Ntdtv.com- Pada bulan April 2020 lalu, beredar streaming video anggota kru kapal Tiongkok membentangkan spanduk  meminta pemerintah Zhoushan, Tiongkok  mengizinkan mereka naik ke daratan.  Spanduk itu beruliskan, “Mohon pemerintah Zhoushan membiarkan kami pulang.” 

Media daratan melaporkan pada saat itu bahwa lebih dari 80.000 anggota kru kapal Tiongkok ditolak untuk kembali ke negara itu dengan alasan pencegahan epidemi corona virus. Kru kapal itu terkatung-katung di laut dalam waktu yang lama, dan banyak yang hampir putus asa. 

Beberapa hari yang lalu, sebuah surat meminta bantuan dari anggota kru kapal Tiongkok yang terdampar di perairan Filipina dilaporkan secara online, mengungkap situasi tragis mereka.

Surat meminta pertolongan itu beredar di media sosial menggambarkan bahwa karena berulang kali Kedutaan Besar Tiongkok menolak mengevakuasi, lebih dari 200 anggota awak kapal Tiongkok tidak dapat kembali ke negara asal mereka dan tinggal di perairan Filipina. 

Para kru kapal itu telah terkatung-katung di laut selama 128 hari. Tersiar berita bahwa di dalam kapal dilaporkan ada seseorang  didiagnosis terkena virus Komunis Tiongkok, tetapi di atas kapal tidak ada peralatan pelindung apapun. Dalam situasi putus asa, ada yang bunuh diri dengan melompat ke laut.

Para pelaut yang mengirim surat meminta pertolongan mengaku sebagai anggota Komunis Tiongkok, dan berulang kali memohon pemerintah Tiongkok untuk membiarkan mereka kembali ke negara itu dan memberi mereka jalan untuk hidup.

Keterangan gambar: Sebuah surat dari kru kapal Tiongkok meminta pertolongan .

Surat meminta pertolongan akhirnya menunjukkan bahwa pengirim telah meneruskan pesan marabahaya itu ke sejumlah media Komunis Tiongkok, media Partai Hong Kong, dan Kedutaan Besar Tiongkok di Filipina. Namun, masalah ini belum mendapat tanggapan atau pernyataan resmi oleh Komunis Tiongkok.

Spanduk permohonan kru kapal dalam video yang viral di internet  pada awal April 2020 lalu itu, menunjukkan bahwa kapal telah kembali ke Pelabuhan Zhoushan dari luar negeri. Akan tetapi pemerintah setempat tidak mengizinkan mereka untuk mendarat dengan alasan pencegahan epidemi, memaksa mereka untuk tetap berada di kapal untuk waktu yang lama.

Juga pada bulan April, media daratan “First Finance” melaporkan bahwa lebih dari 80.000 awak kapal Tiongkok yang bekerja di kapal layar internasional menghadapi masalah karena tidak dapat kembali ke rumah setelah 14 hari diasingkan. 

Para pelaut tidak diizinkan ke darat dan tidak bisa mengubah giliran kerja, sehingga mereka harus terus terkatung-katung di laut. Ada yang sudah selama beberapa bulan tidak pernah naik ke darat.

Laporan itu mengatakan bahwa beberapa anggota kru yang meminta cuti, walaupun mereka dinyatakan negatif, masih menghadapi 14 hari dan 14 hari karantina.

Permohonan cuti belum disetujui dan mereka tidak bisa pulang. Karena sempitnya kegiatan di atas kapal, berada di kapal untuk waktu yang lama, itu akan menyebabkan tekanan besar pada tubuh dan pikiran kru. Beberapa orang bahkan mengalami depresi.

Keterangan foto: Awak kapal Tiongkok tidak punya tempat untuk kembali ke negaranya dan terkatung-katung di laut untuk waktu yang lama. (Tangkapan layar video)

Pada saat itu, dilaporkan bahwa Administrasi Keselamatan Maritim Tiongkok telah membuat “pengaturan yang tepat” mengenai perpindahan awak selama epidemi. 

Namun, surat meminta pertolongan dari para awak kapal tersebut di perairan Filipina menunjukkan bahwa komitmen pihak berwenang tidak dapat dipercaya.

Selain puluhan ribu anggota awak kapal Tiongkok, ada jutaan warga Tiongkok yang terdampar di negara lain. Karena Komunis Tiongkok menutup pelabuhan dan membatasi jumlah penerbangan internasional, sejumlah besar orang Tiongkok tidak bisa kembali ke negaranya dan jatuh dalam masalah. 

Para netizen menertawakan bahwa selama epidemi, negara-negara lain sibuk mengevakuasi orang Tionghoa perantauan, sementara Komunis Tiongkok sibuk memblokir orang Tiongkok pulang ke negerinya. (hui/rp) 

Video Rekomendasi

Share

Video Popular