Frank Fang

Reporters Without Borders, sebuah organisasi nirlaba yang mendukung kebebasan pers, memperingatkan publik untuk waspada terhadap kampanye informasi sesat Tiongkok ke seluruh dunia yang berkelanjutan sehubungan dengan merebaknya pandemi virus Komunis Tiongkok atau Covid-19.

Cédric Alviani, kepala Biro Asia Timur Reporters Without Borders, dalam sebuah pernyataan yang diterbitkan pada  18 April 2020 lalu menyatakan, dengan dalih ‘meluruskan’ masalah Coronavirus, Komunis Tiongkok meluncurkan kebohongan dan ketidaktepatan yang dirancang untuk menjelek-jelekkan  karya jurnalistik para wartawan dan menabur keraguan terhadap apa yang dilaporkan oleh para wartawan.

Cédric Alviani mengatakan: “Adalah penting bahwa masyarakat tidak termakan oleh propaganda Tiongkok dan memberikan preferensi untuk pelaporan oleh media yang menghargai prinsip jurnalistik.” 

Pernyataan itu menjelaskan bahwa kampanye informasi sesat Tiongkok  dirancang untuk “meredam kritik” yang menyalahkan Beijing atas penyebaran virus  Komunis Tiongkok, yang umumnya dikenal sebagai jenis Coronavirus baru.

Kantor media menunjuk keputusan pihak berwenang Tiongkok untuk menyensor lebih awal peringatan wabah, seperti membungkam delapan dokter, di antaranya adalah dokter mata Li Wenliang. Pasalnya Li Wenliang memposting adanya bentuk pneumonia baru di media sosial Tiongkok pada akhir bulan Desember 2019 lalu. 

Sementara itu, wartawan warga Tiongkok hilang, termasuk Fang Bin, yang melapor di lapangan di Wuhan, pusat penyebaran wabah di Tiongkok.

Reporters Without Borders menunjuk pada contoh pejabat Tiongkok yang mengklaim bahwa tentara Amerika Serikat “membawa epidemi ke Wuhan.”

Pada akhir Maret, China Global Television Network (CGTN), perpanjangan tangan CCTV, penyiaran milik pemerintah Tiongkok di dunia internasional, juga membuat “pernyataan yang menyimpang” dari pernyataan yang dikemukakan oleh direktur lembaga penelitian farmakologis Italia, Giuseppe Remuzzi, kepada penyiar radio publik NPR.

CGTN menyiratkan Giuseppe Remuzzi mengatakan bahwa epidemi Coronavirus dimulai di Italia sebulan sebelum kemunculannya di Tiongkok. Itu sesuai dengan pernyataan Reporters Without Borders.

Sejak bulan Februari, para Duta Besar Tiongkok menyerang media internasional atas liputan kritis mengenai tanggapan Beijing terhadap pandemi.

Menurut Reporters Without Borders, baru-baru ini, pada tanggal 14 April, Duta Besar Tiongkok untuk Prancis, Lu Shaye, dipanggil oleh Kementerian Luar Negeri Prancis atas postingan  di situs web dan akun Twitter Kedutaan Besar Tiongkok yang memfitnah personel layanan kesehatan Prancis dan koalisi parlemen Prancis.

“Pendapat publik tertentu disuarakan oleh perwakilan Kedutaan Besar Tiongkok di Prancis tidak sejalan dengan kualitas hubungan bilateral antara Prancis dengan Tiongkok,” kata Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian dalam pernyataan mengenai pertemuannya dengan Lu Shaye, seperti dilaporkan Reuters.

Pada tanggal 12 April, Kedutaan Besar Tiongkok di Prancis menerbitkan sebuah artikel berjudul, “Mengembalikan fakta yang menyimpang. Pengamatan seorang diplomat Tiongkok yang dikirim ke Paris.” 

Artikel itu mengutip seorang diplomat yang tidak disebutkan namanya, yang menyatakan para pengasuh di panti jompo di Prancis telah meninggalkan pekerjaannya, sehingga para warga panti jompo mati akibat kelaparan dan akibat virus Komunis Tiongkok. 

Artikel yang diterbitkan oleh media setempat France 24 menyebutkan bahwa hanya beberapa hari setelah jumlah korban yang meninggal akibat virus tersebut meningkat di Prancis dari 8.911 jiwa hingga 10.328 jiwa dalam satu hari. Peningkatan angka kematian yang tajam itu, terjadi di panti jompo.

Artikel Tiongkok itu juga menuduh pihak berwenang Prancis dan Taiwan menyerang Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Dunia Organisasi Kesehatan – WHO. 

“Pihak berwenang Taiwan, didukung oleh lebih dari 80 anggota parlemen Prancis dalam deklarasi yang ditandatangani bersama, bahkan menggunakan kata ‘negro’ untuk menyerang Tedros Adhanom Ghebreyesus. Saya masih tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh  semua perwakilan terpilih Prancis ini,” bunyi artikel itu.

Merespon artikel itu, Kementerian Luar Negeri Taiwan, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada tanggal 15 April, mengatakan artikel  yang di-tweet oleh akun resmi milik Kedutaan Besar Tiongkok di Prancis, adalah tuduhan palsu.

Dalam sebuah artikel lainnya,  Reuters menulis bahwa pihaknya tidak dapat menemukan bukti bahwa anggota parlemen Prancis mendukung deklarasi semacam itu. Juga tidak dapat menemukan bukti bahwa pihak berwenang Taiwan menggunakan kata ‘negro’ untuk menghina Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Reporters Without Borders menyebutkan bahwa para Duta Besar Tiongkok dan Global Times, surat kabar milik pemerintah Tiongkok melancarkan perang melawan wartawan Barat, menuduh wartawan Barat berbohong secara sistematis untuk menyalahkan Tiongkok atas pandemi. (vv)

Berita non-partisan dan independen The Epoch Times bersifat non-partisan dan berbasis nilai. Kami percaya jurnalisme sejati didasarkan pada prinsip-prinsip moral. Kami fokus pada masalah penting serta fokus pada kebijakan dan dampaknya, bukan keberpihakan. Kami tidak mengikuti tren jurnalisme yang tidak etis yang digerakkan oleh agenda, tetapi kami menggunakan prinsip-prinsip Kebenaran dan Tradisi sebagai cahaya penuntun kami untuk melaporkan dengan jujur.

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular