EEpochtimes, oleh Zhang Yujie

Media berita keuangan Taiwan mengutip analisis pada 8 Mei 2020 melaporkan bahwa, sebagai tanggapan terhadap arus keluar valuta asing di Tiongkok, pabrik dipaksa untuk melanjutkan produksi dalam keadaan tanpa pesanan karena situasi epidemi belum membaik. Maka langkah yang diambil komunis Tiongkok selanjutnya kemungkinan adalah melarang warga negara daratan Tiongkok bepergian ke luar negeri.

Menurut analisis artikel, sesuai dengan derasnya arus keluar valuta asing dari daratan Tiongkok, ditambah lagi dengan perusahaan-perusahaan Eropa, Amerika dan Jepang menarik kembali modal mereka, ditambah tuntutan kompensasi global atas menyebarnya epidemi komunis Tiongkok atau pneumonia Wuhan, kebijakan mengunci negara sampai tingkat tertentu atau secara menyeluruh bisa dipraktikkan pada tahun ini.

Baru-baru ini, ada berita dari warga Tiongkok yang menyebutkan bahwa paspor milik warga, termasuk siswa Tiongkok wajib diserahkan kepada instansi yang ditunjuk untuk “disimpan”. Bahkan sekarang lebih sulit dalam mengajukan paspor. Warga yang tidak terdesak untuk keluar negeri enggan untuk mengurus paspor karena dipersulit.

Analisis menunjukkan bahwa bahkan jika epidemi sudah berakhir di kemudian hari, apakah fenomena turis asal Tiongkok berbondong-bondong mengunjungi luar negeri masih dapat terlihat atau tidak. Sekarang warga Tiongkok yang terkunci di dalam negerinya tampak semakin banyak. Jika pada waktunya pasokan kebutuhan makin berkurang, dan tidak dapat terpenuhi oleh impor, komunis Tiongkok kemungkinan akan memulai kembali sistem pembagian makanan dengan kupon seperti yang yang pernah terjadi dari tahun 1955 hingga 1993.

Menurut data perdagangan luar negeri Tiongkok, nilai total perdagangan luar negeri Tiongkok pada kuartal pertama tahun ini turun 6,4% Year over year, dengan ekspor turun 11,4%, impor turun 0,7%. Di antaranya, ekspor ke Amerika Serikat turun 23,6%, dan surplus perdagangan luar negeri turun 80,6% Year over year. 

Pada akhir kuartal pertama tahun 2020, cadangan devisa Tiongkok adalah  3,06 triliun dolar AS, turun sebanyak  47,3 miliar dolar AS dari akhir tahun 2019.

Analisis menunjukkan bahwa jika dikurangi dengan utang luar negeri yang jumlahnya  2 triliun dolar AS, dan investasi langsung yang dapat ditarik pihak asing setiap saat sebanyak  540 miliar dolar AS, dan pembayaran cadangan pengaman devisa impor 2 bulan yang jumlahnya  360 miliar dolar AS, maka valuta asing efektif yang tersisa tinggal  200 miliar dolar AS. Jika pesanan luar negeri kepada produsen Tiongkok pada kuartal kedua masih terjadi penyusutan sebagaimana yang diramalkan banyak orang, maka kemampuan otoritas Tiongkok untuk mempertahankan valuta asing akan menjadi sangat berat.

Meskipun komunis Tiongkok mengumumkan bahwa ekspor dan cadangan devisa pada bulan April mengalami pertumbuhan, tetapi analisis menunjukkan bahwa dari perspektif kegiatan perdagangan aktual, itu hanya fenomena yang “datang dan pergi” alias berumur pendek. Prospeknya tidak optimis. Data menunjukkan bahwa ekspor bulan April yang dikonversikan dalam nilai dolar AS telah meningkat 3,5%, dan impor turun 14,2%, cadangan devisa Tiongkok pada akhir bulan April adalah 3,9 triliun dolar AS.

Ahli keuangan Tiongkok He Jiangbing mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa ekspor Tiongkok terbesar saat ini adalah masker, pakaian pelindung, ventilator, dan produk desinfektan. Ini yang mendongkrak kenaikan ekspor pada bulan April, tetapi banyak yang minta diretur oleh Eropa, Amerika Serikat dan negara-negara Asia. 

Julian Evans-Pritchard, ekonom dari Capital Economics, sebuah perusahaan riset ekonomi yang berbasis di London mengatakan bahwa ekspor Tiongkok mungkin menurun pada bulan Mei. Ia berkata : “Berbicara soal perdagangan daratan Tiongkok, situasi yang semakin buruk masih ada di belakang.”

Zhong Zhengsheng, ketua think tank Caixin Monita Research mengatakan bahwa ekonomi daratan Tiongkok menderita goncangan ekspor yang parah pada bulan April, yang akan memiliki efek riak pada pendapatan, konsumsi, dan investasi perusahaan penduduk. Stimulasi infrastruktur yang ditawarkan komunis Tiongkok tidak cukup untuk sepenuhnya menanggulangi penurunan mendadak dari permintaan asing. Sehingga ekonomi Tiongkok masih berada di jalur resesi.

(sin/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular