Epochtimes, oleh Zhang Ting

Eksekutif perusahaan chip : Larangan Amerika Serikat akan membawa perubahan nyata

Kalangan dalam industri percaya bahwa peraturan ekspor Amerika Serikat yang baru ini akan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada yang diterapkan tahun lalu.

Financial Times mengutip ucapan seorang eksekutif dari sebuah perusahaan chip komputer Taiwan menyatakan ketika Amerika Serikat memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam untuk pertama kalinya pada bulan Mei tahun lalu, ini adalah sinyal politik utama, tetapi dampaknya terbatas.

“Tetapi Kementerian Perdagangan Amerika Serikat menggunakan waktu satu tahun untuk mengasah pisau. Aturan baru ini akan membawa perubahan nyata,” kata eksekutif tersebut.

Hari Jumat, 15 Mei Kementerian Perdagangan Amerika Serikat mengumumkan mulai diberlakukannya Peraturan Produk Langsung Asing (Foreign Direct Product Rule. FDPR) yang baru direvisi. Peraturan ini lebih lanjut memutus hubungan antara rantai pasokan chip global dengan Huawei dan anak perusahaannya. Setiap perusahaan asing yang menggunakan teknologi dan peralatan Amerika Serikat untuk menghasilkan chip pesanan Huawei harus mendapat izin dari Kementerian Perdagangan Amerika Serikat.

Menurut statistik yang dibuat Credit Suisse, sekitar 40% dari produsen chip global menggunakan peralatan dari perusahaan Amerika Serikat seperti Applied Materials dan Lam Research hingga 85% menggunakan Cadence, Perangkat lunak perusahaan Amerika seperti Synopsys dan Mentor. Ini berarti hampir tidak mungkin menemukan produsen chip yang masih dapat bekerja sama dengan Huawei.

Chris Hsu, seorang analis dari perusahaan riset teknologi ‘Trendforce’ mengatakan : “Setiap foundry chip di dunia akan mengalami kesulitan untuk menghindari efek ini”.

Meskipun Huawei memanfaatkan HiSilicon, perusahaan di bawah benderanya untuk mendesain chip bagi produknya, namun, chip yang dirancang itu sebenarnya diproduksi oleh TSMC (Taiwan Semiconductor Manufacturing Company), sebuah perusahaan Taiwan pembuat chip kontrak terbesar di dunia. 

Pabrikan chip kontrak terbesar Tiongkok SMIC (Semiconductor Manufacturing International Corporation), adalah perusahaan yang diarahkan Huawei untuk menggantikan kedudukan TSMC, tetapi kemampuannya untuk menggantikan TSMC masih terbatas.

Financial Times menyebutkan, chip Kirin buatan HiSilicon telah menggunakan proses produksi milik TSMC untuk ukuran 16-nanometer, 12-nanometer, 7-nanometer, dan 5-nanometer, yang menyumbang sekitar 20% dari kapasitas produksi TSMC. 

Namun, analis Trendforce, Chris Hsu mengingatkan bahwa secara teori, SMIC paling banter menggantikan produksi bagian komponen yang berukuran 16-nanometer dan 12-nanometer, sulit untuk dapat memasok komponen chip lebih canggih yang diproduksi oleh TSMC.

Huawei pada hari Senin 18 Mei 2020 lalu mengaku bahwa larangan Amerika Serikat yang baru akan mengancam kelangsungan hidupnya. Reuters melaporkan bahwa ketua bergilir Huawei, Guo Ping, dalam  Konferensi Tingkat Tinggi-KTT tahunan global analis yang diselenggarakan Huawei pada hari Senin 18 Mei 2020 mengatakan : “Mempertahankan kelangsungan hidup menjadi tema Huawei saat ini”.

Apakah SMIC dapat mematuhi sanksi Amerika Serikat menimbulkan perhatian

Randy Abrams, kepala penelitian dari Credit Suisse Asia Semiconductor mengatakan bahwa kecuali mendapatkan solusi untuk mengatasi masalah, jika tidak, maka setelah masa tenggang 120 hari, kedua perusahaan diperkirakan akan menghentikan pasokan ke Huawei.

Tetapi beberapa pakar industri meragukan apakah SMIC akan mematuhi larangan baru Amerika Serikat terhadap Huawei. Jika SMIC terus bekerja sama dengan Huawei, analis mengatakan bahwa SMIC akhirnya akan masuk daftar hitam di Washington yang akan mencegahnya mendapatkan akses ke peralatan manufaktur chip canggih. Perangkat ini diperlukan untuk memenuhi rencana ekspansi industri chip Beijing.

ASIC Huawei tidak dapat menemukan pemasok pengganti

Kalangan eksekutif dan analis industri memperkirakan bahwa langkah Washington tersebut akan dapat memotong pasokan chip komputer utama Huawei, dan ini juga akan berdampak lebih besar terhadap rantai pasokan teknologi mereka.

Financial Times melaporkan bahwa perkembangan ini mungkin menjadi bagian dari dampak yang lebih luas dari serangan yang bersifat pembedahan pada rantai pasokan Huawei.

Geoff Blaber, wakil presiden perusahaan riset teknologi CCS Insights mengatakan : “Masyarakat menjadi sangat khawatir bahwa ini bukan hanya masalah konfrontasi antara Tiongkok dengan Amerika Serikat, tetapi juga menjadi perang dingin di bidang teknologi”.

Laporan itu mengatakan bahwa masalah terbesar bagi Huawei mungkin adalah bisnis jaringan telekomunikasinya yang menyumbang 35% dari pendapatan perusahaan Huawei. Saat ini tidak ada produsen pengganti yang dapat menghasilkan aplikasi-spesifik sirkuit terpadu (Application-specific integrated circuit. ASIC) untuk stasiun pangkalan telekomunikasi Huawei. 

Seorang eksekutif industri chip Taiwan mengatakan bahwa Huawei dan HiSilicon telah secara aktif menimbun persediaan sejak tahun lalu, sehingga masih dimungkinkan untuk menyelesaikan pesanan 5G Tiongkok. Akan tetapi selain ini, bisnis jaringan mereka tampak menghadapi kesuraman.

sin/rp

Video Rekomendasi

Share

Video Popular