Ntdtv, oleh Li Yun- Sejak 4 tahun yang lalu, sudah beredar berita bahwa komunis Tiongkok menggunakan teknologi modifikasi genetika untuk meningkatkan kemampuan prajurit yang bertempur di medan perang. Jika masalah etika ditinggalkan, maka dapat diarahkan untuk mengembangkan senjata kekebalan biologis di masa mendatang. 

Baru-baru ini pakar Inggris mengungkapkan kepada media bahwa komunis Tiongkok mungkin sedang mencoba untuk memodifikasi genetik prajurit mereka agar menjadi prajurit super, yang tidak merasa sakit meskipun terluka di medan perang.

Menurut laporan Liberty Times pada 2 Juni 2020 bahwa, berita di atas diungkapkan oleh para ahli Inggris kepada media ‘The Sun’. Lembaga think tank pertahanan Inggris ‘Royal United Services Institute’ (RUSI) memperingatkan bahwa para prajurit yang dimodifikasi secara genetik bisa memiliki tubuh lebih besar dan lebih kuat daripada lawan mereka di medan perang, bahkan kehilangan rasa sakit.

Para ahli mengatakan bahwa prajurit yang dimodifikasi secara genetika  dapat membantu prajurit  pulih lebih cepat setelah terluka di medan perang dengan menyesuaikan DNA, dan prajurit juga dapat memiliki daya penglihatan dan pendengaran yang lebih baik pada malam hari.

Profesor John Louth dari RUSI dengan blak-blakan mengatakan bahwa ancaman ini jelas dan nyata terlihat. Komunis Tiongkok mungkin sengaja mendanai untuk membuat prajurit   diam-diam berada dalam posisi lebih unggul daripada prajurit negara Barat. Ini adalah hal yang cukup mengkhawatirkan.

Berita tentang komunis Tiongkok memodifikasi genetik manusia bukanlah hal baru. He Jiankui, seorang ilmuwan komunis Tiongkok yang memodifikasi genetik bayi kembar pada tahun 2018 dalam upaya percobaan untuk mencegah AIDS. Tindakannya itu telah dikutuk oleh komunitas ilmiah.

Laporan itu menyebutkan bahwa ada alasan untuk percaya bahwa komunis Tiongkok sedang memperkuat tentaranya. Laporan juga menekankan bahwa meskipun komunis Tiongkok memenjarakan He Jiankui karena melakukan tindak medis ilegal, tetapi penyelidikan mengungkapkan bahwa para pemimpin militer komunis Tiongkok mendukung penelitian tentang eksperimen penyuntingan genom manusia.

Komunis Tiongkok : Modifikasi genetika adalah dataran tinggi dalam strategi militer 

Majalah ‘Zhengxiang Zhongguo’ edisi bulan November 2019 melaporkan, para ilmuwan dan ahli strategi militer komunis Tiongkok menekankan bahwa bioteknologi mungkin menjadi strategi baru dari revolusi militer di masa depan.

Meskipun banyak negara mengakui potensi bioteknologi di medan perang masa depan, tetapi pengembangannya yang menelan investasi semua sumber daya sosial dan mengabaikan etika. Ambisi komunis Tiongkok untuk mengintegrasikan industri, lembaga akademik dan proyek militer, semakin menimbulkan kewaspadaan negara Barat.

Penulis artikel adalah Elsa Kania, seorang peneliti senior paruh waktu di Center for a New American Security dan Wilson VornDick. Elsa Kania ahli di bidang Program Keamanan Nasional dan pakar konsultasi tentang keamanan nasional, teknologi baru dan urusan Tiongkok.

Mereka menunjukkan, militer dan cendekiawan terkemuka komunis Tiongkok menekankan kekhawatiran mereka tentang pertahanan keamanan hayati nasional sebagai respons terhadap ancaman penyakit menular. Akan tetapi pada saat yang sama mereka juga menekankan pentingnya mengeksplorasi teknologi militer dan bahkan secara ofensif menerapkan penelitian bioteknologi.

Meningkatkan kemampuan prajurit di medan perang melalui modifikasi genetik

Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa ada tanda-tanda para peneliti militer komunis Tiongkok telah mulai mengeksplorasi aplikasi militer dari teknologi pengeditan genom.

Tesis doktoral tahun 2016 berjudul “Evaluasi dan Penelitian Teknologi Peningkatan Efektivitas Manusia” dari Akademi Ilmu Pengetahuan Militer Tiongkok menunjukkan bahwa CRISPR (Clustered regularly interspaced short palindromic repeats) telah menjadi salah satu dari tiga teknologi peningkatan efisiensi manusia utama yang dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas tempur personel militer.

Makalah tersebut juga menyarankan bahwa karena teknologi peningkatan efisiensi manusia memiliki potensi untuk mengganggu nilai perubahan aturan perang. Komunis Tiongkok harus mengambil hak inisiatif.

Saat ini, komunis Tiongkok secara aktif mengeksplorasi bidang pengetahuan baru tentang teknologi interdisiplin biologis seperti meniru teknologi robot bionik, exoskeleton cerdas, dan teknologi kolaborasi manusia-komputer. Memang benar bahwa penelitian biomedis melibatkan banyak aplikasi di bidang kedokteran dan terapi, tetapi ada juga alasan untuk khawatir tentang apakah kegiatan penelitian ini tidak memiliki moralitas dan keamanan eksternal untuk membuka kotak pandora.

Laporan itu mengatakan bahwa menggunakan teknologi pengeditan genom demi meningkatkan kemampuan manusia di medan perang di masa depan hanyalah sebuah hipotesis. Mungkin saja dapat tercapai, tetapi jika bersikeras mengabaikan etika, pengembangannya akan mengarah pada senjata kekebalan biologis.

Sebagai contoh, artikel media militer Tiongkok ‘PLA News’ tahun 2017 berjudul “Bagaimana Senjata Genetik Mempengaruhi Perang di Masa Depan,” menyebutkan dengan terus terang bahwa senjata genetika memiliki kelebihan lebih daripada senjata biologis tradisional. Namun dalam jangka panjang, peran utama yang dimainkan senjata genetika adalah penangkalan strategis. 

Artikel itu menyimpulkan bahwa di dunia nyata, eksplorasi rahasia kehidupan manusia hanyalah puncak dari gunung es. Rekayasa genetika bukanlah penciptaan Tuhan. Penyalahgunaan senjata genetika secara tak terelakkan akan membawa bencana yang tak terduga kepada seluruh umat manusia. (sin/rp) 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular