Ntdtv.com- Epidemi virus Komunis Tiongkok (pneumonia Wuhan) telah menyebabkan kekurangan masker di seluruh dunia. Uni Eropa baru-baru ini membeli 10 juta masker dari Tiongkok melalui dana Uni Eropa, dan masker tersebut telah didistribusikan kepada staf medis sejak bulan ini. Rencananya akan dibagikan setiap minggu, selama 6 minggu berturut-turut.

Namun, setelah batch pertama sebanyak 1,5 juta masker dikirim ke 17 negara Eropa, Polandia dan Belanda mengeluh soal kualitas masker produk Tiongkok yang  terlalu buruk.

Menteri Kesehatan Polandia Lukasz Szumowski mengatakan bahwa 600.000 masker yang diterima oleh otoritas Polandia tidak memiliki sertifikat kualitas bersertifikasi Eropa dan tidak memenuhi standar medis yang relevan.

Belanda juga mengeluhkan kualitas masker yang diimpornya. Pada awal Maret, Departemen Kesehatan Belanda mengeluarkan pernyataan bahwa 1,3 juta masker KN95 yang diimpor dari Tiongkok tidak dapat menutupi wajah dan efisiensi penyaringan tidak memenuhi standar.

“Kami telah memutuskan untuk menunda penerimaan masker ini. Jika masker ini memang memiliki masalah kualitas, kami akan mempelajari dan mengambil langkah berikutnya,” kata juru bicara kesehatan Komisi Eropa Stefan De Keersmaecker.

Saat ini, semua negara Eropa yang sudah menerima masker telah menerima informasi dari Uni Eropa, dan mereka diminta untuk memberikan umpan balik soal kualita masker. 

Menurut Keersmaecker, peralatan pelindung pribadi yang dikirim oleh Komisi Eropa harus berkualitas tinggi, yang sangat penting, karena digunakan oleh warga dan profesional di sektor kesehatan.

“Jika perlu, kami tentu saja akan mengambil tindakan hukum yang diperlukan,” kata Keersmaecker.

Di bawah dampak epidemi, dunia menghadapi kekurangan masker. Komunis Tiongkok telah menjual masker dalam skala besar di luar negeri, tetapi dikritik dan sering dikembalikan karena kualitas masker tidak memenuhi standar, yang telah membuat “diplomasi masker” Komunis Tiongkok dipermalukan .

Pada tanggal 24 April, produk peringatan “sistem peringatan cepat untuk produk non-makanan berbahaya” atau rapid alert system for dangerous non-food products yang dibuat oleh Uni Eropa untuk melindungi kesehatan dan keselamatan konsumen diantaranya produk peringatan tingkat “serius”, ada empat jenis masker buatan Tiongkok yang muncul satu demi satu.

Keempat jenis produk Tiongkok itu mengklaim sebagai masker kelas N95 / FFP2, tetapi setelah pengujian, ditemukan bahwa kapasitas filtrasi aktual masker tidak mencukupi, dan efisiensi filtrasi terburuk bahkan kurang dari 50%. Jika staf medis menggunakan masker Tiongkok maka dapat meningkatkan risiko infeksi.

Pada awal Mei 2020, kualitas masker N95 yang dipesan oleh Kanada dari Tiongkok juga mengalami masalah kualitas. Delapan juta masker tidak memenuhi standar federal Kanada dan tidak dapat digunakan untuk tujuan medis. Kanada dengan segera beralih ke Taiwan untuk memesan 10 juta masker medis.

Perdana Menteri Kanada Trudeau secara terbuka menyatakan bahwa masker di bawah standar tidak akan dibagikan kepada staf medis, dan Kanada tidak akan membayar masker N95 yang tidak memenuhi syarat yang dibuat di Tiongkok.

Pada saat masker sangat dibutuhkan secara global, telah ada gelombang penutupan di pabrik masker di Tiongkok daratan. Menurut orang dalam industri, ekspansi buta dan persyaratan asing yang ketat pada masker membuat tidak mungkin untuk mengekspornya, yang merupakan salah satu alasan utama untuk penutupan pabrik masker.

Liu, seorang warga kota Yiwu, Zhejiang, mengatakan: “Setiap orang berebutan untuk membuat masker, itu adalah ide yang salah. Masker medis asli harus disterilkan di lingkungan yang steril. Jika itu adalah masker buatan dari pabrik kecil, dan  menjualnya, berarti Itu tidak bertanggung jawab. Jadi sebagian tidak bisa menjualnya, sudah pasti tidak dapat berproduksi lagi, dan akan bangkrut.”

Beberapa netizen berkomentar: “Pabrik masker bangkrut, masker tidak sebagus kertas. Ini adalah lambang kebangkrutan diplomatik Tiongkok.”

HUI/RP

Video Rekomendasi

Share

Video Popular