oleh Su Guanmi

Virus komunis Tiongkok atau disebut juga coronavirus jenis baru, SARS-COV-2 menyebar luas ke seluruh dunia, masyarakat sangat berharap vaksin pencegahannya dapat segera beredar. 

Institusi dunia yang terlibat dalam penelitian dan pengembangan vaksin juga telah berupaya mempercepat langkah menuju harapan masyarakat dunia tersebut, termasuk vaksin asam nukleat, vaksin vektor virus dan vaksin tidak aktif. 

Saat ini di dunia sudah ada 7 vaksin yang diandalkan sebagai kandidat untuk menangkal virus komunis Tiongkok yang sedang berada dalam masa uji klinis.

Namun, berapa probabilitas keberhasilan dari pengembangan vaksin ini ? Jika nanti diedarkan, seberapa besar efektivitas dan keamanannya ?

Vaksin Bukan Obat Mujarab, SARS, AIDS dan Lainnya Belum Ada Vaksinnya

Lin Xiaoxu, Ph.D. mantan direktur Laboratorium Departemen Virologi di Institut Angkatan Darat Amerika Serikat, berkata : “Dalam 1 atau 2 dekade terakhir, bidang vaksin telah berkembang cukup pesat, tetapi tidak ada vaksin yang berhasil dikembangkan untuk melawan virus RNA.”

Virus influenza, coronavirus seperti SARS, MERS, virus komunis Tiongkok, virus dengue, HIV dan virus Ebola ini semua adalah virus golongan RNA atau asam ribonukleat. Dengan pengecualian virus influenza, tidak ada vaksin untuk mengatasi virus RNA lainnya yang berhasil.

Vaksin virus influenza dianggap sebagai vaksin virus RNA paling matang di dunia. Akan tetapi efeknya masih terbatas. Karena variasi tahunan dari virus influenza, setiap tahun strain vaksin virus influenza harus dipilih kembali.  Setelah vaksin flu diberikan, penerima vaksin tak sepenuhnya terjamin tidak terinfeksi. Menurut laporan dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS -CDC- efektivitas vaksin influenza selama bertahun-tahun berkisar antara 40% hingga 60%.

Mutasi virus komunis Tiongkok yang cepat membuat para ahli sulit dalam mengembangkan vaksinnya. (Thibault Savary/AFP/Getty Images)

Dunia luar berharap bahwa setelah pengembangan vaksin virus komunis Tiongkok berhasil, virus tersebut akan dapat dikendalikan oleh vaksin tahunan seperti halnya virus flu. 

Lin Xiaoxu percaya bahwa bahkan jika ada vaksinnya, virus komunis Tiongkok yang kuat masih dapat menyebabkan banyak orang terinfeksi, sakit parah, atau bahkan meninggal dunia. Karena virus komunis Tiongkok ini memiliki daya infeksi yang kuat dan tingkat kematiannya tinggi, tingkat kematian global saat ini setinggi 6,7%, dan di Inggris, Perancis, Italia, Belgia dan negara-negara lain, tingkat kematian lebih dari 14%. Selain itu, aplikasi praktis dari vaksin virus komunis Tiongkok menghadapi 3 tantangan utama.

Pertama, Mutasi virus dapat melemahkan efektivitas vaksin

 “Saya pribadi pada dasarnya tidak optimis dengan vaksin (virus komunis Tiongkok)”, kata Dong Yuhong, kepala ilmuwan perusahaan bioteknologi Swiss SunRegen Healthcare AG dan ahli virologi Eropa. Ia mengakui bahwa pengembangan vaksin untuk menangkal virus RNA sangat sulit.

Untuk mengembangkan sebuah vaksin waktu yang diperlukan sekurangnya 18 bulan. Namun, setelah 18 bulan berlalu mutasi virus sulit dicegah. Karena virus RNA bermutasi lebih cepat daripada virus DNA. Sedangkan protein S dari virus komunis Tiongkok adalah wilayah yang sangat bervariasi.

Dong Yuhong menjelaskan bahwa prinsip desain vaksin adalah menemukan epitop kunci pada protein S dari virus yang mengikat tubuh manusia. Melalui vaksin untuk mensimulasikan epitop ini, sistem kekebalan manusia diharapkan untuk menghasilkan antibodi terhadap vaksin. Di masa depan, antibodi dapat menetralkan virus yang menyerang tubuh manusia dan mencegahnya dari menginfeksi sel.

Namun demikian, selain dapat menyerang dari reseptor ACE2 pada permukaan sel manusia. Menurut sebuah artikel di situs web ‘BioRxiv’ bahwa virus juga dapat mengikat reseptor CD147 pada permukaan sistem kekebalan limfosit T. Ketika ACE2, CD147 dan reseptor lain mungkin terlibat dalam proses infeksi, lebih sulit untuk mempelajari epitop kunci yang mengikat protein S virus komunis Tiongkok.

Bahkan jika epitop hipotesis ditemukan, Dong Yuhong bertanya : “Sistem kekebalan adalah sistem raksasa yang sangat rumit. Sampai sekarang para ahlinya masih belum sepenuhnya menguasai pengetahuan tentang virus, Jadi, bisakah epitop digunakan untuk menyelesaikan masalah virus super ini ?”

Kedua, Virus dapat Merusak Sistem Kekebalan, Efektivitas Vaksin Mungkin Tak Bertahan Lama

“Ini adalah virus yang sangat sulit untuk ditangani, juga sangat mematikan bagi sel,” kata Lin Xiaoxu yang sekaligus mengutarakan keluhan yang dirasakan oleh sejumlah ahli tentang virus komunis Tiongkok.

Virus komunis Tiongkok memiliki karakteristik menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Studi yang ada telah menemukan bahwa setelah tubuh manusia terinfeksi virus komunis Tiongkok, akan terjadi penurunan progresif pada sel limfosit darah perifer. 

Keterangan gambar : Penelitian dan pengembangan vaksin masih belum dapat mengatasi masalah keamanannya, sehingga mungkin memiliki efek samping yang serius terhadap penerimanya. (Andrew Caballero-Reynolds/AFP/Getty Images)

Dong Yuhong menjelaskan bahwa normal bagi manusia untuk mengalami sedikit penurunan limfosit setelah terinfeksi virus lain. Hal ini disebabkan oleh kerugian yang diakibatkan oleh sel limfosit berperang melawan virus. Ia mengatakan : “Tetapi tidak baik jika jumlah limfosit darah terus menurun”.

Ini juga membuat kesulitan bagi pengembangan vaksin. Karena tujuan vaksinasi adalah untuk mengharapkan sistem kekebalan diaktifkan olehnya untuk menghasilkan antibodi terhadap virus, sehingga tubuh manusia sendiri harus memiliki sistem kekebalan yang relatif sehat.

Dalam kasus dimana sistem kekebalan tubuh mengalami kerusakan, Lin Xiaoxu percaya bahwa setelah vaksin disuntikkan ke dalam tubuh manusia, jumlah dan durasi antibodi yang dihasilkan tidak akan lama. Ini berarti ada risiko yang bersangkutan terinfeksi ulang menjadi cukup tinggi.

Ketiga,  Keamanan vaksin belum jelas, mungkin dapat menghasilkan efek samping yang serius

Vaksin mungkin menghasilkan efek samping yang serius, yakni peningkatan reaksi ADE atau Antibody-dependent enhancement, antibodi tidak dapat menetralkan virus, tetapi bergabung dengan virus untuk mengaktifkan replikasi virus atau kapasitas infeksi.

Pada tahun 2012, para ilmuwan dari Amerika Serikat dan negara lain mencoba untuk mengembangkan vaksin untuk virus SARS. Dalam percobaan pada hewan, hewan memiliki respon antibodi yang kuat terhadap virus SARS. Ketika terkena strain virus liar lagi, tubuh hewan ini justru mengembangkan reaksi peningkat ADE yang pada akhirnya menyebabkan kematiannya.

Dalam uji klinis vaksin pernapasan syncytial virus -RSV- pada tahun 1960-an, respon imun yang berlebihan ini telah menyebabkan kematian 2 orang anak. Dong Yuhong dengan blak-blakan mengatakan : “Efektivitas dan keamanan dipertanyakan, jadi vaksin khusus untuk melindungi orang terhadap terinfeksi virus komunis Tiongkok ini hampir tidak ada”.

Adakah obat penangkal lainnya selain menunggu penemuan vaksinnya ?

“Boleh-boleh saja menanti asalkan jangan berharap banyak”, kata Lin Xiaoxu memberikan jawaban apakah vaksin untuk virus komunis Tiongkok dapat berhasil dirilis dan akan efektif.

Chiu Cheng-Hsun M.D.,Ph.D, Wakil Kepala Linkou Chang Gung Memorial Hospital dan Direktur Pusat Penelitian Medis untuk Penyakit Infeksi Molekuler, percaya bahwa meskipun virus bermutasi, jika kekebalan yang dihasilkan oleh batch pertama vaksin bisa terjadi perlindungan silang atau Ketika dua virus menginfeksi satu host, virus yang menyerang pertama dapat melindungi host dari terinfeksi oleh virus kedua.  Hal demikian mungkin juga efektif. Dia mengakui bahwa sekarang semua ini belum diketahui, sehingga perlu menggunakan berbagai strategi yang dimungkinkan untuk mengembangkan vaksin. Selain itu, secepat mungkin untuk memasuki uji klinis guna menilai keamanan dan efektivitasnya.

Selama pengembangan vaksin belum menemui titik terang, pembatasan sosial dapat memainkan efek perlindungan tertentu. Selain itu, penting pula untuk meningkatkan kekebalan tubuh diri sendiri dan menjaga sikap yang sehat.

Sementara menanti munculnya vaksin dan obat-obatan yang ampuh, Lin Xiaoxu juga menyarankan bahwa mungkin orang belum menemukan pentingnya mengembangkan kekuatan spiritual untuk mencegah penyebaran epidemi. 

Beberapa pemerintah negara bagian di Amerika Serikat telah membebaskan operasi hotel, tetapi melarang orang pergi ke tempat ibadah untuk berdoa telah menimbulkan kontroversi. Lin Xiaoxu berpikir bahwa ini adalah langkah yang salah. Jika orang dapat terus menjaga jarak sosial, orang seharusnya dapat diizinkan untuk pergi beribadah.

Dia menunjukkan bahwa ketika spirit seseorang sedang jatuh, sistem kekebalan tidak dapat mempertahankan kekuatannya. Akan tetapi jika orang memiliki keyakinan dan berpikiran lurus, kekuatan spiritual akan membantu meningkatkan kekebalan tubuh. Terlepas dari apakah vaksin dapat berhasil dirilis, itu tidak menghalangi orang-orang beriman untuk menemukan “obat” penangkal yang sudah ada dalam dirinya. (Sin/asr)

Video Rekomendasi : 

Share
Tag: Kategori: SAINS SAINS NEWS

Video Popular