oleh Li Yun

Usai penyelenggaraan Dwi Konferensi Partai Komunis Tiongkok pada akhir bulan lalu, tampaknya perselisihan antara Xi Jinping dengan Li Keqiang semakin meruncing dan tanpa tendeng aling-aling. Hal demikian terkait pasar kaki lima dengan harapan bisa menghidupkan kembali ekonomi yang mulai dimentahkan

Baru-baru ini, tersiar berita ‘Ekonomi K5 atau kaki lima’ di daratan Tiongkok yang baru dipromosikan oleh Li Keqiang dalam rangka mengatasi kemerosotan ekonomi komunis Tiongkok dan masalah lapangan kerja. Namun demikian, Xi jinping menghendaki ‘Ekonomi K5’ segera dihentikan, katanya K5 itu adalah penyakit lama yang bandel dan takut merusak citra ibukota.

Pada 6 Juni 2020, media ‘Beijing Daily’ mempublikasikan 3 buah artikel yang masing-masing berjudul : ‘Komite Pengelolaan Kota Beijing : Pedagang K5 yang Menjajakan Dagangannya Tidak Sesuai Aturan Dapat Ditindak Tegas’, ‘Berita tentang Ekonomi K5 yang Beredar Online adalah Hoax’, dan ‘Ulasan Beijing Daily : Ekonomi K5 Tidak Sesuai untuk Ibukota Beijing’.

Gagasan utama dari ketiga artikel tersebut adalah bahwa Komite Pengelolaan Kota Beijing baru-baru ini mengonfirmasi bahwa yang disebut 109 titik lokasi yang disediakan untuk pedagang K5 adalah hoax.

Artikel mengutip ucapan seseorang yang bertanggung jawab di komite tersebut menyebutkan bahwa di masa lalu para pedagang K5 dengan seenaknya melubangi dinding, menyita trotoar untuk menjajakkan dagangan, beroperasi tanpa lisensi itu sangat merugikan upaya pemerintah dalam membangun citra ibukota maupun citra nasional. Oleh karena itu, model ekonomi ini dianggap tidak cocok untuk dikembangkan di Beijing.

Bagian pelaksanaan dari Komite Pengelolaan Kota Beijing menegaskan bahwa lokasi untuk pedagang K5 yang ditetapkan itu tidak sesuai dengan aturan yang berlaku sehingga dinyatakan tidak sah. Oleh karena itu, komite berharap penegak hukum di semua tingkatan kota untuk meningkatkan inspeksi dan mengambil tindakan seperlunya untuk menangani tindakan ilegal yang merusak tatanan, citra dan lingkungan kota.

Langkah-langkah yang disebutkan di atas dianggap bertentangan dengan rencana Perdana Menteri Li Keqiang untuk mendorong ‘Ekonomi K5’ dalam masa ekonomi Tiongkok sedang menghadapi kesulitan. 

‘Ekonomi K5’ tiba-tiba minta “didinginkan”

Li Keqiang sekali lagi menekankan perlunya ‘menstabilkan lapangan kerja demi melindungi mata pencaharian masyarakat’ dalam konferensi pers usai Dwi Konferensi pada 28 Mei lalu. Ia memuji Pemda Chengdu, Sichuan yang menerapkan ‘Ekonomi K5’  sehingga mulai mengurangi jumlah pengangguran. 

Setelah itu, pola tersebut banyak diikuti oleh pemda di berbagai tempat, bahkan banyak pejabat di biro pengelolaan kota mengeluarkan himbauan dan memberikan fasilitas agar warga bersedia untuk berdagang kaki lima.

Radio Free Asia mengutip ucapan sumber yang mengetahui permasalahan melaporkan bahwa Li Keqiang sempat pergi ke kota Yantai, Shandong untuk melakukan inspeksi pada 1 Juni, dan mengatakan : “Ekonomi K5′ bagaikan kembang api yang mampu memberikan vitalitas baru bagi Tiongkok. Setelah pidato Li itu, istilah ‘Ekonomi K5’ langsung viral. Komite Pengelolaan Kota Hefei bahkan menerbitkan artikel yang isinya mengenai pihaknya langsung menyambut baik gagasan Li tersebut dengan mengatur sejumlah besar anggota dari sub-bironya untuk pergi ke kota Nanjing mempelajari cara pengelolaan ‘Ekonomi K5”.

Namun, pada 5 Juni malam, tren ‘Ekonomi K5’ tiba-tiba berubah drastis. Pejabat senior dari media pemerintah pusat telah menerima instruksi dari Kantor Informasi Internet Kementerian Propaganda Pusat untuk segera memblokir laporan, berita terkait ‘Ekonomi K5’. Bahkan Kantor Komite Pengarah Pusat untuk Pembangunan Peradaban Spiritual pun terpaksa menarik kembali artikel menyangkut topik bersangkutan.

Menurut laporan bahwa Kementerian Propaganda telah menginstruksikan media untuk tidak menggunakan istilah ‘Ekonomi K5’ dalam pemberitaan karena istilah tersebut membuat malu  pemerintah. Penggunaan istilah itu tidak berbeda dengan menyiramkan seember air dingin ke kobaran semangat mensukseskan ‘Ekonomi K5’ karena dibantu dengan gembar-gembor media.

Akibat pendinginan ‘Ekonomi K5’, pedagang k5 dipukuli

Hal yang tidak dapat diterima adalah bahwa pemerintah pusat selain ingin dalam waktu singkat mendinginkan propaganda media tentang ‘Ekonomi K5’, petugas pengelola kota bahkan menggunakan kekerasan terhadap pedagang kaki lima.

Sebuah video yang diposting di Internet pada 6 Juni menunjukkan bahwa petugas pengelola kota Beijing melakukan kekerasan terhadap pedagang kaki lima. 

Bahkan ada video yang menggambarkan pedagang kaki lima yang mengeluh : “PM. Li Keqiang mengijinkan kita berjualan, mengapa kalian justru melarang ?”

Yuan Weiji, asisten dosen Akademi Ilmu Ekonomi dan Keuangan di Universitas Shuren, Hongkong kepada ‘Apple Daily’ mengatakan bahwa ‘Ekonomi K5’ memiliki fleksibilitas tertentu yang mampu mengatasi masalah pengangguran, sehingga warga dapat menemukan cara untuk mencari nafkah. Sementara memungkinkan ekonomi terus berputar dan membiarkan pasar sendiri yang menentukan soal kebutuhan dan aktivitas ekonomi di masyarakat.

Ia mengatakan bahwa khusus di masa pandemi pneumonia ini yang telah merusak ekonomi global, Tiongkok tidak dapat lagi bergantung pada ekspor untuk menopang pertumbuhan ekonominya, kecuali dengan mengandalkan permintaan dari dalam negeri. Sedangkan selama periode transformasi ekonomi ini, kebijakan ‘Ekonomi K5’ sebagai penyangga sementara sesungguhnya dapat memainkan peran tertentu.

Liu Ruishao, seorang komentator politik senior menjelaskan bahwa di balik “pendinginan” secara tiba-tiba terhadap ‘Ekonomi K5’ kali ini sebenarnya melibatkan perselisihan antara Xi Jinping dengan Li Keqiang. Terutama setelah epidemi pneumonia komunis Tiongkok mulai relatif “stabil”, keduanya memiliki beberapa beda pendapat dalam masalah memulihkan ekonomi.

Ia mengatakan bahwa Xi Jinping berharap untuk secepatnya memulai kembali aktivitas  produksi, sementara Li Keqiang percaya bahwa mata pencaharian dan pekerjaan rakyat harus mendapatkan jaminan. Meskipun prioritas untuk merealisasikan tujuan dari keduanya berbeda, namun sama-sama ingin mencapai tujuan stabilitas sosial agar rakyat tidak bergolak.

Li Keqiang dalam pidato penutupan Dwi Konferensi mengungkapkan bahwa ada sekitar 600 juta orang penduduk Tiongkok yang berpendapatan per bulan hanya RMB. 1.000, Oleh karena itu ia kemudian dengan giat mendorong agar para pengangguran dapat mencari nafkah melalui berjualan kaki lima. Ia berharap tidak terjadi pergolakan karena gelombang pengangguran.

Wu Qiang, seorang sarjana politik independen di daratan Tiongkok mengatakan bahwa Li Keqiang terus berusaha untuk mempromosikan kebebasan ekonomi, mengurangi birokrasi demi persetujuan izin, dan melonggarkan pasar sejak ia memangku jabatan perdana menteri. 

Namun, kontrol dan intervensi ekonomi yang dilakukan Xi Jinping membuat pro dan kontra terus bermunculan. Akibatnya kebijakan ‘Ekonomi K5’ yang baru dipromosikan ini, baik sengaja atau tidak telah menjadi ajang pertempuran keduanya.

Wu Qiang menjelaskan, Li Keqiang mengakui bahwa sebanyak 600 juta penduduk Tiongkok hanya memiliki pendapatan bulanan sebanyak RMB. 1.000. Sebenarnya, itu juga secara tidak langsung menunjukkan bahwa kebijakan pengentasan kemiskinan Xi Jinping dalam 8 tahun terakhir sudah menemui kegagalan. 

Melalui menunjukkan keberadaan penduduk berpenghasilan rendah dan menengah di kota, serta wabah yang berpotensi menyebabkan munculnya pengangguran berskala besar. Kemudian, dengan didorongnya kebijakan ‘Ekonomi K5’, Li Keqiang mengharapkan perkembangan populisme ekonomi yang ia bangun mampu menandingi populisme politik pusat Xi Jinping.

 “Jadi kejadian ini mencerminkan bahwa Dewan Negara selama ini berada dalam ruang isolasi yang dibangun oleh Xi”, kata Wu Qiang.

Wu Qiang melanjutkan penjelasannya : ‘Ekonomi K5’ dan rendahnya pendapatan bulanan 600 juta penduduk, menyebabkan simpati dan resonansi di antara masyarakat daratan. Sementara pendinginan resmi terhadap ‘Ekonomi K5’ dalam semalam sebenarnya adalah suatu tindakan meremehkan.

Hu Xingdou, seorang ekonom independen dalam analisanya menyebutkan bahwa ekonomi kaki lima sebenarnya adalah ekonomi pasar yang paling primitif dan terbelakang, memberi orang perasaan mundur, membawa kembali ke zaman sebelum reformasi ekonomi Tiongkok 40 tahun silam. Jadi hal ini sekarang yang dijadikan perdebatan, bahkan tiba-tiba menginstruksikan pendinginan secara cepat, itu semua wajar-wajar saja. Ekonomi kaki lima bukan tidak mungkin, tetapi perlu dukungan hukum serta peraturan yang relevan. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular