Ntdtv.com- Pada Selasa 5 Mei 2020, Reuters mengutip beberapa sumber mengatakan, sebuah laporan internal Komunis Tiongkok menyimpulkan bahwa pandemi virus Komunis Tiongkok telah meningkatkan permusuhan internasional terhadap Komunis Tiongkok yang belum pernah terjadi sebelumnya. Permusuhan telah mencapai tingkat tertinggi sejak penumpasan berdarah di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989 silam.

Laporan itu ditulis oleh “Institut Hubungan Internasional Kontemporer Tiongkok (CICIR)”. Laporan telah diserahkan kepada para pemimpin senior Beijing termasuk Presiden Xi Jinping awal bulan lalu. Lembaga ini adalah lembaga think tank di bawah Kementerian Keamanan Nasional Partai Komunis Tiongkok.

Karena Komunis Tiongkok menutupi informasi epidemi,  menyebabkan virus Komunis Tiongkok kini menyebar ke 187 negara dan wilayah di seluruh dunia. 

Lebih dari 3,5 juta orang terjangkit dan lebih dari 250.000 orang meninggal dunia. Hingga akhir April 2020, setidaknya delapan negara dari lembaga resmi atau swasta telah mengajukan tuntutan terhadap otoritas Komunis Tiongkok. Jumlah kompensasi yang diklaim mencapai ratusan miliar dolar Amerika Serikat.

Lan Shu, seorang komentator tentang peristiwa terkini di Amerika Serikat, mengatakan bahwa sentimen anti-Komunis yang dipicu oleh epidemi akan melampaui peristiwa berdarah 4 Juni di lapangan Tian-anmen, Beijing, Tiongkok 1989 silam.

Lan Shu, seorang komentator tentang masalah saat ini di Amerika Serikat, mengatakan: “Ketika berbicara tentang peristiwa 4 Juni dan hak asasi manusia di Tiongkok, banyak orang di Barat yang berpikir itu adalah masalah Tiongkok. Tapi kali ini beda, karena Komunis Tiongkok menutupi informasi epidemi, karena tidak ada kebebasan pers dan kebebasan berbicara, sehingga menyebabkan puluhan juta orang Barat kehilangan orang-orang yang mereka cintai dan kehilangan pekerjaan. Ditilik dari jangka panjang, sentimen anti-komunis dari komunitas internasional yang diciptakannya itu jauh melebihi penindasan Komunis Tiongkok pada 4 Juni 1989 silam. “

Laporan tersebut memperingatkan bahwa telah terjadi gelombang anti-Tiongkok di dunia yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Dalam kondisi terburuk, Beijing mungkin harus mempersiapkan diri untuk konflik militer dengan Amerika Serikat.

Reuters menegaskan bahwa mereka tidak dapat menentukan sampai sejauh mana penilaian gamblang yang dijelaskan dalam laporan itu mencerminkan posisi yang dipegang oleh para pemimpin Negara Tiongkok. Termasuk, apakah itu akan mempengaruhi kebijakan.

“Tetapi penyajian laporan itu menunjukkan betapa seriusnya Beijing menghadapi ancaman serangan balik yang dapat mengancam apa yang dilihat Tiongkok sebagai investasi strategisnya di luar negeri dan pandangannya terhadap keamanannya,” tulis Reuters..

Zheng Haochang, seorang komentator tentang peristiwa terkini di Amerika Serikat menyatakan bahwa meski pun laporan internal Komunis Tiongkok tidak ditulis seperti itu, para pemimpin senior Komunis Tiongkok merasa bergidik. Masalahnya adalah bahwa laporan tersebut salah tentang dasar-dasar penilaian krisis. Itu jelas merupakan provokasi Komunis Tiongkok. Namun, Komunis Tiongkok justru menyalahkan Amerika Serikat. 

Itu merupakan kebiasaan komunis Tiongkok yang merasa baik tentang diri mereka, menggunakan kebohongan mempermainkan orang, dan menipu diri sendiri. Orang lain selalu disalahkan jika ada masalah. 

Oleh karena itu, laporan tersebut tidak akan memiliki efek positif pada masa depan Komunis Tiongkok, sebaliknya hanya akan berdampak negatif, karena mereka sama sekali tidak menemukan inti masalahnya.

Namun, bagaimana antipati komunitas internasional terhadap Komunis Tiongkok hingga berkembang ke titik seperti itu ?

Setelah pecahnya wabah, Komunis Tiongkok lebih dulu meluncurkan “diplomasi masker” pada awal Februari lalu, sebagai imbalan jasa kebaikan Komunis Tiongkok karena menjual atau menyediakan pasokan medis ke negara lain yang terkena wabah, sekaligus mempromosikan sistem Komunis Tiongkok.

Namun, surat kabar Prancis Le Monde yang terbit pada akhir April lalu mengatakan, bahwa “diplomasi masker” Beijing gagal, karena tidak berhasil mengubah dan memperbaiki citra Tiongkok, juga tidak membuat lupa orang-orang terkait tanggung jawab Beijing atas pandemi tersebut.

Kemudian pada bulan Maret, Komunis Tiongkok memulai “Diplomasi Prajurit Serigala” yakni pendekatan yang lebih agresif untuk mempromosikan narasi resmi negara. Suara media partai Komunis Tiongkok yang berapi-api mengatakan bahwa “dunia harus berterima kasih kepada Tiongkok”. Terutama juru bicara Kementerian Luar Negeri Zhao Lijian yang menyatakan di twitter, bahwa virus Komunis Tiongkok mungkin dibawa ke Wuhan oleh militer Amerikia Serikat , sehingga memicu opini publik internasional. 

Selanjutnya Komunis Tiongkok menyalahkan Italia, Iran dan negara-negara lain. Harian “Shang Bao” Taiwan menerbitkan komentar “Diplomat Tiongkok harus berjuang keras,” mengatakan bahwa Diplomasi prajurit serigala Komunis Tiongkok telah menyinggung dunia. Selain Amerika Serikat dan Eropa, India dan Brasil, bahkan beberapa negara kecil di Eropa dan Afrika juga telah mengeluhkan hal itu.

Diplomasi yang saat ini diadopsi oleh Komunis Tiongkok disebut “diplomasi marah-marah” oleh VOA. Corong komunis Tiongkok, CCTV terus mencerca Menteri Luar Negeri Amerika Serikat  Mike Pompeo selama beberapa hari berturut-turut. Namun, tak disangka, popularitas Pompeo di Tiongkok bukannya menurun, malah  sebaliknya justeru meningkat. Efeknya membuat Departemen Propaganda Pusat Komunis Tiongkok segera menghapus postingan itu. 

Adapun mengenai Amerika Serikat, Australia dan negara-negara lain yang mengusulkan penyelidikan independen terhadap virus Komunis Tiongkok, media Komunis Tiongkok juga terus mengkritik dan mengecamnya. Tetapi semakin banyak negara juga telah menyerukan untuk menuntut pertanggungjawaban Komunis Tiongkok.

Menurut Lan Shu, komentator peristiwa terkini, gelombang pertanggungjawaban saat ini sebenarnya dari Tiongkok dan Barat. Pemerintah Barat, masyarakat Barat, dan orang-orang akar rumput di Tiongkok semuanya perlu mengetahui fakta sebenarnya. Jadi satu-satunya cara yang tersisa bagi Komunis Tiongkok mengerahkan corong resminya dan secara verbal menyalahkan, mengecam Barat. Karena Komunis Tiongkok tidak ada cara yang lebih baik untuk mengatasinya.

Zheng Haochang, seorang komentator di Amerika Serikat mengatakan bahwa selanjutnya Komunis Tiongkok akan merasakan semakin kritis, dan akan semakin tegas untuk menjaga stabilitas internal, dan semakin keras secara eksternal. Namun, akibatnya akan menimbulkan antipati dan perlawanan yang lebih besar.

Johny  / rp 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular