oleh Chen Han – NTDTV.com

Presiden Xi Jinping pada 21 Januari dilaporkan pernah melakukan pembicaraan telepon dengan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia -WHO- Tedros Adhanom Ghebreyesus. 

Terungkap dalam pembicaraan itu, bahwa Xi Jinping meminta WHO untuk tidak mempublikasikan berita tentang virus dapat menular di antara manusia. Xi juga meminta WHO menunda peringatan mengenai epidemi berpotensi menjadi pandemi global.

Laporan itu berdasarkan informasi dari Federal Intelligence Service atau Bundesnachrichtendienst -BND- pada edisi terbaru media Jerman, ‘Der Spiegel.’

Akhirnya WHO sesuai dengan permintaan Xi Jinping, bahkan sampai 21 Januari masih mengumumkan bahwa tidak terbukti virus dapat menular di antara manusia. Padahal sehari sebelumnya Zhong Nanshan, pakar komunis Tiongkok sudah menyampaikan adanya bukti virus dapat menular dari manusia ke manusia dan sudah ada staf medis yang tertular.

Pada 23 Januari kota Wuhan di-lockdown, tetapi WHO dalam pertemuan komite darurat di Jenewa, bos WHO Tedros tidak menyatakan epidemi pneumonia komunis Tiongkok sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat internasional atau PHEIC. Ia bahkan menegaskan bahwa pembatasan perjalanan ke daratan Tiongkok tidak perlu.

Sampai pada 30 Januari, WHO baru menyatakan epidemi pneumonia komunis Tiongkok sebagai darurat kesehatan masyarakat internasional. Namun demikian, Tedros mengatakan bahwa ini bukan tindakan ketidakpercayaan terhadap Tiongkok.

Hingga 11 Maret epidemi sudah menyebar ke banyak negara, WHO baru secara resmi mengumumkan bahwa epidemi komunis Tiongkok telah menjadi pandemi global. Tetapi sehari sebelumnya, Xi Jinping menyatakan di Wuhan bahwa ia berhasil memenangkan perang rakyat melawan epidemi.

Laporan media Jerman (Screenshoot)

Kesimpulan yang diperoleh Intelijen Jerman adalah komunis Tiongkok menghalangi penyebaran berita tentang kebenaran epidemi yang terjadi di daratan Tiongkok. Sehingga dunia kehilangan 4 hingga 6 minggu waktu untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan penyebaran virus.

Tian Yuan, komentator politik asal Tiongkok yang sudah tinggal di AS mengatakan : Ia pribadi berpendapat bahwa keandalan berita dari intelijen ini pasti tinggi, Jika tidak BND tidak akan  merilis informasi ini. Karena jika Anda di Barat merilis sebuah informasi yang tidak pasti dan tidak berdasar, itu dapat menimbulkan perselisihan diplomatik. Selain itu, sama sekali tidak ada manfaat yang dipetik”.

Presiden Trump saat menjawab pertanyaan wartawan pada 8 Mei mengatakan, virus berasal dari negaranya komunis Tiongkok, sebetulnya dapat dengan mudah dikendalikan dari kota Wuhan, tetapi sekarang telah menyebar ke seluruh dunia.

Trump berkata : “Mereka telah berbuat kesalahan yang sangat mengerikan, mungkin karena ketidakmampuan, ada orang yang bodoh, mereka tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Ini terlalu buruk.”

Menurut Tian Yuan bahwa Presiden Trump seharusnya sudah menerima informasi yang sama seperti yang diterima BND Jerman, sebelum ia dapat membuat pernyataan seperti itu. Oleh karena itu, mimpi komunis Tiongkok yang ingin membuat kecil peristiwa besar bahkan sedapat mungkin tidak tampak menjadi gagal total.

Tian Yuan : “Komunis Tiongkok yang berupaya menyembunyikan epidemi pasti termotivasi oleh sesuatu tujuan. Karena birokrasinya berlapis-lapis, dan mekanismenya adalah terlepas dari apakah pemerintah daerah atau pemerintah pusat, semuanya wajib mengatakan keputusan yang mereka ambil itu baik meskipun salah, dan jika salah coba diperkecil pengaruhnya sampai kemudian menjadi hilang dari pembicaraan.”

Media Jerman Der Spiegel

Mari kita lihat bagaimana komunis Tiongkok menangani epidemi ini.

Pada 1 Desember tahun lalu, otoritas kota Wuhan mengonfirmasi kasus pertama. Pada 31 Desember, Komisi Kesehatan Kota Wuhan mengetahui ada 27 kasus infeksi coronavirus jenis baru. Tetapi pada 1 Januari, otoritas Wuhan melakukan penyelidikan dan menghukum Dr. Li Wenliang yang mengeluarkan peringatan adalah wabah beserta kedelapan dokter lainnya. 

Pada 11 Januari, satu dari 41 orang pasien di Wuhan meningga dunial. Kemudian, pada 20 Januari, sudah ada 136 orang didiagnosis terinfeksi virus komunis Tiongkok tersebut.

Zhong Nanshan untuk pertama kalinya mengakui bahwa virus bisa menular antar manusia. Ia mengungkapkan adanya 14 orang tenaga medis yang terinfeksi. Kota Wuhan dan kota-kota dekat lainnya mulai mengumumkan penutupan kota pada 23 Januari.

Tercatat hingga saat ini, epidemi pneumonia Wuhan telah menyebar ke 212 negara dan wilayah, menyebabkan lebih dari 4 juta populasi dunia terinfeksi dan lebih dari 280.000 orang meninggal dunia.

Komentator politik Zheng Haochang percaya bahwa komunis Tiongkok menggunakan pemikiran terdistorsi.  Yang mana mengharuskan Organisasi Kesehatan Dunia untuk tidak mempublikasikan fakta virus dapat menular di antara manusia. Sehingga menyebabkan terjadinya pandemi global dan terhentinya roda perputaran ekonomi. Tiongkok sendiri juga menanggung akibatnya. 

Zheng Haochang mengatakan, ada 2 kemungkinan yang menjadi alasan mengapa komunis Tiongkok bertindak  membahayakan orang lain : Pertama adalah bahwa pencucian otak komunis Tiongkok mungkin juga telah membuat pikiran para pejabatnya menjadi tidak lagi bisa berpikir secara logis, sehingga mereka benar-benar kehilangan logika mereka. Kedua adalah unsur kesengajaan dari ideologi komunis. Bukankah tujuan akhir dari komunisme adalah untuk mencelakakan umat manusia.

Zheng Haochang berkata : “Jika karena alasan kedua, sekarang kita melihat kembali ke buku baru dari serial ‘9 Komentar Tentang Komunisme’, yakni ‘Tujuan Akhir dari Komunisme’  yang diterbitkan sebelum wabah. Di antaranya disebutkan bahwa tujuan utama komunisme adalah untuk menghancurkan umat manusia. Saya pikir ini tentang akar masalahnya”.

Tian Yuan menambahkan bahwa di masa lalu, Barat percaya bahwa berbisnis dengan komunis Tiongkok akan membantu negara komunis ini mereformasi diri. Selain itu, diyakini bisa membuka diri lalu berubah menjadi negara yang demokrasi. Tetapi epidemi ini membuat Barat menyadari bahwa harapan di masa lalu itu keliru. Tidak peduli seberapa banyak uang yang Barat hasilkan dari berbisnis dengan komunis Tiongkok, sekali pengrusakan yang mereka buat itu akan membuat Barat mengeluarkan biaya beberapa kali lipat dari yang dihasilkan dalam berbisnis dengan mereka.

Tian Yuan juga mengatakan, jika Barat masih terus menuruti dan menenangkan komunis Tiongkok, maka Barat akan menghadapi masa depan yang lebih sulit. Karena membiarkan komunis Tiongkok terus bertindak semena-mena, itu akan menciptakan lebih banyak bencana kemanusiaan. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share

Video Popular