Zachary Stieber

Sebagian besar uji antibodi yang beredar di masyarakat AS adalah tidak divalidasi, kata Dr. Anthony Fauci, selaku direktur of the National Institute of Allergies and Infectious Diseases atau Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS. Ia juga mengatakan bahwa belum terbukti orang yang sembuh setelah terinfeksi virus Komunis Tiongkok atau pneumonia Wuhan yang dikenal sebagai coronavirus akan kebal terhadap penyakit itu.

Uji antibodi didorong sebagai bagian  paket tindakan yang diperlukan supaya Amerika Serikat kembali beroperasi. Uji antibodi mengukur protein dalam tubuh yang merespons virus Komunis Tiongkok, jenis Coronavirus baru yang muncul dari Tiongkok Daratan tahun lalu dan menyebabkan penyakit COVID-19.

Seseorang akan menghasilkan protein saat terinfeksi virus. Jika seseorang memiliki antibodi, kemudian terinfeksi virus, tetapi sejak itu orang tersebut pulih. Sebagian besar pasien pasien yang terinfeksi namun tidak pernah menunjukkan gejala, mempertinggi kebutuhan untuk uji antibodi, dalam pikiran beberapa orang.

Masalahnya adalah, kata Dr. Anthony Fauci saat tampil di “Good Morning Amerika” ABC pada hari Senin 20 April 2020, bahwa sebagian besar uji antibodi adalah tidak divalidasi.

Masalah lain: pertanyaan seputar kemungkinan kekebalan.

“Kami tidak tahu persis apa artinya titer antibodi. Ada sebuah asumsi — asumsi yang masuk akal — bahwa saat anda memiliki antibodi, anda terlindungi dari infeksi ulang. Tetapi hal itu belum terbukti untuk virus khusus ini. Hal itu berlaku untuk virus lain,” kata Dr. Anthony Fauci, Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS. 

“Saya pikir hal itu adalah asumsi yang masuk akal sehingga anda tidak akan mengatakan hal itu adalah gagasan yang tidak masuk akal — tidak demikian. Hal itu berlaku untuk virus lain. Tetapi kami tidak tahu berapa lama perlindungan itu berlangsung, jika ada. Apakah selama satu bulan? Tiga bulan? Enam bulan? Satu tahun?”

Sementara uji antibodi dapat  menandakan kekebalan terhadap virus Komunis Tiongkok, hal tersebut belum terbukti sampai peneliti dapat menunjukkan “hubungan antara antibodi dan perlindungan,” kata Dr. Anthony Fauci.

Ada pasien COVID-19 di Korea Selatan yang kambuh kembali dengan hasil uji yang kembali positif, meningkatkan keraguan akan kekebalan total untuk pasien yang pernah terinfeksi dan kemudian pulih.

“Jenis Coronavirus baru ini tampaknya sangat jahat dan lihai,” kata Kwon Jun-wook, Wakil Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Korea Selatan kepada wartawan. Kim Woo-joo, seorang ahli penyakit menular di Rumah Sakit Universitas Korea. Ia mengatakan virus  Komunis Tiongkok mungkin telah bermutasi, yang mengarah kekambuhan.

Pemerintahan Donald Trump bertujuan meluncurkan 20 juta uji antibodi baru pada akhir bulan April. Sedangkan para pejabat tinggi melihat uji antibodi sebagai cara untuk memantau pasien tanpa gejala.

Dr. Anthony Fauci mengatakan kepada wartawan minggu lalu, bahwa para ahli mengasumsikan orang yang memiliki antibodi adalah dilindungi berdasarkan pengalaman dengan virus lain.

“Tetapi apa yang kita ingin pastikan bahwa kita tahu, dan ini adalah beberapa tantangan: Berapa titer yang bersifat melindungi? Berapa lama perlindungannya? Apakah selama satu bulan? Apakah selama tiga bulan? Apakah selama enam bulan? Apakah selama setahun? Jadi kita harus rendah hati dan sederhana bahwa kita tidak tahu segalanya mengenai uji antibodi itu, tetapi sebenar uji antibodi adalah uji yang penting,” kata Dr. Anthony Fauci.

Uji antibodi telah diangkat oleh beberapa gubernur di Amerika Serikat sebagai bagian penting untuk beroperasi kembali, dengan mana beberapa proposal mengenai orang-orang yang diuji positif terinfeksi virus tersebut kembali bekerja, selain proposal lainnya. (Vv)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular