Seorang ahli virologi Ceko yang mengembangkan cara sederhana untuk mendeteksi infeksi virus Komunis Tiongkok mendukung teori bahwa virus tersebut kemungkinan berasal dari sebuah laboratorium

oleh Petr Svab

Dr. Sona Pekova, seorang wanita ahli virologi di Laboratorium Tilia di Republik Ceko, mendapat perhatian media setelah ia mengungkap beberapa kasus virus Komunis Tiongkok, yang umumnya dikenal sebagai jenis Coronavirus baru, di negara kecil di Eropa tengah tersebut.

Sementara menolak gagasan bahwa virus Partai Komunis Tiongkok adalah senjata biologis, Dr. Sona Pekova mendukung gagasan bahwa virus Komunis Tiongkok mungkin lolos dari sebuah laboratorium.

Virus tersebut menyebar di pusat kota Wuhan di Tiongkok sekitar bulan November 2019, sebelum menyebar ke seluruh Tiongkok dan dunia karena rezim Tiongkok merahasiakan dan salah menatalaksana virus tersebut.

Pada tanggal 10 April, ada lebih dari 1,8 juta kasus virus yang dipastikan, yang menyebabkan penyakit COVID-19, dan lebih dari 112.000 kematian di seluruh dunia.  Republik Ceko, sebuah negara berpenduduk sekitar 10 juta orang, memiliki hampir 6.000 kasus infeksi yang dipastikan dan hampir 140 kasus kematian.

Laboratorium Dr. Sona Pekova mengembangkan cara baru untuk menguji virus tersebut, tetapi Kementerian Kesehatan Republik Ceko melarangnya melakukan uji itu dan mengeluarkan peraturan yang akan memakan waktu hingga satu tahun untuk memenuhi keinginan pihak laboratorium.

Publik menggalang dukungan setelah pemerintah Ceko menghadang uji baru Dr. Sona Pekova; para pejabat Ceko akhirnya mengalah.

Perselisihan itu diangkat oleh media Ceko dan sebuah petisi online yang meminta laboratorium itu untuk mencakup upaya pengujian dengan cepat mengumpulkan lebih dari 50.000 tanda tangan. Dalam waktu kurang dari dua minggu, Kementerian Kesehatan Republik Ceko melonggarkan peraturan itu dan mengizinkan laboratorium untuk melakukan uji.

Tim Dr. Sona Pekova fokus pada penyederhanaan uji untuk membuat uji yang lebih cepat dan lebih murah. Tim tersebut mencari bagian urutan genetik virus itu yang menjadi unik untuk uji itu, dan uji itu harus disesuaikan untuk hanya mencari urutan yang spesifik.

Dr. Sona Pekova memang menemukan satu bagian genom virus, yang  membawanya tidak hanya ke pengembangan uji, tetapi juga dengan hipotesis bahwa virus itu dibuat di sebuah laboratorium.

“Saya fokus pada bidang pengaturan virus (5′ UTR) — 265 basa pertama dari genom virus (bahkan sebelum gen struktural) dan urutan pengatur ini demikian unik sehingga saya tidak dapat membayangkan cara alami asal virus tersebut,” kata Dr. Sona Pekova kepada The Epoch Times Republik Ceko melalui email.

5′ UTR, atau “lima wilayah utama yang tidak diterjemahkan,” adalah mirip markas besar virus, menurut Dr. Sona Pekova.

“Pusat pengatur virus ini bertanggung jawab atas semua fungsi kehidupan virus (terutama replikasi virus — yang sangat besar — ​​dan transkripsi  gen struktural hilir virus, yang kemudian bertanggung jawab untuk perlekatan sel dan kemungkinan fenomena yang diamati lainnya),” kata Dr. Sona Pekova.

Meskipun coronavirus adalah rentan terhadap mutasi, “markas” untuk setiap kelompok adalah tetap sama dan jika bermutasi, maka virus tersebut pasti mendapatkan semacam keuntungan, kata Dr. Sona Pekova dalam sebuah wawancara, yang diterbitkan pada bulan Maret oleh Leontynka, perusahaan produksi media Ceko.

Namun, saat melihat bagian 5′ UTR virus Komunis Tiongkok, Dr. Sona Pekova menemukan banyak mutasi.

“Untuk virus ini, di markas besar, sepertinya seseorang masuk ke dalam markas besar tersebut, membuka lemari, membuang semuanya, membalik kursi. Dan jika ini adalah varian alami, akan sulit bagi seseorang untuk membayangkan mutasi yang begitu luas — berbagai sisipan, penghapusan, [mutasi] basa-tunggal —dapat terjadi secara acak dan virus tidak akan mati dalam proses tersebut. Setidaknya hal ini adalah tidak khas,” kata Dr. Sona Pekova.

Dr. Sona Pekova memiliki karir yang cemerlang, menerbitkan puluhan makalah di bidang mikrobiologi dan genetika molekuler. Kloning gen yang bermutasi bagaikan “roti dan mentega” baginya, kata Dr. Sona Pekova.

Berdasarkan latar belakang penelitiannya, ia memperhatikan sifat 5′ UTR yang tidak biasa pada virus Partai Komunis Tiongkok.

Laboratorium atau Alam?

Teori asal laboratorium menjadi terkenal sebagian karena fakta bahwa Wuhan memiliki satu-satunya laboratorium hayati di Tiongkok yang memiliki sertifikasi untuk bekerja dengan patogen yang paling berbahaya seperti Ebola atau SARS.

Penjelasan awal rezim Tiongkok – bahwa virus tersebut berasal dari pasar basah di Wuhan — telah dirusak oleh penelitian yang menunjukkan banyak pasien awal tidak memiliki koneksi ke pasar tersebut.

Sementara beberapa ahli virologi sebelumnya menunjuk ke fitur genom virus i Komunis Tiongkok yang tidak biasa dapat mengarah virus tersebut berasal dari laboratorium, tampaknya para ahli setuju bahwa diperlukan lebih banyak informasi untuk memastikan di mana virus itu berasal.

Perbandingan genetik menunjukkan bahwa di antara Coronavirus yang dikenal, virus Komunis Tiongkok adalah yang paling mirip dengan beberapa strain yang ditemukan pada kelelawar dan trenggiling. 

Namun, kemiripan tersebut adalah tidak cukup mirip, menunjukkan ada kaitan yang hilang.

Jika virus itu berasal dari binatang, mungkin ada spesies lain bagi virus itu untuk melompat dari kelelawar atau trenggiling sebelum melompat ke manusia. Dalam hal itu, binatang-binatang ini masih dapat menyebarkan virus tersebut. Namun, pihak berwenang Tiongkok tidak berminat untuk menguji binatang liar di wilayah Wuhan dan jika Tiongkok sedang melakukan uji tersebut, hasilnya tidak dirilis.

Memang, kurangnya transparansi telah menjadi salah satu keluhan utama penanganan wabah Partai Komunis Tiongkok.

Dr. Sona Pekova menyatakan teknologi genetika dapat bermasalah di negara-negara seperti Tiongkok, mencatat kejadian tahun 2018 yang melibatkan seorang ilmuwan Tiongkok yang membantu menghasilkan bayi yang dimodifikasi secara genetis. Ilmuwan tersebut dijatuhi hukuman tiga tahun di penjara dan secara terbuka mengakui kejahatan itu, kata Dr. Sona Pekova.

“Saya dapat membayangkan banyak sekali ilmuwan di sana, siapa yang melakukannya dan tidak mengakuinya. Jadi dalam bidang genetika, biologi molekuler, kloning, saat ini kita memiliki alat-alat di mana kita dapat mengubah informasi genetik dari bawah ke atas dan hanya diatur oleh hati nurani sang ilmuwan, dan saya tidak tahu apakah itu cukup,” kata Dr. Sona Pekova. (Vv)

 

Share

Video Popular