Ntdtv.com- New York Times melaporkan bahwa Pakistan, Kirgistan, Sri Lanka, Ethiopia dan lainnya yang berpartisipasi dalam proyek One Belt One Road – OBOR komunis Tiongkok, baru-baru ini mengusulkan restrukturisasi utang, minta penundaan pembayaran dan atau pemotongan jumlah hutang kepada komunis Tiongkok.

Laporan mengutip ucapan pejabat yang akrab dengan negosiasi utang menyebutkan bahwa banyak negara meminta komunis Tiongkok mengurangi jumlah utang mereka, termasuk sejumlah negara Afrika. 

Sejumlah pejabat mengatakan bahwa Ethiopia telah meminta komunis Tiongkok untuk menghapus sebagian utang dan memainkan peran utama dalam negosiasi atas nama negara-negara Afrika.

Selain itu, pemerintah Kirgistan pada bulan lalu mengumumkan bahwa komunis Tiongkok setuju untuk merestrukturisasi rencana pembayaran utang negaranya sebesar USD. 1,7 miliar, tetapi tidak mengungkapkan rinciannya.

Menteri Keuangan Sri Lanka juga mengatakan bahwa China Development Bank telah memperluas batas kredit sebesar USD. 700 juta, menurunkan suku bunga, dan menunda periode pembayaran selama 2 tahun. Sumber yang akrab dengan masalah ini mengatakan bahwa selain tindakan tersebut, pejabat komunis Tiongkok belum memutuskan bagaimana menyelesaikan masalah ini.

Kementerian Perdagangan Tiongkok mengumumkan melalui media partai ‘Global Times’ bahwa, utang negara Afrika ke Tiongkok dapat diselesaikan melalui negosiasi bilateral, bukan hanya menghapus utang. 

Menurut Song Wei, peneliti rekanan di Akademi Perdagangan Internasional dan Kerjasama Ekonomi Tiongkok, setidaknya USD. 149 miliar telah dihabiskan dalam penanganan lebih dari 1.800 proyek di OBOR.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa komunis Tiongkok saat ini sedang menghadapi dilema. Jika pihak Tiongkok terlalu banyak tawar-menawar, negara-negara debitur dapat bergabung untuk membentuk front persatuan untuk “melawan”, atau skala pinjaman dan ketentuan pembayaran komunis Tiongkok dapat terungkap, yang secara langsung akan mengganggu reputasi global Beijing.

Scott Morris, seorang peneliti senior di Think Tank Global Development Center mengatakan,  “Melihat luas dan ruang lingkup negara-negara yang mungkin melakukan default pembayaran, ini mungkin merupakan risiko yang sangat tinggi bagi komunis Tiongkok. Apakah mereka akan mengurangi sebagian dari hutang ini? Akankah aset negara-negara ini disita pada waktu yang sensitif?”

Pada saat yang sama, otoritas komunis Tiongkok juga menghadapi risiko keuangan yang besar. Laporan itu mengutip lembaga penelitian Jerman, Kiel Institute memperkirakan bahwa pinjaman komunis Tiongkok yang dilepas kepada negara-negara berkembang berjumlah USD. 520 miliar, atau bahkan lebih. Sistem keuangan Tiongkok telah menanggung beban utang yang berat yang diakumulasikan oleh perusahaan milik negara dan pemerintah daerah.

Cendekiawan Ding Xueliang mengatakan dalam sebuah wawancara dengan media Inggris bahwa komunis Tiongkok sebagai penginisiatif OBOR dan negara pengekspor modal terbesar, serta belakangan menjadi pengekspor epidemi.

“Saya tidak bisa tidak akan menghapus sebagian utang negara peserta, tetapi seberapa besar potongan itu tergantung pada negosiasi antar mereka,” kata Ding Xueliang.

sin/rp 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular