Cathy He 

Bild, surat kabar terbesar Jerman, dalam sebuah artikel berbahasa Jerman yang artinya berjudul “Apa Utang Tiongkok Kepada Kita” yang diterbitkan minggu lalu, mengatakan rezim Komunis Tiongkok harus membayar  163 milyar dolar yang setara dengan Rp  2.500 triliun untuk kerugian yang diderita Jerman akibat pandemi.

“Faktur” yang mencakup kerugian pendapatan wisata yang hilang pada bulan Maret dan April sebesar 24 miliar euro (usd 26 miliar), biaya 1 juta euro (usd 1 juta) per jam untuk Lufthansa, dan kerugian usaha kecil Jerman sebesar 50 miliar euro (usd 54 miliar).”

Tuntutan kompensasi yang terus meningkat muncul seiring dengan meningkatnya tuntutan pemerintahan Barat, tak lain supaya lebih banyak transparansi dari rezim Komunis Tiongkok dalam menangani wabah.

Artikel tersebut memicu tanggapan marah dari Kedutaan Besar Tiongkok  di Jerman, yang dalam surat terbuka kepada pemimpin redaksi Bild, Julian Reichelt membantah bahwa rezim Tiongkok telah melanggar kewajibannya berdasarkan hukum internasional. Malah kedubes itu memainkan isu dengan menuduh Bild bersikap xenofobia.

Julian Reichelt kemudian menanggapi  dengan surat terbukanya sendiri kepada pemimpin Komunis Tiongkok Xi Jinping, yang mengatakan “Pemerintah anda dan ilmuwan anda telah lama tahu bahwa Coronavirus itu adalah sangat menular, tetapi anda membiarkan dunia dalam kegelapan mengenai masalah itu.”

“Para ahli top anda tidak menanggapi saat para peneliti Barat bertanya untuk mengetahui apa yang terjadi di Wuhan,” tulis Julian Reichelt.

 

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Es ist eine Nachricht, die über zwei Millionen Corona-Infizierten weltweit Hoffnung macht. In einem Krankenhaus in Chicago sprechen Covid-19-Patienten im Rahmen einer Studie positiv auf ein antivirales Medikament an. Laut einem Bericht des US-Gesundheits-Portals „STAT“ gingen Fieber und Atembeschwerden zurück, fast alle Patienten seien binnen weniger als einer Woche entlassen worden. Die Universität Chicago rekrutierte für die Studie 125 Corona-Patienten. Davon waren 113 schwer erkrankt. Alle Patienten wurden mit täglichen Remedesivir-Infusionen behandelt. Eine vollständige Studie wurde noch nicht veröffentlicht. #corona #covi_19 #chicago Foto: dpa

A post shared by BILD (@bild) on

Awal bulan ini, sebuah laporan oleh Henry Jackson Society, lembaga pemikir Inggris menemukan bahwa rezim Tiongkok dapat dituntut triliunan dolar karena rezim Tiongkok merahasiakan awal wabah, yang dikatakan merupakan pelanggaran hukum internasional.

Beberapa tuntutan hukum telah diluncurkan di pengadilan Amerika Serikat untuk menuntut rezim Tiongkok atas kerugian ekonomi yang disebabkan oleh pandemi.

Sementara itu, negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Australia meningkatkan seruan untuk menyelidiki asal muasal virus, sambil mengkritik kurangnya transparansi rezim Tiongkok.

Pertikaian antara rezim Komunis Tiongkok dengan Bild terjadi tidak lama. Itu setelah Kementerian Luar Negeri Prancis memanggil Duta Besar Tiongkok Lu Shaye untuk menyatakan “ketidaksetujuan yang pasti.” Tak lain atas komentar yang dibuat seorang diplomat Tiongkok mengenai staf panti jompo di Prancis yang meninggalkan tempat kerjanya serta para  penghuninya sampai mati.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian, dalam sebuah wawancara dengan outlet Prancis Le Monde yang diterbitkan pada tanggal 20 April, mengatakan, “Saya tidak dapat menerima siapa pun itu, termasuk Kedutaan Besar Tiongkok, menfitnah staf di panti jompo kami.”

Tahukah anda?

The Epoch Times adalah media pertama dan satu-satunya media yang mengungkap sifat asli, dampak, dan tujuan akhir komunisme. Kami menjelaskan kerusakan komunisme pada landasan moral serta tradisi Timur dan Barat. Kami juga membahas akibat sosialisme dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi dan politik negara-negara. (Vivi/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular