Daniel Holl dan Simone Gao

Cerita munculnya wabah virus Komunis Tiongkok atau virus Wuhan memiliki kerahasiaannya.   Komunis Tiongkok berusaha keras menutup-nutupi wabah dengan sengaja. Kurangnya pelaporan dan keterlambatan informasi dari  Komunis Tiongkok menyebabkan pandemi di seluruh dunia saat ini. Oleh karena itu, maka virus ini disebut dengan virus komunis Tiongkok. 

Dokumen pemerintah yang dikutip dalam sebuah laporan oleh South China Morning Post yang dirilis pada tanggal 20 Maret 2020 menyebutkan bahwa pada  tanggal 17 November 2019, seorang pria berusia 55 tahun terinfeksi virus Komunis Tiongkok. 

1 Desember 2019: Seorang dokter Tiongkok mengatakan kepada BBC bahwa pasien pertama muncul pada tanggal 1 Desember 2019, seorang pria berusia 70-an yang tergeletak di tempat tidur. Pria itu tidak ada hubungan dengan Pasar Makanan Laut Huanan. Namun, pejabat Partai Komunis Tiongkok dan laporan Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan pasien pertama muncul pada tanggal 8 Desember 2019, satu minggu lebih lambat.

Pertengahan Bulan Desember 2019 : Laporan dari jurnal medis The Lancet mengatakan bukti muncul pada pertengahan bulan Desember 2019 adanya penularan dari manusia ke manusia. Penelitian yang sama menyatakan virus tersebut berasal dari luar Pasar Makanan Laut Huanan.

27 Desember 2019 : Sementara pihak berwenang Tiongkok menyangkal keberadaan penyakit ini, sebuah laboratorium Tiongkok mengurutkan sebagian besar genom virus tersebut. Akan tetapi pihak berwewenang menyimpan temuan itu untuk badan pemerintah internal.

30 Desember 2019 : Informasi dibatasi secara aktif saat para dokter membahas penyakit itu dengan rekan sejawatnya di aplikasi obrolan Tiongkok. Rumah sakit tempat mereka bekerja menegur dengan mengatakan bahwa mendiskusikan penyakit itu adalah “menyebarkan desas-desus”. Kemudian, Komisi Kesehatan Wuhan mengancam petugas kesehatan dengan hukuman jika mereka menyebarkan informasi mengenai infeksi itu.

31 Desember 2019 :  Komunis Tiongkok  memutarbalikkan keparahan penyakit itu saat Komisi Kesehatan Wuhan mengatakan penyakit baru itu dapat dicegah dan dikendalikan. Pemimpin Tiongkok Xi Jinping membuat pidato Tahun Baru, tetapi ia tidak menyinggung soal penyakit itu. Media pemerintah Tiongkok memfokuskan semua perhatian pada Pasar Makanan Laut Huanan, menggambarkannya sebagai asal virus itu. Ini mungkin merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian dari sumber wabah yang sebenarnya.

1 Januari 2020: Pejabat menutup Pasar Makanan Laut Huanan karena media pemerintah terus mengklaim pasar itu adalah pusat wabah. Sensor berkembang saat pejabat Komisi Kesehatan Provinsi Hubei memberitahu sebuah perusahaan yang melakukan pengurutan genom virus untuk menghentikan pengujian sampel, dan untuk menghancurkan semua sampel yang ada. Lebih lanjut, polisi Wuhan menegur delapan pekerja medis karena “menyebarkan desas-desus.” Para pekerja medis itu berbagi informasi mengenai virus secara online.

2 Januari 2020: Laboratorium virologi yang dikelola pemerintah Tiongkok memperoleh genom virus  Komunis Tiongkok yang sempurna. Namun, mereka tidak mempublikasikan informasi  selama satu minggu.

3 Januari 2020: Sensor  Komunis Tiongkok terjadi di seluruh Tiongkok saat Komisi Kesehatan Nasional memerintahkan para peneliti untuk menyerahkan sampel virus ke badan pendeteksi patogen, atau menghancurkannya.

7 Januari 2020: Xi Jinping terlibat dalam respons dengan mengeluarkan perintah pengendalian pertama. Namun, perintah itu tidak diumumkan kepada masyarakat hingga bulan Februari 2020.

11 Januari 2020: Lebih dari satu minggu setelah mendapatkan urutan genom virus itu, pihak berwenang kesehatan Tiongkok membaginya dengan Organisasi Kesehatan Dunia – WHO.

14 Januari 2020: Pihak berwenang Tiongkok mengklaim tidak menemukan bukti yang jelas adanya penularan dari manusia ke manusia. Organisasi Kesehatan Dunia mulai membeo semua pernyataan resmi  Komunis Tiongkok.

15 Januari 2020: Pihak berwenang Tiongkok mengubah klaimnya menjadi ada sedikit kemungkinan penularan dari manusia ke manusia.

18 Januari 2020: Tanpa kepedulian yang jelas terhadap infeksi pada masyarakat, pejabat Wuhan mengadakan perjamuan besar seadanya untuk 40.000 keluarga.

20 Januari 2020: Tiongkok memastikan adanya penularan dari manusia ke manusia. Xi Jinping secara terbuka mengakui penyakit ini untuk pertama kalinya. Pada saat yang sama,  Komunis Tiongkok memerintahkan para diplomat untuk melakukan kampanye informasi sesat di media sosial Barat, menghilangkan kesalahan yang dilakukan Tiongkok dan menyatakan virus itu berasal dari luar Tiongkok. Hampir dua bulan memasuki kampanye itu, pada tanggal 12 Maret 2020, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan virus itu berasal dari Angkatan Darat Amerika Serikat.

23 Januari 2020: Wuhan memulai karantina. Namun, sekitar 5 juta orang telah meninggalkan Wuhan tanpa diuji. Sebuah penelitian pada bulan Maret 2020 memperkirakan 86 persen – sebagian besar dari semua kasus infeksi di Wuhan adalah tidak didokumentasikan sebelum dikarantina.

24 Januari 2020: Hubei mengkarantina 13 kota, membatasi perjalanan untuk total 56 juta orang.

27 Januari 2020: Walikota Wuhan mengakui bahwa pengungkapan wabah ditunda. Namun, ia melepas tanggung jawab, dan menyalahkan birokrasi pemerintah pusat atas keterlambatan pengungkapan tersebut.

31 Januari 2020: Lebih dari 3.000 petugas kesehatan terinfeksi di Hubei. Namun, untuk mempertahankan rahasia tersebut, informasi ini tidak dipublikasikan sampai lebih dari satu bulan kemudian.

3 Februari 2020: Media pemerintah Tiongkok memulai serangan propaganda, mengklaim tanggapan telah berhasil mengendalikan virus  Komunis Tiongkok, dan berbohong kepada dunia mengenai situasi Tiongkok yang sebenarnya.

4 Februari 2020: Organisasi Kesehatan Dunia mendesak untuk tidak ada larangan bepergian. Pada briefing Organisasi Kesehatan Dunia, Tedros mendesak agar tidak ada larangan bepergian, “Kami mengulangi seruan  kami ke semua negara untuk tidak memberlakukan pembatasan yang tidak perlu mengganggu perjalanan dan perdagangan internasional. Pembatasan semacam itu dapat berdampak pada meningkatnya rasa takut dan stigma, dengan sedikit manfaat kesehatan masyarakat… dimana langkah-langkah seperti itu telah dilaksanakan, kami mendesak pembatasan tersebut berdurasi pendek, sebanding dengan risiko kesehatan masyarakat dan dipertimbangkan kembali secara teratur saat situasinya berkembang.”

5 Februari 2020: Xi Jinping membuat penampilan publik pertamanya sejak wabah. Kata-katanya menyiratkan adanya kerahasiaan, saat Xi Jinping mengatakan ia tahu wabah itu sebelum mengeluarkan peringatan.

6 Februari 2020: Seorang juru bicara Tiongkok mengkritik negara-negara yang melarang wisatawan dari Tiongkok dengan mengabaikan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia, “Kami menyesalkan dan menentang negara-negara yang menentang anjuran profesional Organisasi Kesehatan Dunia.”

7 Februari 2020: Tiongkok menolak tim ahli kesehatan Amerika Serikat selama lebih dari sebulan, menolak bantuan dunia dan menyembunyikan situasi di wilayahnya.

12 Februari 2020: Para pemimpin Partai Komunis Tiongkok tingkat provinsi dan kota dipecat setelah melonjaknya kasus-kasus baru, menodai citra tanggapan pengendalian virus yang berhasil.

10 Maret 2020: Xi Jinping mengunjungi Wuhan untuk pertama kalinya sejak wabah dimulai, mencitrakan tanggapan yang efektif.

11 Maret 2020: Setelah lebih dari 100 hari pejabat Tiongkok mengetahui tentang penyakit ini, Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan Pandemi Global.

Tanggung jawab atas terjadinya pandemi ini, jelas berada di pundak Organisasi Kesehatan Dunia – WHO. Kini, terserah dunia dalam menanggapinya. (Vv)

 

 

Share

Video Popular