus itu, dan mengapa tidak dicegah pada waktunya?”

Raab mengatakan, setelah pande­mi  berakhir, hubungan per­dagangan Inggris dan Tiongkok tidak akan lagi berjalan normal. Pernyataan Raab itu merupakan sinyal sikap keras Inggris terhadap Beijing karena wabah korona menjadi berlarut-larut.

Media Inggris melaporkan bahwa seruan tuntutan kompensasi pada komunis Tiongkok, saat ini semakin meningkat. Beberapa warga di Inggris mengusulkan kompensasi sebesar US $ 3,7 triliun pada Komunis Tiongkok. Jika tidak, asetnya di luar negeri dari perusahaan milik negara Komunis Tiongkok  akan disita.

Demikian juga dengan pemerintah Kanada yang semakin marah terkait infomasi epidemi yang ditutupi Komunis Tiongkok. 

Irwin Cotler, mantan jaksa agung Partai Liberal yang berkuasa, meminta pemerintah Kanada menjatuhkan sanksi kepada pejabat Komunis Tiongkok yang ikut menutupi informasi epidemi, membekukan aset mereka, dan memberlakukan larangan perjalanan. John McKay, ketua Dewan Keamanan Nasional Kongres, juga menyatakan dukungannya.

Perdana Menteri Australia Morrison juga menyerukan tindakan terhadap Komunis Tiongkok. George Christensen, dan Alex Antic, anggota parlemen Australia di kamp koalisi yang berkuasa dengan Morrison, juga secara berturut-turut menuntut pemerintah Komunis Tiongkok untuk membayar kompensasi. Dalam sebuah wawancara dengan media konservatif, anggota parlemen Australia lainnya meminta pemerintah Australia untuk menyita aset perusahaan Komunis Tiongkok.

Menteri Dalam Negeri Australia Peter Dutton juga ikut bersuara lantang. Ia mengatakan bahwa Partai Komunis Tiongkok bertanggung jawab untuk menjelaskan bagaimana asal mula epidemi itu. Ia menyerukan harus mengungkapkan informasi yang relevan dan menerima penyelidikan internasional.

National Review dari majalah konservatif Amerika baru-baru ini mengatakan, bahwa terkait tuntutan kompensasi pada Komunis Tiongkok. Amerika Serikat harus meyakinkan negara-negara lain, dan menekan Beijing dalam bidang pertukaran akademik dan kerja sama ekonomi dan perdagangan. Majalah itu juga menyebut agar menyita aset perusahaan milik komunis Tiongkok di negara-negara sepanjang jalur OBOR untuk membayar kompensasi kerugian yang disebabkan oleh virus komunis Tiongkok.

Senada hal itu, Jim Banks, anggota parlemen AS juga mengusulkan bahwa untuk meminta pertanggungjawaban dan kompensasi dari Pemerintahan Komunis Tiongkok. Ia mengatakan AS bisa mempertimbangkan untuk tidak melunasi sebagian besar obligasi Treasury AS yang dibeli oleh Komunis Tiongkok.

 Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, virus Komunis Tiongkok telah memukul ekonomi Tiongkok. Dalam dua, tiga bulan, distribusi logistik terputus, pengangkutan bahan baku dan suku cadang terhenti, dan kegiatan ekonomi terhenti. 

Pada 17 April 2020, Biro Statistik Nasional  Komunis Tiongkok mengumumkan bahwa PDB triwulanan dari Januari hingga Maret 2020 turun 6,8% Year over year. Turun tajam dibandingkan dengan peningkatan 6,0% pada Oktober-Desember 2019, menunjukkan pertumbuhan negatif triwulanan pertama sejak 1992. 

(Catatan editor) Virus yang menyebabkan wabah pneumonia di Wuhan berasal dari Tiongkok yang di bawah kekuasaan Partai Komunis Tiongkok. Pemerintah komunis Tiongkok menyembunyikan kebenaran mengenai epidemi sehingga virus menyebar secara global. Baik warga Wuhan, Hubei, dan bahkan rakyat Tiongkok dan penduduk di seluruh dunia adalah korban. Rezim Komunis Tiongkok bukan Tiongkok, juga tidak mewakili Tiongkok. Oleh karena itu, virus yang muncul di bawah pemerintahan komunis Tiongkok itu diberi nama virus komunis Tiongkok. (Jon)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular