Epochtimes, oleh Linda- Pemicu protes sekilas tampak seperti disebabkan oleh kematian George Floyd dalam proses penangkapannya. Ahli dari sayap kiri menilai, bahwa rasisme sistemik dan kebrutalan polisi adalah biang keladinya. 

Beberapa tokoh sayap kiri mengatakan bahwa, seperti yang terjadi dalam gerakan Occupy Wall Street pada 2011, protes dibajak oleh elemen kekerasan yang bermaksud mendiskreditkan.

Di sisi lain, menurut komentator konservatif,  itu adalah pelampiasan kemarahan dari gejala claustrophobia atau klaustrofobia yang disebabkan oleh larangan keluar rumah selama berminggu-minggu.

Klaustrofobia merupakan salah satu jenis fobia, di mana seseorang memiliki rasa takut yang berlebih terhadap tempat tertutup. 

Sementara Trevor Loudon, seorang penulis, produser film dan pembicara publik Selandia Baru menilai, kerusuhan itu sepenuhnya pemberontakan yang dihasut oleh komunis, tidak lebih dan tidak kurang. 

Democratic Socialists of America / Organisasi sosialis demokratik Amerika

Di Minneapolis, organisasi Marxisme terbesar Amerika Serikat, “Democratic Socialists of America (DSA) atau Sosialis Demokratik Amerika” dengan 600 anggota yang terdiri dari Minneapolis dan ibukota negara bagian St Paul, di Twin Cities, Minneapolis – Saint Paul, secara aktif mendukung dan berpartisipasi dalam kerusuhan jalanan ini.

DSA bekerjasama erat dengan Antifa, sebuah organisasi yang berdiri pada tahun 1930-an dan mengklaim sebagai anti-fasis. Akan tetapi Antifa merupakan organisasi radikal yang mengadvokasi kekerasan, masyarakat anti-kebebasan, dan kapitalisme. 

Melalui sebuah resolusi di Kongres Nasional, DSA membentuk kelompok kerja nasional untuk membantu mempromosikan kolaborasi dan berbagi sumber daya untuk mendukung Antifa.  Mereka mengatakan dengan blak-blakan, “Satu kaki harus di pijakan di institusi dan satu kaki diinjak di jalanan.”

Pada tanggal 27 Mei, DSA di Twin Cities, Minneapolis, menyerukan di media sosial untuk “memasok pasokan” ke rekan-rekan mereka. Malam itu, area pameran mobil komersial dibakar. “Ingin membantu kawan-kawan yang memprotes di distrik ketiga dekat danau?” 

Rekan Marxis DSA mengatakan di Facebook, “Ini adalah daftar logistik yang dibutuhkan dari warga setempat, daftar terlampir termasuk sarana medis, kayu lapis pelindung, apa pun yang dapat digunakan untuk menghadang polisi, raket tenis, tongkat hoki/ golf, dan kebutuhan akan mobil pribadi untuk mengangkut para perusuh. Apakah ini meminta ambulans pribadi? Atau membantu para perusuh untuk melarikan diri dari lokasi kejadian?”

Kawan-kawan DSA di Twin Cities, Minneapolis juga mentweet: “Dukung pemberontakan jalanan kelas pekerja! Tolong bantu Dana Solidaritas untuk DSA – (TCDSA-Twin Cities DSA) di Twin Cities, karena mereka membutuhkan bantuan dalam beberapa minggu mendatang, ini berarti berupa biaya jaminan dan pengacara.”

Pada 28 Mei 2020, Dewan Politik Nasional DSA mengeluarkan pernyataan yang menghasut dan sangat bias untuk mendukung para perusuh: 

“Kami mengutuk perwira polisi Minneapolis yang mengeksekusi George Floyd di jalan. Pembunuhannya didasarkan pada pola kekerasan yang mengakar kuat. Mereka menindas orang-orang kulit hitam, menentang orang kulit hitam, dan sebaliknya menjunjung  supremasi ras kulit putih.”

“Diskriminasi rasial dan kekerasan polisi dari kapitalisme adalah suatu yang normal. Mereka perlu mempertahankan kekuasaan, tetapi kita perlu berjuang untuk dunia yang lebih baik. Polisi mengancam demonstran. Mereka melanggar garis pembatas dan secara khusus menggunakan kekerasan terhadap orang-orang kulit hitam dan kelas pekerja untuk melindungi kelas-kelas istimewa itu.”

“Kami berdiri bersama dengan massa yang marah ini dan mendengarkan raungan amarah mereka di jalanan. Terlalu lama sudah mereka ditekan oleh polisi, oleh kemiskinan, oleh perusahaan besar, oleh kelas tuan tanah, oleh para jutawan!”

Anggota-anggota DSA dari Atlanta dan Seattle juga ikut terjun dalam kerusuhan jalanan. DSA cabang Memphis dan Los Angeles mengumpulkan dana untuk apa yang disebut sebagai “Pemberontakan Nasional untuk almarhum Floyd”.

Partai Dunia Pekerja

“Partai Pekerja Dunia” – Workers World Party (WWP) yang mendukung Korea Utara, Rusia, Kuba, Partai Komunis Tiongkok, dan Iran, memiliki cabang di sekitar 15 kota di Amerika Serikat, sepenuhnya terlibat dalam kerusuhan.

Pada 28 Mei, WWP Monica Moorehead menulis sebuah artikel berjudul “Menentang kekerasan polisi dan kapitalisme, tidak ada yang salah dengan pemberontakan.” 

Dalam artikel itu diantaranya menuliskan:

“Partai Dunia Pekerja memberi hormat kepada semua pengunjuk rasa di Minneapolis. Saat ini, kota itu telah menjadi pusat protes kekerasan terhadap polisi.”

 “Kami juga memberikan penghormatan kepada para aktivis di Los Angeles, Memphis dan kota-kota lain yang mengorganisir protes, turun ke jalan atau caravan di tengah risiko pandemi, menunjukkan: Persatuan untuk memberikan keadilan bagi Floyd dan semua korban kekerasan oleh polisi.”

Monica kemudian mengutip kalimat Sam Marcy, pendiri WWP, yang membela warga kulit hitam dalam kerusuhan di Los Angeles pada tahun 1992, sebanyak 63 orang tewas dalam kerusuhan itu. 

Kutipan itu menyebutkan: “Ketika rakyat bangkit untuk melawan dan mendorong kaum borjuis ke sudut, yang terakhir ini akan melunak, menggunakan segala macam tipu daya, dan memanfaatkan kelompok pemberontak minoritas untuk menentang mayoritas yang taat hukum.”

Partai komunis revolusioner

Partai Komunis Revolusioner” Maois menghasut dengan menggunakan kematian Floyd gerakan revolusioner yang sebenarnya. Mereka mengeluarkan buletin No. 6, berjudul “Polisi membunuh, membunuh dan membunuh. Bagi mereka yang membenci kegilaan semacam ini, ayo bangkit dan ciptakan revolusi yang sesungguhnya.”

“Jika Anda bosan menyaksikan satu demi satu video pembunuhan oleh polisi, Anda perlu berpartisipasi dalam revolusi nyata untuk menciptakan kesempatan untuk memimpin orang-orang menghancurkan sistem lama dan membangun sebuah republik sosialis baru di Amerika Utara!”

Berjuang untuk sosialisme dan Liberation Party / Partai pembebasan

“Partai Komunis Revolusioner dan Partai Pembebasan”  menganut Marxisme-Leninisme, pro-Komunis Tiongkok, Iran, Korea Utara, Kuba, Venezuela, dan Rusia. Partai ini didirikan di Amerika Serikat pada tahun 2004 dan memiliki cabang di sekitar 30 negara. Mereka mencoba menggunakan kematian Floyd untuk menyebut kerusuhan di Amerika sebagai “periode yang sangat kritis” untuk mewujudkan cita-cita komunis mereka.

“Selama negara rasis semacam itu tetap eksis, polisi akan selalu menjadi kaki tangan dari supremasi ras kulit putih dan kapitalisme.”

“Pada saat yang kritis ini, kami dengan tegas bertekad untuk membangun sebuah organisasi untuk perjuangan kelas untuk menghadapi negara rasis dan kelas yang berkuasa … Dalam krisis yang mendalam, para rasis membunuh Floyd dan Ahmaud Arbery, Breonna Taylor, Sean Reed, jadi perjuangan perlawanan ini harus dilanjutkan dan diperkuat! “

Musim panas yang panjang

Meskipun memiliki bukti kuat, komunis berpartisipasi dalam kerusuhan, tetapi tidak ada wartawan yang mau melaporkan fakta itu. Ada satu pengecualian, dan dia adalah Andy Ngo, seorang ahli yang mempelajari organisasi ekstrim kiri Antifa:

Pada 29 Mei, Andy Ngo mentweet :

“Kami sedang menyaksikan tentang pemberontakan skala penuh oleh ekstrem kiri yang telah berlangsung selama beberapa dekade. Dalam beberapa jam, organisasi Antifa di seluruh negeri dimobilisasi untuk menyambut perusuh Black Lives Matter / BLM (orang kulit hitam juga manusia). Mereka mengatakan : Kelinci juga akan menggigit saat terdesak, dan panji-panji pemberontakan naik dengan cepat.”

Black Lives Matter (BLM) adalah sebuah gerakan, yang diinisiasi pada tahun 2013 saat menanggapi pembebasan pembunuh Travyon Martin.

Media, politisi, dan masyarakat meremehkan kemampuan pelatihan kelompok sayap kiri. Setiap tempat kekacauan pasti memiliki tujuan. Nyala api/ pembakaran menghancurkan roda ekonomi. Para perusuh mengelabui polisi dan bahkan militer. Dan hal itu akan menghancurkan ketertiban sosial jika Jika terus berlanjut.

Organisasi “Sosialis Demokratik” Marx sekarang memiliki 66.000 anggota di hampir semua Negara bagian Amerika Serikat. 

Selain itu juga ada organisasi Partai Komunis lainnya seperti Partai Komunis Amerika (CPUSA), “Liberation Road”, “Socialist Alternative”, Workers World Party, Party for Socialism and Liberation, Socialist Unity Party, Revolutionary Communist Party dan sekutunya, “Black Lives Matter” (BLM) dan “Antifa”. Mereka dapat memobilisasi puluhan ribu militan dalam waktu singkat.

Selama kerusuhan Ferguson 2014, Freedom Road Socialist dan sekutunya yang pro-Komunis Tiongkok mengatakan mereka membawa hampir 10.000 aktivis ke St. Louis, Missouri untuk mendukung perusuh lainnya.

Meskipun tanpa Partai Komunis, tetapi sesekali masih akan terjadi konflik etnis, namun, selalu ada bayangan komunis di dalamnya saat terjadi kekacauan rasial pada 1960-an. Mereka mengompori dari dalam dan membantu menciptakan masalah.

Kecuali ada serangan balik yang kuat, jika tidak, kerusuhan dan protes saat ini akan terus berlanjut sepanjang musim panas hingga pemilu Amerika Serikat November 2020 mendatang. Ada dua tujuan, yakni menghambat pemulihan ekonomi Amerika Serikat  dan mencegah Trump terpilih kembali. Sebenarnya, kerusuhan ini tidak ada hubungannya dengan ras, perubahan rezim dan revolusi.

Kecuali mengambil tindakan tegas, jika orang-orang Amerika akan menghabiskan musim panas yang menyengat dan panjang. Revolusi komunis mungkin akan datang kepada Anda. (Johny/rp) 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular