Epochtimes.com- Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan pandemi yang terjadi saat ini memperluas ketegangan dan tren keamanan. Stoltenberg menegaskan, menunggu tahun 2030, NATO perlu bekerja lebih dekat dengan negara-negara yang sepaham seperti Australia, Jepang, Selandia Baru, dan Korea Selatan untuk mempertahankan aturan global dalam menjaga keamanan selama beberapa dekade. Selain itu, bertujuan untuk mempertahankan ruang angkasa dan dunia maya, teknologi baru, dan kontrol senjata global. Dikarenakan pada akhirnya demi membela dunia yang didasarkan pada kebebasan dan demokrasi, bukan berdasarkan intimidasi dan paksaan. 

Hal demikian disampaikannya dalam pidato online di forum yang diselenggarakan oleh Atlantic Council dan The German Marshall Fund of the United States pada Senin 8 Juni 2020. 

Saat ini, Komunis Tiongkok sekarang menjadi negara dengan pengeluaran militer terbesar kedua di dunia. Oleh karena itu, Stoltenberg meminta organisasi NATO dengan 30 negara untuk mengadopsi “pendekatan yang lebih global” untuk menghadapi Komunis Tiongkok.

Analisis “Financial Times”, pidato Stoltenberg mencerminkan aliansi militer Perang Dingin 71 tahun yang dibentuk melawan Uni Soviet, sekarang berfokus pada Komunis Tiongkok.

Stoltenberg berkata : “Munculnya Tiongkok(Partai Komunis Tiongkok)  secara fundamental mengubah keseimbangan kekuatan global, mengintensifkan persaingan untuk supremasi ekonomi dan teknologi, melipatgandakan ancaman bagi masyarakat terbuka dan kebebasan pribadi, dan bersaing untuk nilai-nilai dan Gaya hidup. “

Pada kesempatan itu, Stoltenberg mengatakan : “Mereka semakin dekat dan dekat dengan kita di dunia maya. Mereka berinvestasi dalam infrastruktur kritis kita di Kutub Utara dan di Afrika (perluasan daya), sedangkan kerja sama mereka dengan Rusia semakin dekat. Semua ini menimbulkan ancaman keamanan bagi sekutu NATO.”

Ketika ditanya apakah Komunis Tiongkok sekarang menjadi “musuh baru” NATO, Stoltenberg membantah klaim ini. Tetapi dia menunjukkan bahwa pada Desember tahun lalu, para pemimpin NATO mencapai kesepakatan untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ia berbicara tentang bagaimana menghadapi dampak dari bangkitnya Komunis Tiongkok soal keamanan, termasuk pengembangan rudal yang dapat mencapai sekutu NATO.

Stoltenberg sangat memuji kerja sama antara Amerika Serikat dan NATO, sementara menolak untuk mengevaluasi laporan bahwa Amerika Serikat telah mengurangi 9.500 tentara dari Jerman. Berlin menyatakan belum secara resmi dikonfirmasi oleh penarikan Amerika Serikat.

Stoltenberg mengatakan, “Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah pasukan AS yang ditempatkan di Eropa  menunjukkan pertumbuhan baru.” 

Dia juga ingat bahwa Amerika Serikat terus mempertahankan penyebaran militernya yang kuat di negara-negara Baltik, Spanyol dan Norwegia.

“NATO adalah satu-satunya kerangka organisasi yang dapat menghubungkan Eropa dan Amerika Utara setiap hari,” kata Stoltenberg. 

John Ullyot, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, mengatakan bahwa Washington “belum merilis informasi yang relevan saat ini”. Dia menambahkan bahwa Presiden Trump “terus-menerus menilai kembali rencana terbaik untuk militer AS dan pasukannya yang ditempatkan di luar negeri.”

Sementara itu, Inggris mengumumkan bahwa mereka akan meninjau kembali tinjauan keamanan dari peran jaringan 5G Huawei. 

Jeremy Fleming, direktur Markas Komunikasi Pemerintah Badan Intelijen Inggris (GCHQ), jarang secara terbuka menyatakan bahwa wabah telah menyebabkan ancaman Komunis Tiongkok menjadi perhatian “pertama dan utama” dari komunitas internasional. (Hui/asr)

Editor yang bertanggung jawab: Ye Ziwei #

Video Rekomendasi

Share

Video Popular