oleh Li Yun – NTDTV.com

Sejumlah media melaporkan bahwa roket ‘Long March 5B’ diluncurkan pada 5 Mei 2020 dengan membawa sebuah kabin berawak yang mirip dengan ‘Dragon Spaceship 2’ untuk pengujian perdana, tetapi roket besar dengan berat 18 ton ini mengalami kelainan selama proses kembali ke bumi.

Setelah mengorbit bumi selama seminggu, inti roket bertabrakan dengan atmosfer kemudian meluncur keluar jalur tanpa terkendali masuk atmosfer pada 11 Mei.

Militer AS, perusahaan dirgantara swasta dan perusahaan lain terus melacak objek tersebut. 

Sebuah laporan pelacakan yang dikeluarkan oleh militer AS pada 10 Mei menyatakan bahwa puing-puing roket masuk kembali ke atmosfer dengan waktu yang sulit diprediksi. Perubahan ketahanan atmosfer dan aktivitas matahari dapat mempengaruhi waktu untuk kembali ke atmosfer.

Jika waktu yang diprediksi menyimpang 1 menit, maka lokasi reruntuhan akan berubah sekitar 500 kilometer. Sebagian besar struktur roket akan terbakar ketika melewati dan bergesekan dengan atmosfer, tetapi sebagian kecil puing-puing akan jatuh ke permukaan bumi.

Ahli astrofisika Harvard, Jonathan McDowell mengatakan bahwa alasan mengapa prihatin dengan puing-puing roket tersebut, dikarenakan ini merupakan insiden terbesar objek masuk kembali ke bumi secara di luar kendali setelah stasiun ruang angkasa Soviet ‘Salyut 7’ pada tahun 1991.

Jonathan McDowell mengatakan : “Puing-puing roket ‘Long March 5B’ memiliki panjang sekitar 30 meter dan diameter 5 meter. Ukurannya jauh lebih besar daripada puing-puing pesawat ruang angkasa lain yang jatuh ke atmosfer dalam beberapa tahun terakhir”. Yang terburuk mungkin menghancurkan rumah, tetapi itu akan menjadi kerusakan lokal, bukan kerusakan yang luas, mirip dengan puing-puing yang jatuh ke tanah dari pesawat terbang.

Kementerian Pertahanan AS pada 11 Mei merilis berita terbaru bahwa puing-puing roket yang tidak sepenuhnya terbakar, itu setelah melewati atmosfer jatuh ke Samudra Atlantik di lepas pantai Afrika Barat. Sampai sekarang, tidak ada saksi mata yang melaporkan bahwa roket hancur di udara atau menemukan puing-puingnya di tanah.

Menurut laporan media Tiongkok bahwa Roket Long March 5B memiliki panjang 53.7 meter, dan berat lepas landas sebesar 849 ton. Setelah menyelesaikan misi peluncurannya pada 5 Mei, mengalami kelainan dalam proses kembali ke bumi. Roket terbang mengelilingi bumi dalam orbit elips dan jatuh. Terbang melintasi angkasa Los Angeles dan New York Central Park, dan jatuh di Samudra Atlantik di lepas pantai Afrika Barat pada 11 Mei.

Pada 9 April, roket ‘Long March 3B’ meluncur ke angkasa dengan membawa satelit, tetapi meledak 50 detik kemudian dan jatuh ke bumi.

‘Long March 5B’ memiliki massa lebih besar daripada stasiun ruang angkasa ‘Tiangong 1’ yang telah jatuh ke bumi pada tahun 2018.

Pakar teknologi roket mengungkapkan pada bulan Februari 2018, bahwa peluncuran dirgantara komunis Tiongkok menghadapi banyak masalah seperti tingginya biaya satelit roket, siklus peluncurannya panjang, dan kualitas pengontrolan yang tidak stabil. ‘Long March 5’ yang telah menghabiskan 10 tahun untuk pengembangannya telah digantungi terlalu banyak harapan. Dikarenakan peluncurannya yang gagal maka berdampak pengaruh buruk.

Setelah peluncuran Roket Long March 5 yang ketiga, otoritas komunis Tiongkok secara resmi merilis film tentang kegagalan peluncuran kedua. Otoritas itu mengakui bahwa kegagalan peluncuran kedua tidak hanya kehilangan miliaran renminbi, tetapi juga menyebabkan penundaan enam rencana kedirgantaraan, termasuk platform satelit ‘Dongfanghong-5’, pengambilan sampel bulan ‘Chang’e-5’, ‘Roket Long March 5B’, stasiun ruang angkasa ‘Tiangong’, ‘Yinghuo-2 Penjelajah Mars’ dan teleskop survei besar.

Media Rusia pernah mengungkapkan mengenai alasan kegagalan dua kali peluncuran ‘Long March 5’, itu karena mesin yang digunakan komunis Tiongkok untuk kendaraan peluncuran adalah menjiplak teknologi mesin roket Uni Soviet. Namun demikian, para ahli komunis Tiongkok sekarang belum memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah mesin roket dan masih membutuhkan bantuan Rusia. (Sin/asr)

Video Rek

Share

Video Popular