oleh Shen Zhou

Pada 4 Juni 2020, mantan selebriti olahraga Tiongkok Hao Haidong dan Ye Zhaoying kembali menjadi sorotan dunia karena Hao Haidong membacakan Deklarasi Negara Federal Baru Tiongkok (Declaration of the New Federal State of China). Kedua orang yang pernah mengharumkan nama bangsa melalui dunia olah raga yang mereka geluti, kini menyerukan kepada rakyat Tiongkok untuk bersama-sama membasmi Partai Komunis Tiongkok yang tirani sejak mengambil alih kekuasaan.

Aksi luar biasa Hao Haidong

Hao Haidong melalui video membacakan bagian dari deklarasi : Membasmi Partai Komunis Tiongkok adalah kebutuhan akan keadilan. Partai Komunis Tiongkok adalah organisasi teroris yang didanai oleh Komunis Internasional untuk menggulingkan pemerintah sah Tiongkok di masa lalu. Pemerintahan totaliter yang dipimpin Partai Komunis Tiongkok kemudian menyebabkan kekejaman yang mengerikan terhadap kemanusiaan :  Mengabaikan hak asasi manusia, menghancurkan kemanusiaan, menginjak-injak demokrasi, melanggar hukum, mengingkari perjanjian yang sah, menyebabkan pertumpahan darah besar di Hongkong, membunuh warga Tibet, mengekspor korupsi ke seluruh dunia.

Isi deklarasi juga menyebutkan : COVID-19 (virus komunis Tiongkok) merupakan serangan biologis terhadap negara – negara bebas di dunia yang menjadi masalah serius karena mengancam kesehatan dan kelangsungan hidup manusia. Kejahatan yang telah dilakukan komunis Tiongkok itu terlalu keji untuk mendapat toleransi ! Membasmi Partai Komunis Tiongkok adalah penting dalam memutus belenggu perbudakan yang dikenakan pada rakyat Tiongkok, dan juga dalam membawa perdamaian ke dunia. Dengan berdirinya Negara Federal Baru Tiongkok yang tanpa Partai Komunis Tiongkok, akan dapat memenuhi kebutuhan rakyat Tiongkok serta memastikan kemakmuran dunia.

Kemudian, Hao Haidong dan istrinya Ye Zhaoying bersama-sama menerima wawancara media. Hao Haidong berulang kali berterima kasih kepada istrinya atas dukungan yang diberikan sehingga tidak merasa sendirian dalam perjalanan menggulingkan sistem Partai Komunis Tiongkok.

Hao Haidong mengatakan : “Ketika seorang suami membuat keputusan yang terpenting dalam hidup, jika tidak ada dukungan dari keluarga, termasuk istri dan anak-anak, kegelisahan batin semacam itu adalah suasana kesendirian yang paling sulit dilewati ! Pada saat itulah dia (Ye Zhaoying) tampil untuk memberikan dukungan, bersedia ikut berjuang dengan saya ! Ye bahkan mengatakan : Apakah Anda yang seharusnya menghadapi tekanan semacam ini sendirian ? Saya Hao Haidong tidak akan menyesali kehidupan karena dukungan kekasih saya, saya merasa bangga !”

Juara dunia bulu tangkis Ye Zhaoying pernah menjadi korban politik

Ye Zhaoying adalah mantan pebulutangkis Tiongkok dan menduduki peringkat nomor 1 dunia dalam nomor tunggal putri IBF pada tahun 1995, 1996, 1997 dan 1998. Selama lebih dari 10 tahun berada di tim nasional Tiongkok, ia berhasil meraih peringkat nomor 1 dalam tunggal putri. Ia telah meraih juara 1 tunggal putri di Kejuaraan Bulu Tangkis Dunia pada tahun 1995 dan 1997, dan kejuaraan tunggal putri di All England pada tahun 1997, 1998 dan 1999. Tahun 1995 menjadi juara tunggal putri Piala Dunia, 1995, 1997, 1999 juara tunggal putri Badminton Dunia Grand Prix . Pada tahun 2017, Ye Zhaoying memenangkan gelar Guinness World Records sebagai wanita yang paling banyak meraih juara dalam Piala Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis.

Tahun 2000, Ye Zhaoying berpartisipasi dalam kejuaraan Olimpiade dan berhasil mencapai semifinal tunggal putri. Sebelum memasuki semifinal ia berhasil mengalahkan bintang Denmark Camilla Martin yang menyingkirkan Dai Yun dari Tiongkok dan masuk ke final.

Untuk memastikan medali emas ini, pelatih kepala Li Yongbo meminta Ye Zhaoying dengan sengaja kalah dari rekan setimnya Gong Zhichao, dan juga berjanji bahwa jika Gong Zhichao menang, dia akan menerima perlakuan yang sama seperti juara Olimpiade.

Ye Zhaoying tentu saja tidak ingin menyerah, tetapi pada akhirnya dia terpaksa mematuhi perintah dengan linangan air mata. Alhasil, Ye Zhaoying kalah straight set dari Gong Zhichao dengan skor 8-11 dan 8-11, yang menunjukkan kemampuan Ye sebenarnya tidak kalah. Pada akhirnya, Ye Zhaoying hanya memenangkan medali perunggu.

Usai Olimpiade, prestasi bulu tangkis Ye Zhaoying masih berada di puncak, tetapi ia memilih pensiun. Di kemudian hari ia mengatakan : “Orang lain sudah tidak menginginkan saya lagi, untuk apa saya masih di sana ? … Mengapa saya harus berpura-pura bodoh di depan orang lain, untuk apa ?” Itulah kepribadian tegas yang dimiliki seorang Ye Zhaoying.

Tahun 2018, Ye Zhaoying yang berusia 44 tahun dan sudah 18 tahun keluar dari arena bulutangkis Tiongkok datang untuk bermain lagi bulu tangkis di sebuah klub di Spanyol.

Kisah perjalanan karir Hao Haidong

Hao Haidong adalah mantan striker tim sepak bola nasional Tiongkok yang pernah bermain untuk klub sepakbola Bayi dan Dalian Shide.

Pada tahun 1980, Hao Haidong terpilih untuk bermain di tim junior Bayi, dan mulai tahun 1986 bermain di tim senior Bayi. pada tahun 1992, ia masuk ke tim nasional dan berpartisipasi di Piala Asia. Pada tahun 1995, sebagai pesepakbola Tiongkok tenar pada saat itu, Hao Haidong mendapat kesempatan untuk tinggal di luar negeri, tetapi karena tim Bayi termasuk tim sepakbola di bawah bendera PLA (tentara pembebasan rakyat Tiongkok) dan tidak bisa bermain sepak bola di luar negeri. Sehingga mimpi Hao Haidong untuk bermain sepakbola di luar negeri tidak mungkin terealisasi.

Pada bulan Januari 1997, ia memilih pindah bermain untuk klub sepakbola Dalian Shide dengan uang transfer sebesar RMB. 2,2 juta, meskipun tidak disetujui oleh klun Bayi. Pada tahun yang sama, di putaran ke-17 Liga A Tiongkok di Guangdong, Hao Haidong mencetak 4 gol untuk membantu Dalian Shide memenangkan pertandingan dengan skor akhir 5-2. Ini juga merupakan hat-trick pertama dalam sejarah liga sepak bola profesional Tiongkok.

Pada bulan Desember 1998, akibat Hao Haidong berperilaku tidak sopan terhadap wasit dalam pertandingan sepakbola di Asian Games, Asosiasi Sepakbola Asia menskornya dengan tidak boleh bermain di pertandingan resmi selama 1 tahun mulai bulan Februari 1999.

Namun hukuman skorsing yang awalnya tidak termasuk liga domestik, dijabarkan sebagai tidak boleh mengikuti pertandingan dalam dan luar negeri karena kesalahpahaman Asosiasi Sepakbola Tiongkok, sehingga Hao pun dilarang untuk berpartisipasi dalam liga domestik selama satu tahun.

Hao Haidong telah 5 kali membantu Dalian Shide menduduki peringkat nomor 1 Seri-A di Liga Sepakbola Tiongkok, 1 kali Piala Asosiasi Sepakbola Tiongkok, 3 kali juara CFA Super Cup. 1 kali terpilih sebagai pemenang Chinese Football Association Footballer of the Year tahun 1998, 3 kali berhasil menggondol Sepatu Mas di seri-A Liga Sepakbola Tiongkok, 1 kali terpilih sebagai striker Asia terbaik yang diberikan oleh AFC.

Tahun 2002, Hao Haidong berpartisipasi dalam Piala Dunia di Jepang-Korea. Pada tahun 2004, Hao Haidong yang berusia 34 tahun masih dianggap striker terbaik di tim sepakbola Tiongkok, berpartisipasi di Piala Asia. Dalam semi-final, ia ditabrak sampai kepalanya berdarah dan terpaksa dikeluarkan dari lapangan pertandingan, tetapi Hao Haidong masih dipasang untuk melawan tim Jepang dalam final 3 hari kemudian, meskipun dengan kepala berperban.

Setelah tim Tiongkok tersingkir di kualifikasi Piala Dunia tahun 2006, Hao Haidong menarik diri dari tim nasional dengan catatan telah bermain sebanyak 115 kali pertandingan atas nama tim nasional dan mencetak 41 gol, dimana 103 di antaranya adalah pertandingan tingkat internasional dan mencetak 37 gol internasional.

Bulan Januari 2005, ia dibeli oleh klub sepakbola Inggris Sheffield United sebesar GBP. 1 juta. tetapi ia tidak mendapatkan kesempatan untuk bermain. Sejak akhir tahun 2007 hingga akhir tahun 2012, Hao Haidong menjabat sebagai manajer umum Tianjin Songjiang Football Club. Dalam beberapa tahun terakhir, Hao Haidong meninggalkan Tiongkok dan menetap di Spanyol bersama istrinya Ye Zhaoying.

Hao Haidong dan Ye Zhaoying kembali menarik perhatian dunia

Setelah pneumonia wuhan menjadi pandemi global, Hao Haidong secara terbuka mendukung penulis Wuhan Fang Fang.

Pada 4 Juni 2020, Hao Haidong dan Ye Zhaoying kembali menjadi perhatian dunia karena deklarasi mereka membawa inspirasi bagi orang Tionghoa perantauan dan banyak rakyat Tionghoa.

Mereka bersedia meninggalkan kehidupan di tanah rantau yang tentram dan damai, dan memilih untuk berdiri di barisan paling depan dalam upaya membangunkan semangat semua orang etnis Tionghoa untuk menentang Partai Komunis Tiongkok, kata-kata dan perbuatan mereka terpuji dengan kisah mereka yang legenda sangat mungkin kembali tercatat dalam sejarah. Seperti yang dikatakan Hao Haidong, ini adalah keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia berharap semangat yang dimiliki dapat bercahaya dalam proses sejarah membasmi Partai Komunis Tiongkok, memberikan terang yang jauh melebihi prestasi mereka dalam dunia olahraga.

Seluruh dunia sedang membuat pilihan, apakah masih mau berurusan dengan penjahat seperti Partai Komunis Tiongkok. Bagi rakyat Tiongkok, lebih-lebih harus membuat pilihan. Urusan rakyat Tiongkok masih harus diatasi oleh rakyat sendiri, nasib dan masa depan Tiongkok juga harus berada dalam genggaman rakyat Tiongkok sendiri ! (Sin)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular