NTD, Luo Tingting

Dampak pandemi membuat warga melewati hari-hari dengan “mengencangkan ikat pinggang.” Langkah itu menjadi pilihan yang terpaksa diambil oleh masyarakat Tiongkok. Para pemudanya mulai menjual barang-barang pribadi mereka secara online. Orang-orang berduit terpaksa mengurangi pengeluaran dan membelanjakan uang dengan hati-hati. 

Seperti dikutip dari NTDTV.com, banyak warga kota Wuhan yang baru saja terbebas dari lockdown kini hidup seperti orang miskin. Sementara itu,masyarakat Heilongjiang yang telah terkena dampak serius dari epidemi baru-baru ini mengeluh dengan berkata : “Kita sudah tidak bisa bertahan lagi.”

Anak-anak muda yang Gila Belanja Beralih Menjual Barang-barang Miliknya

Epidemi pneumonia komunis Tiongkok telah memperburuk ekonomi Tiongkok yang sudah menurun. Masyarakat selain mengurangi belanja, juga menjajakan secara online sejumlah barang-barang mereka yang jarang terpakai untuk mendapatkan uang. Platform jual-beli barang milik Alibaba ‘Xianyu’ telah menjadi pilihan favorit bagi banyak pelapak.

Seorang ibu guru di Guilin berusia 27 tahun, Tang Yue mengatakan, dikarenakan sekolah diliburkan dan dilakukan pemotongan gaji, ia terpaksa menutupi kekurangan dana untuk bertahan hidup dengan menjual barang milik pribadinya secara online.

“Epidemi bagaikan alarm yang membangunkan kita. Saya baru sadar bahwa sekali kecelakaan terjadi, saya tidak memiliki penyangga ekonomi,” kata Tang Yue.

Selama 2 bulan terakhir, Tang Yue telah menjual secara online barang-barang milik pribadinya senilai hampir 5.000 renminbi di pasar sekunder.

“Saya dulu berbelanja terlalu banyak dan mudah tertarik oleh penjualan berdiskon,” kata seorang wanita bernama Jiang Zhuoyue yang bekerja untuk sebuah perusahaan obat Tiongkok di Beijing. Akan tetapi epidemi telah mengubah konsep konsumsinya. Baru-baru ini, dia telah menjual hampir 50 potong pakaian pribadinya.

Seorang wanita yang mengenakan masker sedang duduk sendirian dalam toko di Wuhan. (Getty Images)

Orang Berduit Mengurangi Pengeluaran

Bahkan orang berduit sudah mulai memilih untuk menabung lebih banyak dan mengonsumsi lebih sedikit. 

The Wall Street Journal melaporkan pada 4 Mei bahwa Wu Yun, seorang eksekutif berusia 40 tahun dari sebuah grup perusahaan swasta Tiongkok di Shanghai, mengatakan bahwa ia sekarang harus lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

Meskipun pendapatan Wu Yun tidak terpengaruh oleh adanya epidemi, tetapi ia memilih untuk mengontrol pengeluaran dan membatalkan rencana liburan ke luar negeri dan membeli properti baru.

Wang Haitian yang bekerja di sebuah perusahaan dana investasi di Shanghai berencana untuk mengganti mobil Nissan-nya dengan Tesla Model 3 pada tahun ini, tetapi wabah telah mengubah pikirannya.

Wang Haitian, pria berumur 31 tahun ini mengatakan bahwa, ketika Anda mendengar berita dari  ekonomi sampai pasar saham semua sedang tumbuh negatif. Ia mengatakan, nyali untuk meningkatkan pengeluaran semakin menciut. Ia berpikir  memegang uang tunai kini lebih aman.

Perusahaan startup di bidang yang berkaitan dengan pendidikan tempat Lynn Zhou bekerja tetap ditutup mulai bulan Februari lalu. Sejak kehilangan setengah dari penghasilannya, ia telah mengubah prioritas pengeluaran sebelumnya.

Lynn Zhou, wanita berusia 33 tahun mengatakan bahwa epidemi pneumonia komunis Tiongkok memaksanya untuk mulai berpikir tentang apa yang sebenarnya penting dalam hidupnya. Dia mengatakan bahwa memiliki tas tangan Louis Vuitton tidak melindungi orang terancam jadi korban epidemi.

Reuters mengutip hasil survei terbaru dari McKinsey, sebuah perusahaan konsultan internasional terkenal, menunjukkan bahwa 20% hingga 30% responden di Tiongkok memilih untuk menyikapi kondisi ekonomi yang dialami negaranya dengan mengurangi pengeluaran.

Orang berduit pun mulai memilih hidup dengan mengurangi pengeluaran. (Getty Images)

Kembali ke kehidupan miskin

Dibawah dampak epidemi ini, banyak warga Tiongkok kehilangan pekerjaan dan penghasilan, dan hidup mereka dalam kesulitan. Ms. Yang, yang tidak mau mengungkapkan nama lengkapnya, yang khawatir tidak dapat menemukan pekerjaan memilih untuk hidup berhemat.

Mr. Wang, warga Wuhan mengatakan bahwa epidemi telah menyebabkan perusahaan tempat ia bekerja mengalami penyusutan pendapatan. Saat ini ia sudah berada di ambang PHK, terpaksa “mengencangkan ikat pinggang”.

“Irit, irit, memilih irit, dulu kita sering keluar makan bersama teman-teman, sekarang pada dasarnya telah berkurang atau ditiadakan. Belanja juga sama. Dulu yang saya pikir adalah apakah saya suka atau tidak, sekarang lebih cenderung untuk mempertimbangkan apakah harganya sesuai”, kata Mr. Wang.

Sejak epidemi menyebar, Zhang Zhan, seorang wanita pengacara hak asasi manusia Shanghai yang telah tinggal di Wuhan sebagai reporter warga mengatakan kepada Epoch Times bahwa setelah pembebasan lockdown, standar hidup warga Wuhan menurun drastis. “Masyarakat mulai menjalani cara hidup orang miskin”, katanya.

Zhang Zhan melihat dengan mata kepala sendiri, banyak warga Wuhan hanya makan semangkuk mie yang tanpa sayuran, tanpa telur dadar yang nilainya paling-paling 10 Sen untuk sekali makan. Itulah makan siang mereka. Baik para pemudanya maupun para pekerja semua begitu, sangat berbeda jauh dengan hari-hari normal dulunya yang memakai nasi dengan lauk daging, sayur, telur dan lainnya.

Seorang pekerja kebersihan mengatakan kepadanya bahwa masalah yang dihadapi sekarang ini adalah apakah masih dapat bertahan hidup. Semua orang mencoba yang terbaik untuk menghemat uang. “Warga secara perlahan-lahan kembali ke kehidupan miskin”.

Banyak Warga Tiongkok kehilangan pekerjaan dan penghasilan, mulai menjalani hidup sebagai orang miskin. (Getty Images)

Zhang Zhan juga menceritakan bahwa seorang pekerja wanita di sebuah rumah sakit kehilangan kemampuannya untuk bekerja karena dia terinfeksi virus komunis Tiongkok, dan rumah sakit tempat dia bekerja tidak mengambil peduli dengannya. Dia sama sekali tidak punya jaminan hidup, tetapi dia tidak berani membela hak-haknya untuk menuntut perusahaan atau pemerintah karena takut dengan akibatnya. Akhirnya dia memilih untuk menekan biaya hidup sendiri sampai tingkat yang paling bawah, dan mulai menjalani hidup miskin.

Selain warga Wuhan, kehidupan warga Heilongjiang yang masih dilanda epidemi juga sulit. Seorang wanita Mudanjiang yang memposting sebuah video secara online, sambil meneteskan air mata mengatakan : “Kami benar-benar tidak mampu bertahan lagi”.

Wanita tersebut mengatakan, ke toko, kebanyak toko tidak buka. Dalam pusat perbelanjaan pun tidak ada orang, ini sudah terjadi selama 5 bulan, terlalu sulit. Rakyat hampir tidak memiliki simpanan lagi, pengusaha swasta hampir semuanya kehilangan bisnis, para pekerja kehilangan lapangan kerja.

“Beban di pundak kita terlalu berat, kita wajib membayar angsuran KPR, KPM, anak dan bini di rumah. Saya tidak tahu kondisi orang lain. Omong-omong saat saya ke supermarket, saya tidak lagi memilih barang kebutuhan yang berharga mahal, tetapi yang paling murah, atau yang berdiskon. Karena keranjang saya hanya berisi uang untuk pengeluaran tanpa ada pemasukan lagi. Entah, masih berapa lama lagi saya mampu bertahan”, katanya.

Sin/Asr

Video Rekomendasi

Share

Video Popular