Ntdtv.com- Baru-baru ini, terkuak dokumen internal Organisasi Kesehatan Dunia/ WHO dan rekaman pertemuan yang menunjukkan bahwa para ahli WHO sangat tidak puas dengan informasi epidemi yang diberikan oleh Komunis Tiongkok, yang dinilai tertinggal dan serius. 

Opini publik percaya, itu menunjukkan bahwa WHO sedang berusaha untuk memutuskan hubungan pemerintah Komunis Tiongkok. Pada saat yang sama juga “memotong” pakar WHO dan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Para ahli WHO mengeluh bahwa Komunis Tiongkok menyediakan kekurangan informasi virus yang serius

Associated Press mengungkapkan isi dokumen internal WHO dan file audio yang diperolehnya pada hari Selasa 2 Juni 2020 lalu. Dokumen menunjukkan bahwa pemerintah Komunis Tiongkok menyembunyikan epidemi virus Komunis Tiongkok pada tahap awal epidemi terjadi, meskipun WHO secara terbuka memuji pemerintah Komunis Tiongkok untuk hal ini. 

Epidemi itu “transparan dan responsif”, tetapi WHO mengeluh pada pertemuan pribadi pada awal Januari 2020 lalu bahwa pemerintah Komunis Tiongkok tidak memberikan data yang cukup.  Data berfungsi untuk mencegah  kecepatan penularan dari manusia ke manusia dan risiko yang ditimbulkan ke bagian lain dunia. 

Isi dokumen menunjukkan bahwa setelah tiga laboratorium milik Tiongkok membuka kunci peta genetik dan kata sandi virus Komunis Tiongkok pada awal Januari tahun ini, pemerintah Komunis Tiongkok telah mengendalikan informasi yang relevan dan menolak untuk mengungkapkannya. 

Barulah sebuah laboratorium di Shanghai menerbitkan kata sandi peta genetik virus ke dunia luar tanpa izin, sehingga terpaksa memberikan informasi yang relevan kepada WHO. Sejak itu, pemerintah Komunis Tiongkok telah menunda setidaknya dua minggu lagi sebelum memberikan data kasus yang relevan kepada WHO.

Sebagai tanggapan, pakar teknis WHO yang bertanggung jawab untuk penelitian virus, ahli epidemiologi Amerika Maria Van Kerkhove, pernah mengeluh pada pertemuan internal WHO.

 “Informasi yang kami miliki sangat terbatas. Jelas, ini tidak cukup bagi kami untuk membuat rencana yang tepat,” kata Maria Van Kerkhove. 

Gauden Galea, perwakilan WHO di Tiongkok, juga mengatakan pada pertemuan bahwa pemerintah Komunis Tiongkok memberikan informasi yang relevan hanya 15 menit setelah CCTV  menyiarkan informasi epidemi.

Komunis Tiongkok menunda pengiriman peta gen virus ke WHO

Dokumen WHO mencatat rute penelitian pemerintah Komunis Tiongkok pada peta gen virus. Penelitian dimulai pada akhir Desember 2019 silam, setelah dokter di Wuhan menemukan bahwa obat yang ada tidak bekerja untuk sekelompok pasien dengan pneumonia khusus. Mereka mengirim sampel tes mereka ke laboratorium komersial.

Pada tanggal 27 Desember 2019, sebuah laboratorium bernama Vision Medicals menganalisis gen coronavirus baru, dan kemudian memberikan data yang dianalisis kepada pejabat Wuhan dan Chinese Medical College.

Pada 30 Desember 2019, pejabat kesehatan Wuhan mengeluarkan pemberitahuan internal untuk mengingatkan orang-orang tentang bentuk pneumonia khusus. Berita ini menyebar ke media sosial. Hari berikutnya, Gao Fu, direktur Pusat Pengendalian Penyakit Nasional Komunis Tiongkok, mengirim tim ahli ke Wuhan.

Setelah mempelajari berita di atas, WHO secara resmi meminta Komunis Tiongkok untuk memberikan informasi yang lebih relevan pada 1 Januari 2020. Dua hari kemudian, pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa hanya 44 kasus ditemukan di Wuhan, dan tidak ada yang meninggal.

Dokumen-dokumen internal yang telah terungkap menunjukkan bahwa Pusat Pengendalian Penyakit Tiongkok menyelesaikan urutan virus Komunis Tiongkok pada 3 Januari 2020, tengah malam pada 5 Januari 2020, laboratorium Akademi Ilmu Pengetahuan Medis Tiongkok membuka kode urutan genetik dan menyerahkan laporan.

Namun, pada 3 Januari, Komisi Kesehatan Nasional Komunis Tiongkok mengeluarkan pemberitahuan rahasia yang meminta agar semua laboratorium yang menguji virus Komunis Tiongkok segera menghancurkan sampel virus, atau mengirim sampel ke lembaga yang ditunjuk secara resmi untuk disimpan. 

Pada saat yang sama, semua laboratorium tidak boleh mempublikasikan artikel tentang virus Komunis Tiongkok atau mengungkapkan informasi apapun tentang virus ke dunia luar tanpa persetujuan pemerintah.

Pada saat itu, WHO juga memposting di akun twitter resminya bahwa Tiongkok masih menyelidiki situasi pneumonia yang tidak biasa di Wuhan, dan tidak ada pasien yang meninggal karena penyakit itu. 

“Jika kita mendapatkan lebih banyak ‘detail’ akan dibagikan dengan kalian,” sebut WHO. 

Pada tanggal 5 Januari, Pusat Kesehatan Klinik Umum Shanghai juga menyelesaikan pengurutan genetik dari virus Komunis Tiongkok. Mereka menyerahkan hasilnya ke database urutan gen, dan juga memberi tahu Komisi Kesehatan Nasional Komunis Tiongkok. Mereka juga mengingatkan bahwa virus baru itu mirip dengan SARS.  Mungkin bisa menular.

Dalam pemberitahuan internal, Pusat Kesehatan Klinik Umum Shanghai dengan jelas menyebutkan bahwa virus itu dapat ditularkan melalui saluran pernapasan.

Pusat Kesehatan Klinik Umum Shanghai  menyebutkan, “Kami menyarankan untuk mengambil tindakan pencegahan di tempat-tempat umum.”

Namun, pada hari yang sama, WHO merilis berita bahwa tidak ada bukti bahwa virus memiliki karakteristik menular dari manusia-ke-manusia. Wisatawan tidak disarankan untuk mengambil tindakan pencegahan khusus.

Pada 6 Januari, Pusat Pengendalian Penyakit Komunis Tiongkok secara diam-diam menaikkan tingkat tanggap darurat ke tingkat dua, dan meminta staf untuk memulai isolasi virus, menyusun pedoman uji laboratorium, dan merancang kotak uji. 

Namun, pusat tersebut tidak memiliki hak untuk mengeluarkan peringatan publik, dan peningkatan tingkat darurat juga dilakukan secara rahasia. Staf lain dari pusat tersebut tidak menyadarinya.

Pada saat yang sama, otoritas kesehatan pemerintah Tiongkok menolak permintaan dari para pakar asing untuk pergi ke Tiongkok guna membantu mendeteksi virus. Para ilmuwan Hong Kong dan seorang profesor Amerika yang bekerja di sebuah universitas Tiongkok, keduanya dilarang pergi ke Wuhan untuk berpartisipasi dalam penyelidikan.

Sejak itu, dalam dua minggu terakhir, pemerintah Wuhan belum melaporkan adanya kasus infeksi baru. Pada saat yang sama, telah menekan dan bahkan meninjau dokter lini pertama, melarang mereka mengungkapkan informasi apapun tentang pasien pneumonia Komunis Tiongkok.

Pada saat yang sama, para peneliti Tiongkok telah menemukan bahwa coronavirus baru dapat dikombinasikan dengan sel manusia melalui protein stinger yang unik. Namun, karena pejabat tersebut belum memberi tahu kasus baru, para peneliti CDC telah membuat penilaian yang salah bahwa virus ini tidak menular dari orang ke orang.

Pada minggu kedua Januari, Dr Michael Ryan, pemimpin proyek darurat WHO, tidak puas bahwa terlalu sulit bagi WHO untuk mendapatkan informasi terbaru tentang perkembangan epidemi dari pemerintah Komunis Tiongkok. 

Dr Michael Ryan mengatakan kepada rekan-rekannya bahwa mereka harus “mengubah jalan.” Penting untuk memberi tekanan lebih besar pada pemerintah Komunis Tiongkok. Mereka khawatir epidemi SARS pada tahun 2002 akan berulang. Dr Michael Ryan menekankan bahwa pemerintah Komunis Tiongkok tidak memberikan kerja sama yang sama dengan negara lain.

Penundaan dalam rilis data viral oleh Komunis Tiongkok memiliki konsekuensi serius

Laporan VOA menunjukkan bahwa menunda pemberian informasi genetik kepada WHO akan mempengaruhi kesadaran orang tentang penyebaran virus ke negara lain.  Disamping itu mempengaruhi penelitian global dan proses pengembangan metode pendeteksian, obat-obatan dan vaksin, serta memperjelas kecepatan penularan virus. 

Ini adalah “kunci utama” untuk mengekang penyebaran epidemi. Karena kurangnya data pasien yang terperinci, WHO menjadi sangat sulit untuk mengetahui seberapa cepat virus Komunis Tiongkok mampu menyebar.

Laboratorium yang dikendalikan oleh pemerintah Komunis Tiongkok membuka kunci kode genetik virus Komunis Tiongkok pada 2 Januari 2020 lalu. Akan tetapi sampai 30 Januari, WHO baru mengumumkan keadaan darurat global. Selama hampir satu bulan penundaan, epidemi meluas dari 100 kali menjadi 200 kali, dan telah menyebabkan lebih dari 6 juta infeksi dan lebih dari 375.000 kematian di seluruh dunia.

Ali Mokdad, seorang profesor di Institut Metrologi dan Evaluasi Kebersihan di Universitas Washington, Amerika Serikat mengatakan: “Jelas, jika pemerintah Komunis Tiongkok dan WHO bertindak lebih cepat, kita dapat menyelamatkan lebih banyak nyawa, banyak, banyak orang dapat menghindari kematian. “

Adam Candelath-Scott, seorang profesor kesehatan global di University of Sydney di Australia, juga mengatakan bahwa pengumuman urutan genetik beberapa hari kemudian selama wabah adalah “sangat penting” guna mengantisipasi  konsekuensinya. 

Adam Candelath-Scott menekankan bahwa kurangnya transparansi Beijing sudah sangat jelas, dan bahwa Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus masih membela pemerintah Komunis Tiongkok, yang bermasalah.

Yan Weiting, asisten profesor di Departemen Pemerintahan Franklin dan Marshall College di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa ketika WHO akan melakukan penyelidikan independen terhadap epidemi pneumonia Komunis Tiongkok, dokumen internal dan file rekaman ini telah diedarkan. Hal itu mengindikasikan bahwa WHO mungkin ingin memotong dua hal.

Hal yang pertama adalah untuk menekankan alasan organisasi yang sebelumnya telah memuji pemerintah Komunis Tiongkok adalah hanya untuk mendapatkan informasi lebih lanjut dari Komunis Tiongkok.

Hal yang kedua adalah untuk membedakan sikap para ahli WHO terhadap pemerintah Komunis Tiongkok dari sikap Tedros terhadap pemerintah Komunis Tiongkok. (hui/rp) 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular