• Seluruh 194 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO dengan suara bulat menyepakati pengusutan independen terhadap asal usul virus komunis Tiongkok, termasuk sikap dan kinerja WHO selama virus mewabah secara global.  
  • Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan kesediaannya untuk menyelidiki. Akan tetapi tidak akan menjawab soal penjelajahannya sampai sumber virus dan bagaimana virus dihasilkan.  
  • Pada saat yang sama, Presiden Trump mengatakan bahwa WHO merupakan boneka dari komunis Tiongkok. Amerika Serikat memberikan WHO waktu 30 hari untuk melaksanakan reformasi besar. Jika tidak, Amerika Serikat akan membekukan secara permanen bantuan keuangan dan mempertimbangkan kembali apakah akan menjadi negara anggota.

oleh Chang Chun

Konferensi video Majelis Kesehatan Dunia ke-73 (WHA) sudah dimulai pada 18 Mei. Topik yang menjadi fokus dunia dan para anggota WHO adalah menuntut adanya penyelidikan independen terhadap asal usul virus komunis Tiongkok yang sekarang menjadi pandemi global.

Dokumen yang diperoleh Reuters menunjukkan bahwa Australia bersama Uni Eropa untuk mengusulkan rancangan resolusi dalam pertemuan Majelis Kesehatan Dunia, meminta WHO melakukan penyelidikan independen terhadap asal usul virus.

Xing Tianxing, seorang komentator yang tinggal di Amerika Serikat mengatakan : “Permintaan penyelidikan independen semacam ini sebenarnya adalah suatu sikap yang sama dengan menolak komunis Tiongkok. Maka jika mega trend ini terus berlanjut. Dengan kata lain, itu akan membentuk aliansi di seluruh dunia. Aliansi ini adalah aliansi yang kecenderungan untuk mengatakan tidak kepada komunis Tiongkok”.

Pada 18 Mei 2020, Presiden Trump mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal WHO Tedros. Disebutkan bahwa WHO telah memberi kami banyak saran yang sangat buruk dan mengerikan, dan mengandung terlalu banyak kesalahan. WHO yang berpusat pada komunis Tiongkok dan merupakan boneka dari mereka.

Dalam surat itu, Trump memberi WHO waktu 30 hari untuk melakukan reformasi besar. Jika tidak, Amerika Serikat akan membekukan secara permanen bantuan keuangan dan mempertimbangkan kembali apakah menjadi negara anggota. Trump juga mengatakan : “Tidak ada waktu untuk disia-siakan”.

Pada hari yang sama, melalui konferensi video Majelis Kesehatan Dunia, Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengumumkan kesediaannya untuk menyelidiki, tetapi tidak akan menjawab soal penjelajahannya sampai sumber virus dan bagaimana virus dihasilkan.

Presiden Xi Jinping juga menyatakan dukungan terhadap WHO untuk melakukan penyelidikan, mengklaim bahwa pemahaman tentang virus dan penyebarannya perlu dilakukan “secara objektif dan adil berdasarkan ilmu dan keahlian yang dipimpin oleh WHO.”

Xing Tianxing berpendapat bahwa WHO selama ini mengikatkan diri pada nasib komunis Tiongkok. Seberapa besar manajemen internal WHO dikendalikan oleh komunis Tiongkok, maka sebesar itu pula tekanan yang akan dihadapi di masa depan.

Xing Tianxing menilai : “Di bawah tekanan internasional yang kuat, saya pikir WHO mau tidak mau harus membuat beberapa langkah konsesi yang dangkal. Jadi kita melihat Tedros juga mengatakan bahwa dirinya bersedia membuat penilaian. Tentu saja, tidak perlu diragukan lagi penilaiannya akan kembali membela diri dan membenarkan beberapa keputusan yang telah mereka ambil.”

Tedros juga mengundang Xi Jinping untuk memberikan kata sambutan pada pembukaan pertemuan itu, meskipun Xi Jinping mengatakan dalam pidatonya bahwa komunis Tiongkok akan menyediakan  2 miliar dolar AS dana untuk membantu memerangi epidemi dalam 2 tahun. Dunia luar percaya bahwa ini tidak berbeda dengan melakukan penyuapan secara terbuka kepada komunitas internasional.

Xing Tianxing mengatakan : “Di pihak Xi Jinping sana juga menyinggung soal dana bantuan lagi yang sebesar 2 miliar dolar AS, termasuk berbagi tentang vaksin dengan negara lain. Ini sebenarnya juga merupakan godaan, rupanya ia ingin menggunakan lagi metode lamanya, berharap melalui metode tersebut untuk menyingkirkan beberapa suara yang tidak menguntungkan dirinya. Dia juga berharap penyelidikan berlangsung setelah epidemi mereda. Jelas itu adalah taktik menunda-nunda.”

John Ullyot, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS atau NSC menggambarkan pengumuman sumbangan Beijing sebagai akibat pemerintah komunis Tiongkok gagal memenuhi kewajibannya dan memenuhi lebih banyak pertanggungjawaban nasional, sehingga ingin mengalihkan perhatian. Ia percaya bahwa karena Tiongkok merupakan asal usul wabah, ia juga memiliki tanggung jawab khusus kewajiban untuk membayar kompensasi.

Pada saat yang sama, Beijing tiba-tiba mengumumkan pemberlakuan tarif hingga 80% terhadap gandum yang diekspor Australia ke Tiongkok. Karena waktu pengumuman yang sangat sensitif, hal ini juga menimbulkan spekulasi mengenai apakah komunis Tiongkok sedang membalas dendam karena proposal dari Australia. Komentar tersebut menyatakan bahwa pemerintah Australia secara aktif mempromosikan penyelidikan independen terhadap epidemi pneumonia komunis Tiongkok yang menimbulkan rasa tidak puas otoritas komunis Tiongkok.

Sheng Xue, seorang penulis etnis Tionghoa di Kanada mengatakan : “Untuk waktu yang lama di masa lalu, komunis Tiongkok telah berbagi pasar basis populasi terbesar Tiongkok. Selain itu, tenaga kerja berbiaya rendah untuk menarik banyak perusahaan dan negara di dunia untuk berinvestasi. Dengan keberhasilan itu, mereka mampu “membungkam mulut” para investor tersebut, berhasil menyandera sikap banyak negara. Bahkan, mencegah mereka untuk menentang komunis Tiongkok pada serangkaian masalah internasional utama”.

Sheng Xue juga mengatakan bahwa pneumonia komunis Tiongkok telah membuat dunia membayar harga yang mahal dan menyakitkan. Karena  itu juga menyebabkan negara-negara di seluruh dunia tidak lagi percaya komunis Tiongkok. Dengan kata lain, komunis Tiongkok sedang kehilangan sekutu yang telah dibeli, disusupi dan dibinanya dalam beberapa dekade terakhir. (sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular