Ntdtv.com- Perusahaan semikonduktor terbesar di dunia, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co atau TSMC berhenti menerima pesanan baru dari Huawei Technologies. Langkah itu diungkapkan dalam sebuah laporan media Jepang, Nikkei Asian Review pada 18 Mei 2020.

Sebelum ini, pemerintah AS memperkuat langkah-langkah kontrol ekspor teknologinya terhadap Huawei pada 15 Mei 2020. Perusahaan semikonduktor yang memerlukan penggunaan perangkat lunak dan teknologi AS, harus mendapatkan izin sebelum mereka dapat menjual produknya ke Huawei.

Di antara proses pembuatan semikonduktor canggih TSMC, SMIC dan produsen lainnya, produk “AMAT”, “Lam Research”, dan alat desain sangat diperlukan. Oleh karena itu, TSMC berada dalam lingkup kendali ekspor AS yang baru.

Larangan AS yang terbaru memiliki periode penyangga 120 hari. Pesanan yang telah diterima sebelum 15 Mei atau pesanan yang sudah mulai berproduksi serta memastikan dikirim sebelum 14 September, dapat diproduksi dan dikirim seperti biasa.

Menurut Counterpoint Research, sebuah perusahaan survei pasar, lebih dari 98% smartphone Huawei diproduksi oleh TSMC. Setelah TSMC tidak dapat memberi Huawei chip, Huawei hanya dapat mengandalkan SMIC buatan Tiongkok.

Xie Tian , seorang profesor di Aiken School of Business di University of South Carolina, Amerika Serikat mengatakan langkah itu adalah pukulan telak. Setelah beberapa produsen chip di Amerika Serikat memotong satu demi satu, terutama TSMC yang menyediakan kepada Huawei apakah itu ponsel atau chip jaringan 5G. Jika TSMC benar-benar terputus, itu akan secara perlahan memengaruhi produsen SMIC. Sedangkan chip SMIC adalah puluhan kali dari 100 nanometer, yang jauh lebih tinggi dari 7 nanometer TSMC. Maka Huawei tidak akan ada daya saing di pasar internasional. 

Amerika Serikat memperkenalkan kontrol ekspor terhadap Huawei tahun lalu, tetapi jika teknologi dan perangkat lunak yang berasal dari Amerika Serikat kurang dari 25%, selanjutnya tidak akan ada batasan. 

Pada 15 Mei 2020, Departemen Perdagangan AS mengkritik Huawei karena mengeksploitasi celah. Untuk mencegah teknologi AS digunakan dalam “kegiatan jahat” yang bertentangan dengan keamanan nasional AS dan kepentingan diplomatik, Amerika Serikat memutuskan untuk mengubah undang-undang untuk menutup celah itu.

Pejabat yang bertanggung jawab atas kebijakan luar negeri AS menyatakan pada briefing langkah itu adalah serangkaian kebijakan dan metode pemerintah Komunis Tiongkok, yang mana memaksa AS untuk berurusan dengan Huawei. Dikarenakan pelanggaran Huawei terhadap larangan ekspor AS terhadap Iran dan pencurian secara terus-menerus atas kekayaan intelektual AS. Faktor-faktor itulah yang merupakan sebagai salah satu alasan. Di samping itu, Huawei dan hubungannya dengan Komunis Tiongkok dan implementasi strategi integrasi militer-sipil Komunis Tiongkok, semuanya melibatkan masalah hak asasi manusia.

Hu Xijin, pemimpin redaksi Global Times, media resmi corong Komunis Tiongkok, mengklaim dalam cuitannya bahwa Komunis Tiongkok akan membatasi atau menyelidiki perusahaan-perusahaan Amerika Qualcomm, Cisco dan Apple. Bahkan, mengancam menangguhkan pembelian pesawat Boeing untuk melawan Amerika Serikat. 

Xie Tian mengatakan Amerika Serikat menuduh Huawei terkait dengan militer Komunis Tiongkok. Huawei sejatinya adalah merupakan perusahaan BUMN, walaupun mengklaim sebagai perusahaan swasta. Jika pemerintah Tiongkok membelanya, apakah itu hanya membuktikan hubungan antara pemerintah Komunis Tiongkok dan Huawei? Pertanyaan itu  adalah yang pertama.  Pertanyaan  kedua tentang apa yang disebut sebagai sarana balas dendam. Langkah itu sudah terlihat dalam negosiasi perang dagang Tiongkok-AS.  

Xie Tian menunjukkan bahwa apa yang disebut kontrol ekspor AS pada Huawei dikarenakan untuk bersaing dengan teknologi Tiongkok, tentunya tudingan itu  tak rasional. Xie Tian mengatakan Huawei kerap memuji produknya seperti  5G, akan tetapi sebenarnya tak memenuhi syarat. (Hui/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular