Epochtimes, oleh Zhang Ting

Seiring dengan meningkatnya ketegangan hubungan antara Komunis Tiongkok  dengan Amerika Serikat, Beijing Beijing berharap bisa melepas ketergantungan chip dari Amerika. 

Menurut data dari perusahaan riset pasar ‘IC Insights’, penjualan chip kuartal terakhir perusahaan desain chip Huawei ‘HiSilicon’ mengalami peningkatan sebesar 54% dibandingkan dengan tahun lalu.

Tetapi ‘Wall Street Journal’ membantah jika Huawei sudah mencapai swasembada sepenuhnya. Disebutkan bahwa Hisilicon adalah perusahaan semikonduktor yang tidak memiliki pabrik sendiri. Hisilicon  bergantung pada chip yang diproduksi oleh perusahaan seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Co., Ltd. (disebut TSMC). Administrasi Trump juga sedang menyiapkan peraturan yang dapat membatasi penjualan TSMC ke HiSilicon.

Disebutkan bahwa Huawei dapat mentransfer sebagian dari pesanannya ke Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC), tetapi teknologi di sana masih lebih rendah dari para pemimpin dalam industri yang sama seperti TSMC dan Samsung. 

Namun, saham SMIC yang terdaftar di Bursa Saham Hongkong telah naik 43% tahun ini, karena investor mengharapkan pesanan dari perusahaan Tiongkok lainnya bisa meningkat.

Meski begitu, analis Wall Street Journal menyebut bahwa jika pemerintahan Trump memutuskan untuk meningkatkan tekanan pada Tiongkok, kemampuan SMIC pada akhirnya akan menurun. Kementerian Perdagangan Amerika Serikat pekan lalu mengatakan akan memperluas peninjauan keamanan terhadap daftar produk dan teknologi Amerika  sebelum dikirim ke Tiongkok. Produksi SMIC bergantung pada peralatan manufaktur semikonduktor asing, termasuk dari Amerika Serikat.

Artikel itu berpendapat bahwa meskipun Beijing berkeinginan untuk mencapai swasembada chip, tetapi Amerika Serikat masih memegang “kartu Trump” yang kuat di puncak rantai nilai,  tergantung mau digunakan atau tidak.

Pabrikan : Pengembang chip Tiongkok tanpa teknologi Amerika Serikat bisa mati di tengah jalan 

Sejak tahun 2014, pemerintah Tiongkok telah banyak berinvestasi dalam pengembangan industri chip lokal, mendorong jumlah perusahaan desain chip Tiongkok menjadi berlipat ganda dalam beberapa tahun terakhir.

Tiongkok dan Amerika Serikat tahun lalu selain sibuk berperang dagang, perang teknologi juga tidak kalah serunya. Kementerian Perdagangan Amerika Serikat telah menempatkan raksasa teknologi Tiongkok, Huawei dan memasukkan lebih dari 100 unit anak perusahaannya yang tersebar di seluruh dunia ke dalam daftar hitam kontrol ekspor atau juga dikenal sebagai ‘daftar entitas’. Semua produk yang mengandung sedikitnya 25% dari teknologi Amerika  tidak dapat dijual ke Huawei tanpa izin dari pemerintah Amerika Serikat.

Perusahaan yang masuk daftar hitam harus mengajukan permohonan lisensi dari Amerika Serikat terlebih dahulu jika mereka ingin membeli produk dan teknologi Amerika. Akan tetapi kemungkinan yang dapat lolos persetujuan sangat kecil. Ini setara dengan secara efektif melarang entitas yang masuk daftar hitam untuk mendapatkan produk dan teknologi Amerika Serikat.

Nikkei Asian Review sebelumnya pernah mengutip ucapan seorang eksekutif dari produsen chip terkemuka di Tiongkok melaporkan : “Meskipun komunis Tiongkok memiliki pilihan lain, tetapi kesenjangan teknologinya terlalu besar”.

Pabrikan chip tersebut mengandalkan teknologi Amerika untuk desain chipnya. 

“Jika kita tidak bisa mendapatkan perangkat lunak Amerika atau tidak dapat menerima pembaruannya, maka pengembangan chip kita akan mati di tengah jalan,” kata eksekutif itu.

Seorang eksekutif senior dari perusahaan pembuat chip Shanghai Zhaoguan Electronic Technology Co., Ltd. (NextVPU) menyatakan keprihatinan yang sama.

 “Jika tidak mendapatkan pembaruan perangkat lunak dari vendor perangkat lunak di Amerika, usaha komunis Tiongkok untuk mendorong pencapaian swasembada chip akan menabrak dinding,” kata eksekutif tersebut kepada Nikkei Asian Review.

Bloomberg sebelumnya juga melaporkan bahwa komunis Tiongkok sangat bergantung pada Amerika Serikat untuk chip komputer. Perusahaan-perusahaan Amerika, Intel dan NVIDIA mendominasi pasar prosesor global, dan ini adalah komponen utama laptop dan desktop. 

Pilihan lain adalah perusahaan Amerika, AMD, yang merupakan perusahaan semikonduktor ultramicro. Selain itu, chip ponsel dan chip switching Tiongkok sangat tergantung pada pemasok Amerika.

Seorang eksekutif dari perusahaan pembuat chip kecerdasan buatan mengatakan bahwa perusahaan Tiongkok masih lebih suka menggunakan chip impor berkualitas atas daripada chip yang diproduksi dalam negeri untuk dipasang pada pusat data dan aplikasi kompleks lainnya. Tidak hanya kinerja dari chip Tiongkok yang tertinggal, tetapi biayanya juga meningkat secara signifikan. Kadang-kadang karena skala produksi terbatas, biayanya jadi lebih tinggi sampai 50%. Keragu-raguan tentang penggunaan chip domestik ini menyulitkan pengembang chip Tiongkok untuk meningkatkan teknologi mereka.

sin/ rp 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular