Nasdaq yang bermaksud membuat peraturan baru untuk perusahaan yang go public. Langkah ini selain mengekspresikan keprihatinan jangka panjang tentang integritas perusahaan-perusahaan Tiongkok di pasar bursa AS, tetapi juga akan menjadi fokus lain dari gesekan perdagangan antara AS dengan komunis Tiongkok

oleh Chen Ting

Perusahaan NASDAQ AS seperti dilaporkan Reuters mengatakan berencana untuk memberlakukan batasan baru pada penawaran umum perdana atau Initial Public Offering -IPO-, sebuah langkah yang akan membuat beberapa perusahaan Tiongkok lebih sulit untuk tercatat di Nasdaq.

Sumber berita menunjukkan bahwa meskipun Nasdaq tidak akan secara spesifik menyebutkan hubungan antara peraturan baru dengan perusahaan Tiongkok, tetapi alasan utama menerapkan langkah ini tak lain adalah bahwa beberapa perusahaan Tiongkok kurang transparansi dalam akuntansi dan terkait erat dengan orang dalam yang berkekuasaan dalam pemerintahan.

Menurut sumber, peraturan baru mensyaratkan bahwa penawaran umum perdana harus mengumpulkan setidaknya 25 juta dolar AS, atau setidaknya seperempat dari nilai pasar setelah pencatatan. Pada saat yang sama, perusahaan juga harus diaudit untuk memastikan bahwa informasi keuangan perusahaan yang terdaftar sesuai dengan standar akuntansi internasional.

Bahkan, menurut sebuah memorandum yang ditandatangani oleh komunis Tiongkok dengan pemerintahan Obama pada tahun 2013, perusahaan-perusahaan Tiongkok dibebaskan dari mengirimkan informasi audit dan laporan keuangan ke Amerika Serikat. Komunis Tiongkok bahkan menolak untuk menyerahkan laporan audit dan dokumen terkait dengan alasan keamanan nasional, pembukuan dan catatan perusahaan disimpan di daratan Tiongkok, dan materi audit tidak boleh dipublikasikan di luar negeri.

Hingga saat ini, Badan Pengawas Akuntansi Perusahaan Publik atau Public Company Accounting Oversight Board -PCAOB- AS belum dapat memperoleh catatan-catatan kunci ini.

Hal yang lebih celaka adalah, ketika perusahaan-perusahaan Tiongkok terpapar pada kegiatan penipuan di Amerika Serikat, investor Amerika tidak memiliki jalur hukum atau right of recourse di Tiongkok, sehingga mereka menanggung resiko besar dan yang tak dapat diduga.

Bulan lalu, Luckin Coffee Inc. yang mengadakan IPO pada awal tahun 2019 di Nasdaq terjadi skandal penipuan keuangan. Rantai kopi terbesar di Tiongkok ini akhirnya mengaku bahwa 40% dari penjualan tahunannya adalah palsu, sehingga harga sahamnya turun 80% dalam 2 hari perdagangan di bursa.

Kekhawatiran akan akun penipuan dari perusahaan Tiongkok yang terdaftar di Amerika Serikat acap kali muncul. Sebelum ini, delisting terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok yang didaftarkan di bursa AS pada antara tahun 2011 hingga 2013 juga terjadi. Ketika itu, setidaknya 50 perusahaan Tiongkok diperintahkan untuk delisting di bursa saham AS. Selain itu, lebih dari 40 perusahaan penjamin dan manajernya dituduh melakukan penipuan bersekongkol.

Peraturan baru ini adalah yang pertama kali NASDAQ menetapkan batas bawah untuk ukuran IPO. Peraturan ini juga akan mencegah beberapa perusahaan Tiongkok yang saat ini terdaftar di NASDAQ untuk go public.

Menurut Reuters, 40 dari 155 perusahaan Tiongkok yang terdaftar di Nasdaq sejak tahun 2000  mengumpulkan dana penjualan IPO kurang dari 25 juta dolar AS.

Alasan mengapa perusahaan kecil Tiongkok ingin IPO di bursa AS adalah karena langkah ini akan membantu pendiri perusahaan dan pemegang saham untuk memperoleh dana kas. Bahkan, mendapatkan dolar AS yang tidak mudah untuk diperoleh di bawah pengendalian modal oleh pihak berwenang komunis Tiongkok. Apalagi perusahaan-perusahaan ini juga dapat menggunakan status pencatatan mereka di Amerika Serikat untuk membujuk investor Tiongkok agar menyediakan dana dan mendapatkan subsidi dari otoritas Tiongkok.

Sejak tahun 2018 dan 2019, telah ada proposal yang diajukan oleh anggota parlemen Republik AS untuk mencoba memperkuat pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan Tiongkok yang terdaftar di Amerika Serikat, tetapi proposal itu kurang mendapatkan dukungan dari mayoritas.

Administrasi Trump pernah membahas pengetatan persyaratan daftar perusahaan Tiongkok di AS pada tahun 2019, tetapi karena kekhawatiran akan memengaruhi pasar AS sehingga diskusi akhirnya ditunda. Saat ini, ketika wabah pneumonia komunis Tiongkok merajalela di Amerika Serikat dan menyebabkan kerugian besar bagi ekonomi dan masyarakat AS, diskusi terkait dibuka kembali.

Dalam sebuah wawancara di Fox Commercial TV ‘Maria Bartiromo’ pada hari Kamis 14 Mei lalu, Presiden Trump mengatakan bahwa pemerintah AS akan dengan keras mensyaratkan perusahaan Tiongkok untuk mematuhi standar akuntansi AS jika ingin go public di bursa AS. (Sin/asr)

Share

Video Popular