Emel Akan

Saat virus Komunis Tiongkok atau pneumonia Wuhan bergerak melalui Amerika Serikat, para ahli ekonomi terpaksa sering-sering mengubah ramalan untuk mencerminkan data terbaru.

“Jujur, saya kehabisan kata sifat untuk menggambarkan bencana ekonomi ini yang berlangsung dengan kecepatan kilat,” kata Scott Anderson, kepala ahli ekonomi di Bank of the West di San Francisco, menulis dalam sebuah catatan kepada klien.

“Model ekonomi tidak mampu memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya, karena kita belum pernah melihat yang hal semacam ini pada periode pasca-perang di mana model ahli ekonomi dilatih. Pembuat kebijakan benar-benar tidak ada pertolongan dan membuat kompensasi terhadap kerugian.”

Lonjakan klaim pengangguran dan data ekonomi lainnya selama beberapa minggu terakhir, mulai menunjukkan dampak luas krisis terhadap ekonomi Amerika Serikat.

Banyak bank besar kini memproyeksikan hantaman ekonomi  lebih dari 30 persen pada kuartal kedua yang berakhir pada tanggal 30 Juni.

Goldman Sachs, misalnya, merevisi perkiraannya untuk kuartal kedua sesudahnya “klaim pengangguran setinggi langit” pada bulan Maret. 

Kini bank memperkirakan produk domestik bruto Amerika Serikat turun 34 persen dalam kuartal ke kuartal dasar tahunan, setelah awalnya memperkirakan kontraksi 24 persen.

Deutsche Bank juga memprediksi penurunan 33 persen pada kuartal kedua dan menyatakan ini adalah “lebih dari tiga kali penurunan triwulanan terbesar di era modern.” Kontraksi terbesar yang diamati di masa lalu adalah 10 persen pada tahun 1958 dan 8,4 persen pada kuartal keempat tahun 2008.

Namun demikian, ahli ekonomi di Deutsche Bank memprediksi kedalaman kontraksi yang diharapkan akan secara substansial lebih tinggi di ekonomi besar di seluruh Eropa.

Minggu lalu, JPMorgan mengeluarkan ramalan yang bahkan lebih mengerikan untuk ekonomi Amerika Serikat, mengatakan bahwa kuartal kedua akan melihat hantaman ekonomi sebesar 40 persen.

Klaim pengangguran Amerika Serikat mencapai hampir 17 juta hanya dalam tiga minggu; dan ahli ekonomi JPMorgan percaya angka pengangguran April melonjak menjadi 20 persen, di mana 25 juta pekerjaan hilang.

Pandemi tersebut menyebabkan tanggapan kebijakan moneter dan fiskal global terbesar dalam sejarah, yang melibatkan puluhan pemerintahan besar secara global.

“Dengan 2,8 triliun dolar AS telah diumumkan, respons fiskal Amerika Serikat sebesar 13 persen Produk Domestik Bruto adalah yang terbesar,” demikian laporan Deutsche Bank menyatakan, menambahkan bahwa ekonomi utama lainnya juga mengumumkan stimulus fiskal dalam kisaran 2 hingga 11 persen dari persen Produk Domestik Brutonya.

Pembuat kebijakan di seluruh dunia terus meluncurkan paket stimulus menggunakan berbagai alat, tujuannya untuk menyediakan likuiditas ke sektor korporasi dan keuangan bantuan untuk individu.

Manfaat Situasi Sulit

Banyak ahli ekonomi optimis untuk pemulihan cepat setelah pandemi virus Komunis Tiongkok, yang sering disebut jenis Coronavirus baru, berakhir. 

Sementara goncangannya lebih besar daripada krisis keuangan tahun 2008 dalam hal kecepatan dan besarnya, para ahli ekonomi percaya bouncing kembali harus jauh lebih cepat.

“Asal-usul guncangan ini bukan didorong oleh neraca seperti pada tahun 2008, melainkan, lebih berbasis pendapatan melalui guncangan permintaan,” kata Deutsche Bank melaporkan.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell menggemakan optimisme serupa pada tanggal 9 April.

“Ada setiap alasan untuk percaya bahwa rebound ekonomi, saat datang, dapat kuat. Kami memasuki periode yang bergejolak ini dengan pijakan ekonomi yang kuat, dan hal itu akan membantu mendukung pemulihan,” kata Jerome Powell dalam konferensi video yang dipandu oleh Institut Brookings. 

Ketidakpastian seputar pandemi menyebabkan aksi jual tajam pada awalnya bagi Wall Street dan mengganggu ekspansi pasar Wall Street terpanjang dalam sejarah.

Dari tanggal 21 Februari hingga 23 Maret, Dow Jones Industrial Average anjlok 36 persen menjadi pasar beban. Kemudian indeks menguat sebesar 26 persen selama tiga minggu terakhir “berdasarkan optimisme investor mengenai perlambatan penyebaran virus ditambah dengan tindakan kebijakan moneter dan fiskal yang belum pernah terjadi sebelumnya,” menurut David Kostin, kepala strategi ekuitas Amerika Serikat di Goldman Sachs.

“Pemulihan ekonomi yang tajam saat ini dihargai ke pasar saham Amerika Serikat,” kata David Kostin dalam laporan terbarunya.

Goldman Sachs memprediksi bahwa akan ada rebound kuat di pertengahan tahun kedua, dengan pertumbuhan 19 persen pada kuartal ketiga diikuti oleh 12 persen pada kuartal terakhir tahun ini.

Goldman Sachs memperkirakan bahwa Produk Domestik Bruto Amerika Serikat secara keseluruhan akan berkontraksi tahunan sebesar 6,2 persen pada tahun 2020 dan akan tumbuh sebesar 5,5 persen tahun depan.

Aktivitas ekonomi Tiongkok diperkirakan berada di posisi terendah dalam 44 tahun, mungkin saja lebih buruk dari yang diperkirakan, karena banyak pabrik Tiongkok yang berorientasi ekspor ditutup, di mana  pandemi membebani permintaan global.

‘Great Lockdown’

Dana Moneter Internasional menyebut krisis saat ini sebagai “Great Lockdown” dan mengatakan hal tersebut menjadi penurunan ekonomi terburuk sejak  Great Depression pada tahun 1929 hingga 1939 yang menghantam AS.

Laporan Pandangan Ekonomi Dunia oleh Dana Moneter Internasional kini  memproyeksikan ekonomi global pada tahun 2020 untuk kontraksi sebesar 3 persen, penurunan peringkat yang bermakna dari pertumbuhan 3,3 persen yang diprediksi pada bulan Januari.

Revisi besar-besaran ini dalam periode yang sangat singkat menjadikan ‘Great Lockdown’ adalah jauh lebih buruk daripada krisis keuangan tahun 2008, menurut kepala ahli ekonomi  Dana Moneter Internasional Gita Gopinath.

“Hilangnya kumulatif Produk Domestik Bruto global selama tahun 2020 dan 2021 karena krisis pandemi dapat  sekitar 9 triliun dolar AS, lebih besar dari gabungan ekonomi Jepang dan Jerman. Saat ini benar-benar krisis global, karena tidak ada negara yang selamat. Negara-negara bergantung pariwisata, perjalanan, dan hiburan untuk pertumbuhannya mengalami gangguan utama,” kata Gita Gopinath pada konferensi pers virtual pada tanggal 14 April.

Dana Moneter Internasional memproyeksikan Produk Domestik Bruto Amerika Serikat mengalami kontraksi 5,9 persen pada tahun 2020, sebelumnya rebound ke pertumbuhan 4,7 persen pada tahun 2021. Produk Domestik Bruto juga mengharapkan ekonomi dunia pulih tahun depan, tumbuh 5,8 persen.

Dana Moneter Internasional menyatakan bahwa hasil pertumbuhan yang jauh lebih buruk adalah mungkin, jika pandemi dan tindakan pengendalian berlangsung lebih lama.

Namun, resesi ini tidak sama menghancurkan seperti Great Depression.

Gita Gopinath mengatakan besarnya keruntuhan jauh lebih buruk selama Depresi Hebat, yang dimulai pada tahun 1929 dan berlangsung hingga sekitar tahun 1939. Depresi terpanjang dan terparah yang pernah dialami, dengan kontraksi sekitar 10 persen secara global, menurut Dana Moneter Internasional.

Para ahli ekonomi percaya sebagian besar negara maju diperkirakan akan pulih di masa paruh kedua tahun ini, tetapi guncangan ekonomi di negara yang kurang berkembang akan bertahan lebih lama. 

Dana Moneter Internasional mendesak kreditor resmi untuk memberikan keringanan utang kepada negara-negara termiskin yang memiliki tingkat beban utang yang tinggi. (Vivi/asr)

Share

Video Popular