Ntdtv.com- Baru-baru ini, di Minnesota, Amerika Serikat, seorang pria Afrika-Amerika, George Floyd,, tewas dalam tindakan aparat kepolisian setempat. Aksi itu memicu kerusuhan besar-besaran serta penjarah di Amerika Serikat. 

Memanfaatkan kesempatan itu, komunis Tiongkok memobilisasi semua mesin propagandanya untuk melaporkan dan menganalisis peristiwa itu sedetail media AS setempat. Artikel yang memuat kritikan, ejekan, dan sindiran memenuhi halaman media-media corong partai komunis Tiongkok.

Namun, ada netizen yang mengungkapkan bahwa di balik kerusuhan yang melanda Amerika Serikat, bayangan antek Partai Komunis Tiongkok kerap gentayangan.

Pada tanggal 31 Mei 2020, ada sepenggal video yang diambil oleh netizen di luar Gedung Putih. Video itu menunjukkan ada perusuh yang menggunakan bahasa Mandarin menyuruh rekan mereka untuk segera pergi.

Sebuah stasiun TV lokal bernama 9NEWS di Amerika Serikat, pada 29 Mei, juga mengambil gambar spanduk berbahasa Mandarin di sebuah lokasi demonstrasi di Denver, Colorado. 

Media Partai Komunis Tiongkok telah menerbitkan artikel, mengkonfirmasi keaslian gambar tersebut.

Brigadir Jenderal Robert Spalding, mantan Kepala Staf Gabungan di Kantor Pentagon Amerika Serikat dan kepala ahli strategi masalah Tiongkok, mengatakan bahwa kerusuhan di Amerika Serikat adalah kerusuhan yang terorganisir oleh kekuatan komunisme.

Dalam cuitannya di Twitter berbunyi: “Mereka (perusuh) mendapat dukungan dari Partai Komunis Tiongkok, Rusia, dan para (reaksioner) lainnya. Ini tidak ada hubungannya dengan negara kita, namun ada hubungannya dengan negara-negara yang ingin melihat AS dihancurkan.”

Sementara itu, pada tema lainnya, komunis Tiongkok untuk menutupi informasi situasi epidemi, secara paksa mendorong Undang-Undang Keamanan Nasional versi Hong Kong. Sehingga mengintensifkan ketegangan hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok. 

Apakah rezim Tiongkok akan merealisasikan perjanjian perdagangan tahap pertama AS-Tiongkok yang ditandatangani pada 15 Januari lalu? itu telah menarik banyak perhatian kalangan.

Melansir laporan “Bloomberg” pada 1 Juni lalu, bahwa sebuah narasumber mengungkapkan bahwa Komunis Tiongkok telah memerintahkan perusahaan-perusahaan besar BUMN,  menunda pembelian beberapa produk pertanian AS, termasuk kedelai.

Laporan itu mengatakan bahwa pembeli asal Tiongkok juga membatalkan pesanan babi AS dalam jumlah yang tidak diketahui.

“Reuters” kemudian mengutip sumber-sumber yang mengatakan bahwa pembelian jagung dan kapas AS dalam jumlah besar oleh perusahaan Tiongkok  juga ditangguhkan.

Sumber yang mengetahui masalah itu mengatakan, jika Washington mengambil tindakan lebih lanjut, Komunis Tiongkok mungkin akan memperluas penangguhan pesanannya, termasuk lebih banyak produk pertanian AS.

Menurut perjanjian perdagangan AS-Tiongkok fase pertama, Tiongkok akan akan membeli setidaknya  200 miliar dolar AS barang dan jasa AS, termasuk 32 miliar dolar AS produk pertanian dalam waktu dua tahun. (Jon/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular