Bowen Xiao

Opini global mulai bergeser melawan Beijing karena semakin banyak pemimpin dan pejabat menantang atau berusaha mencari pertanggungjawaban dan transparansi dari Komunis Tiongkok atas penanganannya terhadap pandemi.

Para ahli mengatakan kepada The Epoch Times bahwa sedang terjadi perselisihan internasional dan akan terus meningkat, itu ketika negara-negara mulai memikirkan kembali dengan serius hubungannya dengan Beijing. 

Para ahli mengatakan, para pemimpin menjadi lebih waspada terhadap Tiongkok terkait bagaimana Tiongkok menanggapi wabah, yang berawal di Wuhan.

Australia — dalam upaya bipartisan — baru-baru ini meminta peninjauan independen mengenai bagaimana Beijing menangani virus Komunis Tiongkok, yang dikenal luas sebagai jenis Coronavirus baru. 

Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengatakan penyelidikan membutuhkan “kerjasama internasional” dan “harus diwujudkan.” 

Setelah pernyataan Marise Payne yang menyadarkan, Duta Besar Tiongkok Cheng Jingye mengancam Australia dengan “pukulan ekonomi” jika Australia tidak mundur. Marise Payne kemudian menanggapi dengan  mengkritik dan menolak ancaman Cheng Jingye.

Di Inggris, politisi seperti Tom Tugendhat, anggota parlemen konservatif dan ketua Komite Urusan Luar Negeri, langsung menelepon Tiongkok karena telah merahasiakan virus tersebut dan menghambat tanggapan global akibat  menyebarkan kebohongan — sembari juga mempertanyakan apakah mengizinkan teknologi 5G Huawei untuk Inggris adalah permintaan yang tepat.

BACA JUGA :  Editorial The Epoch Times : Untuk Menolak Virus Komunis Tiongkok, “Katakan Tidak Pada Partai Komunis Tiongkok”

Pejabat Downing Street mengatakan Beijing akan menghadapi “perhitungan,” seperti yang dilaporkan oleh The Mail, sementara komunitas intelijen Inggris — MI6 dan MI5 — juga percaya Inggris perlu menilai kembali hubungannya dengan Tiongkok.

Kanselir Jerman Angela Merkel mendesak Komunis Tiongkok untuk “lebih transparan” mengenai kisah asal usul virus tersebut. Ia mengatakan bahwa hal itu akan menguntungkan tanggapan global.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan akan “naif” untuk mengatakan Tiongkok memberikan pandemi lebih baik daripada demokrasi Barat, dan memang ada tidak ada perbandingan seperti itu.

Dalam surat tertanggal 22 April, Kementerian Dalam Negeri Jerman mengatakan diplomat Tiongkok mendekati pejabat Jerman untuk berusaha membujuk mereka membuat pernyataan positif mengenai tanggapan Beijing terhadap pandemi. Kementerian Dalam Negeri Jerman mencatat bahwa “pemerintah federal belum memenuhi permintaan ini.”

Downing Street sejak itu menyingkirkan Tiongkok dari grafik virus pembandingnya yang mencakup data dari sejumlah negara lain, terkait dengan statistik rezim Komunis Tiongkok adalah tidak akurat.

Di Amerika Serikat, tuntutan hukum yang tidak terhitung jumlahnya telah diajukan, mulai dari jaksa agung negara bagian, firma hukum Amerika Serikat, hingga orang-orang Amerika Serikat dari kalangan biasa, yang berupaya mencari keadilan atas tanggapan kecerobohan Tiongkok yang  menurut mereka mengarah ke penyebaran pandemi global.

Carole Lieberman, seorang saksi ahli forensik dan analis hukum, mengatakan negara-negara di seluruh dunia sadar atas gagasan bahwa Komunis Tiongkok  mungkin tidak memilikinya niat baik, dan di mana beberapa negara menganggap hal itu adalah “kebenaran yang tidak nyaman karena mereka ingin menjaga kesepakatan dagang dan manfaat lainnya.”

BACA JUGA : Wuhan Menaikkan Jumlah Kematian Pasien yang Angkanya Dibuat Pas 50%

Negara-negara pada umumnya dianggap kebal terhadap tuntutan hukum terkecuali tindakannya yang mirip dengan terorisme, kata Carole Lieberman kepada The Epoch Times. 

Beberapa penyelidikan mengejar asal usul virus Komunis Tiongkok dan apakah virus tersebut dimaksudkan untuk menjadi senjata biologis, atau apakah virus tersebut berasal dari kondisi laboratorium Tiongkok yang ceroboh — di mana Carole Lieberman mencatat sudah sampai seceroboh itu.

“Meskipun Tiongkok mungkin tidak harus membayar triliunan seperti diincar tuntutan hukum, reputasi Tiongkok sangat terpukul sehingga yang tidak dapat diperbaiki,” kata Carole Lieberman.

“Seluruh dunia akan waspada terhadap apa pun yang berkaitan dengan Tiongkok untuk masa depan yang dapat diduga.”

Dokumen internal pemerintah Tiongkok yang diperoleh The Epoch Times menyoroti bagaimana Komunis Tiongkok dengan sengaja tidak melaporkan kasus virus Komunis Tiongkok yang sebenarnya dan menyensor diskusi mengenai wabah, sehingga memicu penyebaran penyakit.

“Selama bertahun-tahun, orang-orang lebih atau kurang membiarkan hal-hal seperti makanan hewan dan produk bayi yang beracun, produk yang mengakibatkan kanker, manufaktur yang buruk, dan sebagainya, terjadi. Tetapi, Coronavirus akan menjadi sesuatu yang menghancurkan,” Carole Lieberman melanjutkan.

Pejabat dari serentetan negara secara terbuka mengeluhkan menerima pasokan medis yang buruk yang dibeli dari Tiongkok untuk melawan pandemi, yang mencakup Spanyol, Republik Ceko, Turki, Belanda, Kanada, dan Irlandia, dan banyak lagi. Salah satu contohnya, rapid test virus Komunis Tiongkok dari Tiongkok gagal mendeteksi virus secara akurat dalam 70-80 persen semua kasus.

Polling bulan April 2020 oleh perusahaan survei McLaughlin & Associates menemukan bahwa, sebanyak 75 persen orang Amerika Serikat merasa Amerika Serikat harus mengakhiri ketergantungan impor medis dari Tiongkok.

Casey Fleming, ketua dan CEO perusahaan strategi intelijen dan keamanan BlackOps Partners, mengatakan negara-negara dunia bebas mulai bergabung bersama meminta pertanggungjawaban Komunis Tiongkok “tidak hanya atas tanggapannya yang salah tetapi juga meminta pertanggungjawaban ganti rugi uang dan nyawa.”

“Kita perlu berharap Tiongkok berusaha mengendalikan narasi, menyalahkan, dan gunakan paksaan dalam prosesnya,” kata Casey Fleming kepada The Epoch Times.

The Epoch Times mendokumentasikan kisah-kisah beberapa warganegara Tiongkok — termasuk dokter, jurnalis warga, cendekiawan, dan pebisnis yang melaporkan pelanggaran — yang telah dibungkam oleh rezim komunis Tiongkok karena mengungkap kebenaran.

Dalam salah satu tindakan yang lebih kuat dalam menanggapi Tiongkok, Jepang menyisihkan 2 miliar dolar AS dari uang stimulusnya untuk membayar perusahaan guna memindahkan  produksinya di luar Tiongkok, yang menempati peringkat 177 dari 180 Indeks Kebebasan Pers Dunia pada tahun 2019 oleh Reporters Without Borders.

Sadar

“Tidak perlu dipertanyakan” bahwa semakin banyak orang yang sadar akan realitas dari apa yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok, menurut Frank Gaffney, wakil ketua the Committee on the Present Danger: China.

“Negara mana yang menderita di tangan Partai Komunis Tiongkok ini akan berpikir Partai Komunis Tiongkok adalah baik, terutama karena bukti menunjukkan bahwa jika virus ini bukan senjata yang diluncurkan Partai Komunis Tiongkok, yang pasti virus itu berfungsi sebagai satu senjata,” kata Frank Gaffney kepada The Epoch Times.

Frank Gaffney, yang juga sebagai  asisten menteri pertahanan untuk keamanan internasional kebijakan selama pemerintahan Reagan, mengatakan sementara akan sulit untuk meminta negara asing seperti Tiongkok bertanggung jawab penuh atas tindakannya, “setidaknya kita melakukan beberapa hal yang akan menyakiti Tiongkok atas apa yang telah dilakukannya.”

“Saya pikir apa yang akan anda lihat tentu saja terpisah dari segi  rantai pasokan, itu sudah mulai. Saya pikir ada beberapa pemikiran ulang yang terjadi dalam hal perusahaan yang berencana untuk melakukan banyak bisnis dengan Tiongkok,” kata Frank Gaffney. 

Sementara itu, kebijakan baru di India kini mengharuskan investasi asing langsung membutuhkan persetujuan pemerintah India, yang selanjutnya dapat memburuk hubungan antara Tiongkok dengan India.

Tetapi bukan hanya politikus dan pemimpin yang menentang Komunis Tiongkok, warga biasa mulai menyuarakan sentimen yang sama.

Saat orang Amerika Serikat berjuang memerangi krisis yang belum pernah dialami sebelumnya, sebuah jajak pendapat tanggal 21 April oleh Pew Research Center menemukan 66 persen orang Amerika Serikat kini  berpendapat negatif mengenai Tiongkok — persentase tertinggi yang direkam sejak Pew Research Center mulai mengajukan pertanyaan pada tahun 2005. Pandangan-pandangan itu juga dipegang oleh Partai Demokrat dan Partai Republik.

Dalam jajak pendapat YouGov di Inggris yang dilakukan pada tanggal 17 April, mayoritas, 50 persen, memberikan suara bahwa mereka tidak percaya “sama sekali” angka kematian virus Komunis Tiongkok yang dilaporkan oleh pemerintah Tiongkok. Opsi tertinggi kedua, menerima 32 persen dari memilih, adalah bahwa mereka “tidak sepenuhnya mempercayai angka-angka itu.”

Kerahasiaan yang dimiliki  Komunis Tiongkok, yang membuat pandemi ini secara eksponensial menjadi lebih buruk bagi seluruh dunia, menandai kebangkitan warga di seluruh dunia untuk”sepenuhnya memahami kejahatan Komunisme Tiongkok yang sebenarnya,” menurut Casey Fleming.

Casey Fleming menambahkan bahwa sentimen yang tumbuh melawan Komunis Tiongkok dapat menyebabkan hengkangnya perusahaan Amerika Serikat dan Barat dari Tiongkok. Lebih jauh, memisahkan diri dari komunis Tiongkok serta menyebarkan risiko rantai pasokannya di seluruh dunia.  Sementara itu, juga mencatat bahwa kebijakan keamanan nasional Amerika Serikat sedang bergeser, seperti terlihat dalam strategi Kontra-Intelijen Nasional yang baru.

“COVID-19 telah memaksa dunia untuk tetap berada di rumah dengan kehilangan kebebasan dan pendapatan dan banyak waktu luang untuk menonton pandemi, bagaimana tanggapan Komunis Tiongkok, dan pembantaian yang disebabkan Partai Komunis Tiongkok,” kata Casey Fleming.

“Adalah wajar bagi warganegara dan pemerintah di seluruh dunia untuk menginginkan si pelanggar untuk bertanggung jawab. Dengan melakukan itu, mereka akan melucuti  jubah si roh jahat Komunis Tiongkok sejati,” tambah Casey Fleming. (Vivi/asr)

Share

Video Popular