Frank Fang 

Dr. Yu Xiangdong dipindahkan dari semua peran kepemimpinannya di Rumah Sakit Pusat Huangshi di kota Huangshi, Provinsi Hubei, Tiongkok pada tanggal 1 April 2020, setelah ia menulis beberapa postingan media sosial pada bulan Februari 2020, yang kemudian dihapus oleh sensor internet.

“Saya memposting banyak artikel di media sosial untuk membahas perawatan dari sudut akademik. Mungkin posting saya tidak cocok dengan nada [resmi] pemerintah,” kata Dr. Yu Xiangdong dalam sebuah wawancara dengan The Epoch Times baru-baru ini.  

Dr. Yu Xiangdong adalah wakil direktur Rumah Sakit Pusat Huangshi dan direktur departemen kendali kualitas di Edong Medical Group. 

Edong Medical Group adalah badan pemerintah Huangshi yang mengelola tiga rumah sakit yang dikelola pemerintah, yaitu: Rumah Sakit Pusat Huangshi, Rumah Sakit Pengobatan Tiongkok Huangshi, dan Rumah Sakit Kesehatan Ibu dan Anak Huangshi.

Perawatan di Rumah Sakit Tiongkok

Sebagai seorang dokter di daerah Hubei, Dr. Yu Xiangdong mengatakan bahwa ia telah merawat banyak pasien virus Komunis Tiongkok sejak wabah dimulai.

Dr. Yu Xiangdong menerbitkan sebuah artikel berjudul, “Runtuhnya Pengobatan Berbasis Bukti,” di awal bulan Februari, yang dibaca oleh lebih dari satu juta netizen. Banyak yang memposting artikel tersebut ke situs web lain, dan mengarsipkan artikel tersebut setelah sensor menghapus artikel itu.

Dalam artikel itu, Dr. Yu Xiangdong menjelaskan bahwa rumah sakit Tiongkok secara luas menggunakan Umifenovir atau obat antivirus yang belum disetujui Administrasi Makanan dan Obat-Obatan, Darunavir atau kadang digunakan untuk mengobati HIV/AIDS, Oseltamivir yang kerap digunakan untuk mengobati virus influenza tipe A dan B, dan dosis besar vitamin C untuk mengobati pasien virus Komunis Tiongkok. Tetapi semua obat-obatan ini belum diuji kemanjurannya dalam mengobati virus Tiongkok.

Sebuah vial remdesivir obat yang diteliti diperiksa secara visual di sebuah pabrik Gilead di Amerika Serikat pada Maret 2020. (Gilead Sciences via AP)

Dr. Yu Xiangdong menekankan bahwa suatu obat boleh digunakan setelah pengujian berulang, seperti percobaan in vitro, percobaan binatang, uji klinis, dan sebagainya.

Namun sejauh ini, “Saya hanya melihat satu obat yang menganut filosofi obat berbasis bukti, yaitu Remdesivir,” tulis Dr. Yu Xiangdong.

Remdesivir dikembangkan oleh perusahaan biofarmasi Amerika Serikat, Gilead Sciences. Remdesivir adalah obat yang dirancang untuk mengobati virus Ebola dan infeksi Marburg.

Remdesivir adalah efektif mengobati beberapa pasien COVID-19, dan kini sedang dipelajari dalam uji klinis.

Setelah artikelnya dihapus itu, Dr. Yu Xiangdong menerbitkan satu artikel lagi, berjudul “Apakah Dengan Tidak Adanya Kedokteran Berbasis Bukti Berarti Seseorang Hanya Menunggu Kematian?” pada tanggal 17 Februari.

Dr. Yu Xiangdong mengatakan rumah sakit Tiongkok “menyalahgunakan penggunaan obat antimikroba.”

“Antimikroba bukanlah permen. Antimikroba adalah obat. Setiap obat memiliki dampak racunnya,” tulisnya.

Dr. Yu Xiangdong menyebutkan bahwa rumah sakit Tiongkok juga banyak menggunakan Lopinavir/Ritonavir,  obat yang digunakan untuk mengobati HIV/AIDS, pada pasien COVID-19.

“Dari pengamatan klinis, kita dapat melihat bahwa Lopinavir/Ritonavir dapat menyebabkan diare dan kerusakan hati yang parah. Tidak diketahui apakah dapat mengobati Coronavirus,” tulis Dr. Yu Xiangdong.

Dr. Yu Xiangdong kemudian menyarankan: “Terapi oksigen, istirahat yang cukup, mengonsumsi nutrisi yang cukup, mendapatkan kenyamanan dan dukungan, memiliki pengetahuan, tidak menggunakan obat-obatan terlarang, pengawasan ketat, dan karantina — ini adalah jenis perawatan obat modern yang dapat memberikan kepada pasien.”

Dalam artikel lain yang diterbitkan pada tanggal 18 Februari, Dr. Yu Xiangdong mengulas epidemi berdasarkan sejarah manusia dan epidemi mana yang dikendalikan dengan penggunaan obat-obatan dan vaksin.

Dr. Yu Xiangdong menjelaskan bahwa obat-obatan yang digunakan rumah sakit Tiongkok saat ini dapat memiliki efek samping yang serius bila diberikan dalam dosis berat: “Obat-obatan hormon dapat menyebabkan nekrosis avaskular kepala tulang femur. Antibiotik dapat menyebabkan  infeksi ganda. Obat antivirus dapat merusak sistem pencernaan. Plasma [dari pasien yang pulih, yang kadang digunakan untuk mengobati pasien COVID-19 yang sakit parah] berpotensi menyebarkan mikroba lain. Banyak  obat lain juga merusak hati dan ginjal.”

Efek Samping Obat

Media Tiongkok mencatat contoh beberapa pasien virus yang pernah menderita efek samping yang serius setelah perawatan.

Surat kabar yang dikelola pemerintah, Health Times melaporkan pada tanggal 19 April bahwa Hu Weifeng dan Yi Fan, dua dokter dari Rumah Sakit Pusat Wuhan, pulih dari COVID-19.

Hu Weifeng dan Yi Fan terinfeksi virus itu lebih dari dua bulan lalu, dan dirawat di unit perawatan intensif dan ditempatkan di ventilator.

Hu Weifeng dan Yi Fan, dua dokter dari Rumah Sakit Pusat Wuhan, memiliki kulit gelap setelah sembuh dari virus Komunis Tiongkok di Wuhan, Tiongkok pada 18 April 2020. (tangkapan layar)

Selama wawancara, warna kulit Hu Weifeng dan Yi Fan tampak sangat gelap.

Song Jianxin, direktur departemen infeksi di Rumah Sakit Tongji Wuhan, menjelaskan bahwa sebagian besar pasien dalam kondisi kritis juga mengalami efek samping yang sama, di mana warna kulit menjadi gelap, mengelupas, dan pecah-pecah.

Para dokter dari Rumah Sakit Umum Hubei menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh kerusakan hati, sebagai akibat dari virus yang menyerang tubuh, obat-obatan yang dikonsumsi pasien, dan interaksi antara banyak organ yang telah rusak karena gangguan pernapasan.

“Zat besi dimetabolis dan disimpan oleh hati. Bila hati tidak dapat bekerja dengan baik, maka zat besi akan masuk ke dalam darah, yang menyebabkan warna kulit menjadi lebih gelap,” kata seorang dokter.

Laporan itu tidak merinci obat mana yang digunakan untuk mengobati Hu Weifeng dan Yi Fan.

Peneliti Wang Fusheng dan timnya di Pusat Medis Kelima dari Rumah Sakit Umum Tentara Pembebasan Rakyat atau rumah sakit militer menerbitkan sebuah penelitian di The Lancet pada tanggal 4 Maret, yang menemukan bahwa “2-11% pasien COVID-19 memiliki komorbiditas hati… Pasien COVID-19 yang parah tampaknya memiliki disfungsi hati  yang lebih parah.” (Vivi/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular