oleh Wang Jin

Saat ini, ada lebih dari 886.000 kasus infeksi virus Komunis Tiongkok dan lebih dari 50.000 kasus kematian di Amerika Serikat. Banyak kasus profil tinggi adalah selebritas Hollywood.

Mengapa virus Komunis Tiongkok menghantam Hollywood?

Artikel tajuk rencana The Epoch Times, “Di Mana Ada Ikatan Erat Dengan Komunis Tiongkok, Maka Coronavirus Menguntit,” menunjukkan bahwa “semua kawasan terparah yang terkena dampak Coronavirus di luar Tiongkok memiliki kesamaan: hubungan yang dekat atau menguntungkan dengan rezim komunis di Beijing.”

Rezim Tiongkok Mendanai Produksi Hollywood

Lebih dari setengah dari 10 film terbaik tahun 2019 yang dipilih oleh majalah Time adalah dibiayai oleh perusahaan ramah-Beijing, seperti Tencent Pictures, Sunac Group, Shanghai Road Pictures Film dan Televisi, Media Asia Film, dan Bona Grup Film.

Sementara itu, “Terminator: Dark Fate,” yang dirilis pada bulan November tahun lalu, memperkirakan anggaran produksi 185 juta dolar AS dengan investasi dari Paramount Pictures, Skydance Media, 20th Century Fox masing-masing sebesar 30 persen, serta Tencent Pictures sebesar 10 persen.

“Midway” dibuat biaya sebesar  80 juta dolar AS dari Bona Film Group, terhitung 70 persen anggaran film tersebut.

Konglomerat Tiongkok Fosun International berinvestasi pada pendirian Studio 8, sebuah perusahaan hiburan Amerika Serikat, pada tahun 2014 dan mengambil bagian dalam investasi film seperti “Billy Lynn’s Long Halftime Walk” dan  “Gemini Man.”

Pada akhir tahun 2014, grup hiburan interaktif terbesar di Tiongkok, Guangdong Alpha Group, menjalin kemitraan dengan New Regency Productions, perusahaan Amerika Serikat. 

Guangdong Alpha Group setuju untuk berinvestasi hingga 60 juta dolar AS dalam tiga film yang akan diproduksi New Regency Productions, termasuk The Revenant.

Film tahun 2014 “Transformers: Age of Extinction,” diproduksi oleh Paramount Pictures, menerima investasi dari M1905, anak perusahaan media baru dari China Movie Channel (CCTV6)

Sementara itu, Alibaba Pictures, studio film Tiongkok yang didirikan oleh e-commerce raksasa Alibaba, memulai investasi dan kemitraan pemasarannya dengan Paramount Pictures pada tahun 2015. Mengikuti kolaborasi pada “Mission: Impossible — Rogue Nation,” Alibaba Pictures berinvestasi dalam dua film Paramount Pictures, “Teenage Turtles Ninja Mutant: Out of the Shadows” dan “Star Trek Beyond.”

Pengaruh Komunis Tiongkok juga bermanifestasi melalui merger dan akuisisi dengan perusahaan Amerika Serikat.

Membeli Studio

Konglomerat Tiongkok Dalian Wanda, mengakuisisi AMC Entertainment, operator bioskop Amerika Serikat sebesar usd 2,6 miliar pada bulan Mei 2012. Pada tahun 2016, Dalian Wanda mengakuisisi studio Hollywood Legendary Entertainment dan operator teater Carmike Cinemas. Legendary Entertainment adalah studio di balik film laris seperti “Jurassic World” dan “The Dark Knight.”

Dalian Wanda mengumumkan kemitraan strategis dengan Motion Picture Group, unit film Sony Pictures Entertainment, pada tanggal 23 September 2016. Wang Jianlin, pendiri Dalian Wanda, adalah anggota Partai Komunis Tiongkok, dan menjadi delegasi Kongres Rakyat Nasional, legislatif yang tunduk pada Partai Komunis Tiongkok.

Akan tetapi, akuisisi Wang Jianlin membuat Kongres Amerika Serikat khawatir akan pengaruh rezim Tiongkok  yang terus tumbuh dalam dunia hiburan. Mereka juga melihat Komunis Tiongkok menyebarkan propaganda dan menggunakan pengaruh kebudayaan ala Komunis Tiongkok ditayangkan di televisi dan bioskop Amerika Serikat.

Pada tanggal 17 Maret 2015, Lionsgate Entertainment menandatangani perjanjian multi-tahun dengan Hunan TV, penyiar yang dikelola pemerintah Tiongkok untuk pembiayaan bersama, distribusi, pengembangan, dan produksi.

Pada tanggal 1 April 2015, perusahaan produksi film Tiongkok Huayi Brothers Media Corp menandatangani kontrak tiga tahun dengan studio Hollywood STX Entertainment untuk bersama-sama membiayai, memproduksi, dan mendistribusikan hingga 15 film setiap tahun pada tahun 2016.

Pada tanggal 20 September 2015, China Media Capital dan Warner Bros. Entertainment mengumumkan perusahaan patungan, yaitu Flagship Entertainment Group Limited, 51 persen dimiliki oleh China Media Capital dan 49 persen oleh Warner Bros. Entertainment.

Pada bulan Januari 2017, Paramount Pictures membuat kesepakatan senilai USD 1 miliar dengan dana cadangan Shanghai Film Group Corp dan Huahua Media yang berbasis di Beijing. 

Kedua perusahaan Tiongkok mendanai 25 persen atau lebih dari seluruh daftar film studio untuk tiga tahun ke depan, dengan opsi  seperempat, menurut majalah Deadline. 

Namun demikian, pada bulan November tahun itu, Paramount Pictures mengumumkan bahwa mereka mengakhiri perjanjian tersebut mengikuti perubahan kebijakan investasi asing Komunis Tiongkok.

Pasar Tiongkok = Sensor

Box office Tiongkok menguangkan 9 miliar dolar pada tahun 2018 — tepat di belakang Amerika Serikat dan Kanada, yang menghasilkan total USD 11,9 miliar tahun itu, menurut data yang dikumpulkan oleh Motion Picture Association of America.

Pada tahun 2020, Tiongkok akan menjadi pasar sinema terbesar di dunia, dengan pendapatan box office diharapkan melonjak dari usd 9,9 miliar pada tahun 2018 menjadi USD 15,5 miliar pada tahun 2023, menurut sebuah laporan oleh PricewaterhouseCoopers.

Para ahli memperingatkan bahwa pasar Tiongkok yang menguntungkan telah mengarah sensor diri Hollywood, tak lain untuk memenuhi apa yang diinginkan sensor Tiongkok.

Timothy Doescher, direktur asosiasi hubungan koalisi di Heritage Foundation’s Institute for Economic Freedom, mengatakan: “Hollywood mengandalkan semakin banyak pasar Tiongkok untuk mendapatkan keuntungan di film, yang berarti film Hollywood ditulis berdasarkan pemikiran Tiongkok.”

Aynne Kokas, seorang rekan di Woodrow Wilson Center, mengatakan kepada Financial Times: “Anda akan sulit sekali menemukan produser di Hollywood yang mau membuat film yang menggambarkan Tiongkok secara negatif.”

Mike Gonzalez, seorang rekan senior di Institut Davis Keamanan Nasional  dan Kebijakan Luar Negeri di Heritage Foundation, menjelaskan mengapa rezim Tiongkok berperan penting di Hollywood. 

“Partai Komunis Tiongkok adalah komunis, dan komunis sangat memahami kebudayaan berdiri di hulu dari kebijakan dan dari politik, dan jika anda merebut kebudayaan, anda telah melakukan cara yang bagus untuk berdampak pada populasi. “

Pada tanggal 4 Oktober 2018, saat berpidato di mana Wakil Presiden Mike Pence berbicara mengenai pendekatan baru pemerintah Amerika Serikat untuk hubungan Amerika Serikat-Tiongkok, ia mengkritik rekam jejak Beijing di studio film Amerika yang “bermanfaat dan memaksa” — yang Mike Pence katakan dengan berhasil mengakibatkan revisi plot untuk film.

“Perang Dunia Z’ harus memotong naskah yang menyebutkan virus yang berasal dari Tiongkok.”

‘Red Dawn’ telah diedit secara digital untuk membuat sang penjahat adalah Korea Utara, bukannya Tiongkok,” kata Mike Pence di Institut Hudson.

Mike Pence melanjutkan: “Beijing secara rutin menuntut agar Hollywood mencitrakan Tiongkok dengan sangat  positif. Tiongkok menghukum studio dan produser yang tidak melakukan hal tersebut. Sensor Beijing adalah cepat untuk mengedit atau melarang film yang mengkritik Tiongkok, walaupun kritik yang sangat sedikit.”

Film-Film yang Dilarang oleh Komunis Tiongkok

Beijing tidak malu-malu melarang film-film tertentu yang terlalu sensitif bagi rezim Komunis Tiongkok.

“Red Corner” adalah film tahun 1997 yang dibintangi Richard Gere sebagai seorang pengusaha Amerika Serikat yang dituduh melakukan pembunuhan di Beijing. Film ini memiliki sebuah tagline yang tidak menyenangkan: 

“Kelonggaran bagi mereka yang mengaku, kerasnya bagi mereka yang menolak.” Sebagai pendukung kemerdekaan Tibet dan sekutu Dalai Lama, Richard Gere adalah kritis terhadap rezim Komunis Tiongkok. Dalam sebuah wawancara dengan The Hollywood Reporter, Richard Gere mengatakan bahwa pandangan politiknya telah membatasi pekerjaannya. “Pasti ada film yang tidak dapat saya ikut serta karena orang Tiongkok akan berkata, ‘Tidak bersama dia’.”

Dalam contoh yang lebih baru, film Netflix tahun 2019 “Laundromat” dilarang. Disutradarai oleh Steven Soderbergh dan dibintangi Meryl Streep, film ini memaparkan korupsi, termasuk di Tiongkok. Satu segmen film ini menggambarkan praktik panen organ secara paksa dari tahanan nurani di Tiongkok yang direstui Tiongkok.

Pandemi global ini — disebabkan oleh kesalahan penanganan rezim Komunis Tiongkok terhadap wabah – menunjukkan bahwa berurusan dengan Tiongkok harus dibayar mahal.

Dapatkah Hollywood — yang sudah lama tertahan dan dibentuk oleh kepentingan ekonomi Komunis Tiongkok — bangkit menghadapi fakta dan menjauhkan diri dari rezim Tiongkok di masa depan? Hanya waktu yang akan memberitahukannya.

Tahukah anda?

The Epoch Times adalah media pertama dan satu-satunya media yang mengungkap sifat asli, dampak, dan tujuan akhir komunisme. Kami menjelaskan kerusakan komunisme pada landasan moral serta tradisi Timur dan Barat. Kami juga membahas akibat sosialisme dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan politik negara-negara. (Vv/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular