Ntdtv.com- Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sosok “Hao Haidong” muncul di daratan Tiongkok, dan cukup banyak warga setempat yang bahkan dengan nekat meneriakkan “Hancurkan Partai Komunis” di depan gerbang pintu pemerintah. 

Menurut orang-orang yang mengetahui masalah ini, otoritas Komunis Tiongkok sangat takut dengan kondisi anti-komunis ini, dan khawatir akan semakin banyak orang yang menirunya, yang mengarah pada jatuhnya rezim Komunis Tiongkok  dengan cepat. 

Pada 9 Juni 2020, sepenggal video yang beredar di Internet mengatakan, pemerintah daerah Hainan secara paksa menghancurkan rumah-rumah penduduk. Para warga yang tak berdaya ini berteriak dengan marah: “Hancurkan Partai Komunis!” 

Video tersebut menyebutkan bahwa pemerintah daerah Kabupaten Qiongzhong, Provinsi Hainan, tidak memberikan kompensasi atau memindahkan warga ke tempat tinggal lain setelah menghancurkan rumah-rumah penduduk desa dengan kekerasan. Hal itu menyebabkan penduduk desa bersumpah akan melawan. 

Dalam video itu, tampak kerumunan massa berkumpul di depan gedung pemerintah. Mereka berteriak dengan marah, “Gulingkan Partai Komunis.” Bahkan ada yang berteriak. “Gulingkan pucuk pimpinan Partai Komunis.”

Namun, disinyalir  video itu sepertinya merupakan video lama. Setelah ditelusuri lebih lanjut laporan berita sebelumnya, terungkap bahwa Biro Administrasi dan Penegakan Hukum Perkotaan, personel polisi, pertahanan zona dan petugas pemadam kebakaran, dan lebih dari 1.200 petugas pembongkaran yang diorganisir oleh Pemerintah Kota Haikou, Provinsi Hainan, pada tahun 2016 silam memasuki perumahan penduduk di Desa Qionghua, Kabupaten Changliu, Distrik Xiuying, dan secara paksa menghancurkan rumah-rumah penduduk serta menangkap puluhan orang.

Pada Februari 2019, Initium Media, yakni outlet media digital berbasis di Hong Kong menerbitkan sebuah artikel berjudul “Lebih dari 3.000 rumah dibongkar paksa, para orang tua yang bermigrasi dan impian Hainan yang hancur”. Itu menggambarkan tentang pemerintah Hainan yang secara paksa menghancurkan bangunan perumahan penduduk setempat. Sementara para pemiliknya berjaga-jaga di dalam rumah tanpa pasokan air dan listrik. Mereka mencoba menghadang ekskavator di luar area pemukiman dengan jiwa raga mereka.

Itu adalah aksi pembongkaran paksa yang telah berlangsung lebih dari setahun di seluruh pulau Hainan. Daerah yang dibongkar paksa meliputi 9 area pemukiman, 94 bangunan dan lebih dari 3.000 kepala keluarga. 

Para pemiliknya tidak habis mengerti, “Mengapa rumah yang dibeli dengan tabungan seumur hidup itu seketika menjadi bangunan ilegal dalam waktu semalam?” Beberapa pemilik rumah pun bunuh diri karenanya.

Itu hanyalah segelintir yang dilaporkan di Hainan. Pembongkaran paksa seperti itu sudah biasa terjadi di seluruh pelosok negeri Tiongkok. Ada puluhan juta penduduk yang mengajukan petisi, dan membela hak-hak mereka karena pembongkaran paksa itu, melibatkan semua tingkatan masyarakat di seluruh negeri Tiongkok.

Sebelum video yang disebutkan di atas disebarluaskan, suara-suara dari seluruh pelosok negeri Tiongkok berteriak dengan lantang “Hancurkan Partai Komunis”, “Hancurkan Bandit Komunis”, dan seruan yang menuntut penggulingan Partai Komunis semakin bergejolak.

Di bawah kondisi meningkatnya anti-komunis di dalam dan luar negeri, baru-baru ini mantan bintang sepak bola Tiongkok, Hao Haidong tiba-tiba “membangkitkan pemberontakan.” 

Pada 4 Juni 2020, Hao Haidong dan Guo Wengui, penggagas “revolusi” serta Steve Bannon, mantan penasihat dan kepala ahli  strategi Gedung Putih bersama-sama mengumumkan pembentukan “Federasi Tiongkok Baru.” Hao Haidong membacakan “Deklarasi Federasi Tiongkok Baru” dan menyatakan akan “melenyapkan Komunis Tiongkok.”

Dalam deklarasi itu, Hao Haidong mengatakan bahwa Komunis Tiongkok telah menjadi “organisasi teroris” sejak berdirinya partai. Sekarang berkembang menjadi partai kekerasan dan anti-kemanusiaan yang mengabaikan hak asasi manusia, menghancurkan kemanusiaan, menginjak-injak demokrasi, melanggar aturan hukum, menghancurkan perjanjian, menciptakan pertumpahan darah di Hong Kong, membunuh warga Tibet, serta mengekspor korupsi dan membahayakan dunia.”

Hao Haidong juga mengkritik Partai Komunis Tiongkok karena tindakan ilegalnya, seperti menipu, dan jahat, dan serentetan tindakan jahat lainnya. Dia mengatakan, “Melenyapkan Partai Komunis Tiongkok itu diperlukan untuk memutus rantai budak rakyat Tiongkok dan mewujudkan perdamaian dunia.”

Istri Hao Haidong dan mantan juara dunia bulu tangkis, Ye Zhaoying, sepenuhnya mendukung suaminya. Ye Zhaoying mengatakan dalam sebuah wawancara, bahwa dia berharap melihat kehancuran partai komunis yang jahat dan rakyat Tiongkok bisa benar-benar menjalani kehidupan yang bahagia dari demokrasi, kebebasan, legalitas, dan hak asasi manusia.  Ye Zhaoying sangat yakin saat yang diharapkan itu akan segera tiba.

“Jika bukan karena kita, orang lain juga akan bangkit. Ini hanya kebetulan bahwa kesempatan itu diberikan kepada kita,” kata  Ye Zhaoying. 

Tidak hanya Hao Haidong dan istrinya yang berani bersuara lantang, tetapi juga rekaman audio yang diungkapkan secara online oleh Profesor Cai Xia dari Sekolah Partai Pusat Partai Komunis Tiongkok dalam sebuah pertemuan rahasia “Generasi Merah Komunis Kedua,” sebuah istilah yang merujuk pada putra-putri generasi kedua dari para elite Partai Komunis Tiongkok.

Dalam rekaman audio itu, disebutkan bahwa Partai Komunis Tiongkok sudah menjadi “zombie politik”, dan tidak mungkin bagi siapa pun yang dapat menyelamatkan krisis ini. Tidak ada gunanya juga mengubahnya, sistem ini pada dasarnya harus dicampakkan.

Cai Xia, Hao Haidong, dan Ye Zhaoying disebut-sebut sebagai orang dalam sistem tersebut. Mereka tiba-tiba dan secara terbuka menyerukan untuk meninggalkan Partai Komunis Tiongkok, sehingga menarik perhatian luas dari kalangan luar.

Pada 8 Mei 2020, Radio Free Asia mengatakan bahwa mantan koresponden Kantor Berita Xinhua, Chen membenarkan bahwa sejak rekaman Cai Xia beredar luas di internet dan pasangan Hao Haidong menyatakan deklarasi bersama, Departemen Propaganda Pusat komunis Tiongkok segera memblokir  semua informasi mereka dan berusaha membungkam semua informasi untuk mencairkan dampak dari masalah itu.

Percakapan internal di antara pejabat senior media tingkat pusat menunjukkan bahwa dua peristiwa tersebut di atas merupakan insiden yang sangat serius bagi para pemimpin puncak Partai Komunis Tiongkok. Tak heran Partai Komunis Tiongkok harus memblokir informasi terkait untuk mencegah warga Tiongkok setempat mengikuti jejak mereka. (Johny/rp) 

Video rekomendasi

Share

Video Popular