oleh Li Hangzhe

Di saat epidemi pneumonia komunis Tiongkok masih berkecamuk di seluruh dunia. masih banyak warga di daerah yang enggan untuk menggunakan masker saat berada di luar rumah. Mampukah masker secara efektif menghalangi penyebaran virus ? Peneliti dari berbagai negara sudah mulai mempelajari masalah ini.

Peneliti Jepang : Droplet berukuran mikro dapat menyebarkan virus

Baru-baru ini NHK Jepang memposting sebuah rekaman video dokumenter yang memperlihatkan tetesan atau droplet berukuran mikro yang dihasilkan selama seseorang bersin dan bercakap-cakap sangat mungkin untuk menjadi penghantar peyebaran virus.

Para peneliti menggunakan sinar laser dan kamera yang sangat sensitif untuk mendeteksi droplet yang dikeluarkan saat bersin. Layar instrumen menunjukkan bahwa setelah seseorang  bersin, droplet yang berukuran milimeter dengan cepat jatuh ke tanah. Ini berarti bahwa selama dua orang menjaga jarak tertentu, maka dapat dikatakan cukup aman untuk menghindari terkenanya tempelan dari agen penghantar infeksi utama itu. Namun demikian, masih banyak droplet ditandai dengan bintik berkedip dengan diameter kurang dari 10 mikron yang beterbangan atau mengambang di udara. Ini juga merupakan agen penghantar infeksi.

Dalam sebuah ruang tertutup berisikan 10 orang, sebagian besar droplet berukuran lebih besar yang dikeluarkan lewat sekali batuk seseorang, pada dasarnya akan jatuh ke tanah dalam waktu sekitar 1 menit, tetapi droplet berukuran mikron masih mengambang di udara dalam ruang tersebut meskipun sudah 20 menit.

Pakar Asosiasi Penyakit Menular Jepang Tateda Kazuhiro mengatakan bahwa meskipun 2 orang menjaga jarak tertentu, selama mereka berbicara masih ada kesempatan penularan virus. Terutama ketika berbicara dengan suara yang keras atau menghembuskan napas keras, karena pada saat itu banyak droplet berukuran mikro yang keluar. “Jika droplet terinfeksi itu terhirup oleh orang di sekitarnya, maka orang yang bersangkutan juga bisa terinfeksi”.

Teknik ‘Schlieren’ Jerman menunjukkan memakai masker dapat memblokir penyebaran virus

Sebuah perusahaan Jerman ‘LaVision’ pada 31 Maret mengeluarkan video, mereka menggunakan teknik Schlieren berorientasi latar belakang (Background Oriented Schlieren. BOS), untuk memantau bagaimana aliran udara di sekitar saat seseorang menghembus dan menarik nafas dengan memakai dan tidak memakai masker.

Melalui video dapat dilihat dengan jelas, hembusan udara seseorang saat berbicara dan bernafas dengan tanpa menggunakan masker. Jarak aliran udara secara signifikan lebih jauh daripada saat mengenakan masker. Ini membuktikan bahwa penggunaan masker oleh orang yang terinfeksi dapat secara efektif mengurangi risiko penyebaran virus.

Universitas Hongkong Membuktikan Masker Secara Efektif Mampu Memperlambat Penyebaran

Universitas Hongkong menerbitkan sebuah makalah di jurnal ilmiah top dunia ‘Nature’ yang menunjukkan bahwa masker bedah dapat secara efektif menghalangi penggunanya dari tebaran droplet dan aerosol yang dikeluarkan lewat batuk, berbicara atau bernafas dari orang yang terinfeksi virus.

Para peneliti merekrut sebanyak 246 orang pasien yang teruji telah terinfeksi virus corona musiman, virus influenza dan rhinovirus. Kemudian mereka diminta untuk bernapas secara alami dan batuk dengan dan tanpa memakai masker, dan mengumpulkan sampel dari napas yang dihembuskan oleh pasien-pasien tersebut untuk dianalisa jumlah virusnya.

Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah virus dalam sampel napas yang dikumpulkan dari pasien memakai masker bedah secara signifikan lebih sedikit daripada yang tanpa masker. Para peneliti percaya bahwa mengenakan masker sangat penting dalam upaya untuk menghalangi penyebaran virus komunis Tiongkok. (vv)

Catatan : Coronavirus jenis baru juga dikenal sebagai virus pneumonia Wuhan, disebut sebagai virus komunis Tiongkok rasanya lebih tepat karena virus itu berasal dari Tiongkok di bawah kekuasaan Komunis Tiongkok. Virus itu menyebar dengan cepat ke seluruh dunia karena otoritas komunis Tiongkok berupaya menutup-nutupi situasi epidemi yang terjadi di daratan Tiongkok.

Share
Tag: Kategori: NEWS SEHAT

Video Popular