Ntdtv, oleh Li Yun- Aktivis demokrasi asal Tiongkok yang berada di Amerika Serikat, Zhao Changqing pada 31 Mei menyampaikan berita di twitter bahwa Cai Xia sudah tiba di Amerika Serikat, dan melampirkan pandangan Cai Xia yang diposting online mengenai komunis Tiongkok yang memaksakan penerapan Undang Undang Keamanan Nasional versi Hongkong.

Cai Xia berpendapat bahwa kedaulatan Hongkong adalah milik Tiongkok, tetapi hak memerintah adalah milik rakyat Hongkong, status dan ketertiban Hongkong ada milik seluruh dunia. 

Apa makna dari komunis Tiongkok merusak status Hongkong sebagai pelabuhan perdagangan bebas dan sebagai 3 pusat keuangan terbesar di dunia ? Ini berarti bahwa komunis Tiongkok menantang dunia.

Cai Xia mengatakan bahwa bagi komunis Tiongkok hari ini, Hongkong hanya sebuah desa nelayan kecil yang dulunya milik Tiongkok, itu saja. Komunis Tiongkok tidak memiliki hak untuk menganiaya rakyat Hongkong. Komunis Tiongkok meluncurkan Undang Undang  Keamanan Nasional yang menekan rakyat Hongkong hanya bertujuan untuk mempertahankan kekuasaan otokratis dari sebagian kecil anggota partai. Jadi komunis Tiongkok adalah musuh umat manusia.

Cai Xia menyebutkan, “Dari permukaan tampak komunis Tiongkok mengancam dan menantang hak-hak bebas rakyat Hongkong. Faktanya, komunis Tiongkok mengancam tatanan global dan nilai peradaban manusia.  Ditinjau dari perspektif ini, komunis Tiongkok sedang memusuhi dunia, terutama peradaban manusia.” 

Tanda Cai Xia adalah New York. Pada 28 Mei sore hari, sebelum penutupan Kongres Rakyat Nasional Partai Komunis Tiongkok, sidang telah mengesahkan Undang Undang Keamanan Nasional versi Hongkong. 

Pada hari yang sama Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri Kanada François-Philippe Champagne dan Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk Beijing mengancam kebebasan rakyat Hongkong dan melemahkan wewenang otonomi terhadap Hongkong.

Keesokan harinya, sebuah konferensi pers diadakan untuk mempublikasikan komunike dan mengkritik komunis Tiongkok mengenai implementasi  Undang Undang tersebut yang jelas-jelas merusak Deklarasi Bersama Tiongkok – Britania dan melemahkan wewenang otonomi Hongkong. 

Pemerintah Amerika Serikat memulai proses pembatalan status khusus Hongkong, termasuk pembatalan pemberlakuan tarif khusus bagi Hongkong, perlakuan visa dan ekspor teknologi.

Setelah  Undang Undang diberlakukan  beredar pula di internet surat terbuka yang ditujukan kepada Kongres Rakyat Nasional, Dewan Negara, dan Kolega Nasional yang ditandatangani oleh 50 orang intelektual, termasuk Cai Xia.

Surat terbuka itu meminta pihak berwenang Tiongkok menerapkan melalui konstitusi hak untuk kebebasan berbicara kepada rakyat Tiongkok, untuk menjamin bahwa rakyat tidak lagi  terancam karena menyampaikan pendapat.

Dalam sebuah wawancara dengan media elektronik Hongkong tentang masalah ini, Cai Xia mengatakan, “Hanya dengan berbicara sesuai kebenaran dapat membuat semua orang hidup aman. Saya pikir kebenaran ini sangat jelas dan ditulis dalam konstitusi sejak lama, tetapi selama ini tidak pernah kita implementasikan secara baik”.

Laporan publik menunjukkan bahwa Cai Xia adalah seorang dosen di bagian pengajaran dan penelitian Sekolah Partai. Ia menjadi perhatian karena mendukung Ren Zhiqiang, Generasi Merah Kedua yang terkenal karena menjadi pengembang real estat.

Keterangan foto: menunjukkan Ren Zhiqiang yang menyapa temannya dari dalam rumah kayu buatannya. (Sumber Twitter)

Pada 19 Februari 2016 silam, Xi Jinping saat melakukan inspeksi terhadap stasiun TV CCTV  mengatakan sebagai “media partai bermarga partai”. 

Pada hari itu, Ren Zhiqiang mengeluarkan sebuah posting blog yang isinya mempertanyakan, “Kapan pemerintahan milik rakyat berubah menjadi pemerintahan milik partai? Apakah biayanya dikeluarkan dari iuran anggota partai?”

Ren Zhiqiang juga menulis, “Ini tidak boleh diubah sembarangan lho! Jangan menggunakan dana asal pembayaran pajak untuk membiayai hal-hal yang tidak berfaedah bagi pembayar pajak.”

Gegara pernyataan itu Ren Zhiqiang mendapat serangan bertubi-tubi dari media resmi partai. Ren Zhiqiang kemudian dituduh anti-partai dan melanggar tata tertib partai. Untuk itu Ren Zhiqiang dijatuhi sanksi oleh partai.

Pada 25 Februari di tahun yang sama, Cai Xia menulis tiga artikel yang membela Ren Zhiqiang.

Cai Xia dalam artikelnya menyatakan bahwa media resmi menggunakan bahasa Revolusi Kebudayaan untuk mencelah Ren Zhiqiang. Seakan ingin mematikan Ren Zhiqiang. Ini bukan argumen yang normal, tetapi memiliki sifat fitnah politik.

Dua hari kemudian, situs web milik Departemen Propaganda ‘Guangming’ menuduh Cai Xia membela orang yang menerbitkan pernyataan anti-partai, “Di mana semangat partai kamu?”, “Bagaimana seorang dosen Sekolah Partai bisa mengajarkan hal yang sesat kepada anggota dan kader partai?” Dan seterusnya.

Pada bulan Maret 2020, Ren Zhiqiang kembali menerbitkan sebuah artikel panjang yang mengkritik otoritas komunis Tiongkok karena menutupi epidemi. Ren Zhiqiang menyindir Xi Jinping sebagai seorang badut yang memaksakan diri jadi raja meski harus melepas seluruh pakaiannya. Pada 7 April, Ren Zhiqiang diajukan untuk diadili.

Komentator politik Beijing Hua Po pernah menganalisis bahwa Xi Jinping tidak akan dengan mudah melepaskan Ren Zhiqiang. Dan akan mengumpulkan masalah ekonomi Ren Zhiqiang untuk dijadikan alasan penuntutan hukum. 

Menurut Hua Po,  di Tiongkok reputasi pengembang real estat sudah sangat buruk, dan komunis Tiongkok sengaja mengarahkan senjata kepada mereka. Tujuannya agar para pengembang real estate menjadi kambing hitam kemerosotan ekonomi demi mempertahankan kekuasaan rezim Komunis Tiongkok. (sin/rp) 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular