Ntdtv.com

Hujan lebat di Tiongkok selatan menyebabkan bencana. Saat ini ada 110 sungai mengalami banjir hebat, 2,62 juta penduduk di 11 provinsi terkena dampaknya, banyak kasus kematian dan orang hilang di sejumlah tempat. Penduduk dari berbagai tempat mulai pindah ke tempat-tempat yang tinggi, untuk berjaga-jaga. Banyak netizens mengingatkan bahwa Bendungan Tiga Ngarai berisiko runtuh !

Rumah warga dua lantai tergenang banjir

Sejak bulan Juni 2020 ini, Tiongkok selatan mengalami curah hujan paling tinggi. Curah hujan di Guangxi, Guangdong dan 9 wilayah lainnya mencatat rekor total curah hujan pada awal bulan Juni ini. Banjir yang melampaui batas normal terjadi di 110 sungai di 8 provinsi Tiongkok.

Diantaranya, banjir dahsyat terjadi di 22 stasiun dari 16 sungai di Guangxi. Rumah-rumah dan jalan-jalan di sejumlah kota tergenang banjir, jalan-jalan runtuh, lalu lintas terhambat, air dan listrik terputus, sebagian rumah rusak parah. Pejabat pemda Guangxi hanya mengumumkan 9 orang tewas, namun penduduk setempat mengatakan bahwa jumlah korban tewas lebih dari itu.

Kabupaten Yangshuo, Yongfu dan Pingle di kota Guilin, provinsi Guangxi, tiga wilayah ini nyaris menjadi “kota terpencil dalam air”, genangan air yang parah telah terjadi di daerah kabupaten ini.

Video terkait menunjukkan jalan-jalan di Kabupaten Yangshuo, kota Guilin, provinsi Guangxi, serta jalan-jalan di banyak kota kabupaten dan desa telah berubah menjadi sungai, rumah-rumah dan mobil warga setempat tenggelam. Genangan air telah mencapai pinggang, sehingga warga setempat pun membuat rakit dari bambu.

Chen Hong, yang mengelola sebuah kedai penginapan di Kabupaten Yangshuo, mengatakan kepada jurnalis the Epoch bahwa pada 6 Mei lalu, hujan mulai turun selama beberapa hari berturut-turut, ketika air yang deras naik, lantai dua beberapa rumah penduduk tergenang banjir, mereka terpaksa tidur di lantai 3.

Chen Hong menuturkan, “Sebuah waduk kecil di sekitar daerah kami runtuh, dan air menggenangi kota kabupaten. Kota kabupaten saat ini berantakan, rumah-rumah ambruk di mana-mana. Saya keluar sebentar untuk melihat suasana banjir, tampak lumpur di mana-mana. Banyak warga membersihkan rumah mereka, barang-barang dan mobil digenangi air.”

Seorang netizen Tiongkok memosting video sambil mengatakan bahwa penduduk di dekat Waduk Guilin, provinsi Guangxi mulai mengungsi, dan waduk tersebut berisiko runtuh kapan saja!

Provinsi di selatan Tiongkok dikelilingi oleh banjir

Pada 9 Juni, Kotapraja Zaibian, Kabupaten Congjiang, Provinsi Guizhou, diterjang hujan deras dalam waktu yang lama menyebabkan tingkat air Waduk Zaibei melonjak. Lonjakannya melebihi garis peringatan keselamatan. Waduk telah retak, dan penduduk yang tinggal di daerah dataran rendah itu mulai pindah ke tempat lain.

Pada tanggal yang sama, permukaan air waduk di Kotapraja Zaibian, Kabupaten Congjiang, Provinsi Guizhou melonjak melampaui garis keselamatan, dan penduduk yang tinggal di daerah setempat berduyun-duyun pindah ke tempat lain.

Sekitar pukul 10 malam itu, pemerintah daerah Changsha, Provinsi Hunan untuk pertama kalinya mengeluarkan peringatan badai hujan. Diperkirakan curah hujan di bagian selatan Kota Changsha akan mencapai lebih dari 100 mm dalam 3 jam. Hujan deras ini menyebabkan lautan luas di banyak daerah Changsha, kendaraan dan rumah-rumah seakan tenggelam dihantam banjir dahsyat.

Video yang dirilis oleh netizen setempat menunjukkan hujan lebat berlangsung lebih dari satu jam, Changsha tergenang banjir. Distrik dengan populasi puluhan juta orang itu pun setengah lumpuh. Kendaraan-kendaraan tenggelam, dan penduduk setempat bahkan ada yang berenang di jalanan.

Itu pemandangan pada 9 Juni malam waktu setempat di kota Changsha, provinsi Hunan, Tiongkok. Changsha adalah kota provinsi daratan Tiongkok. Kota dengan populasi hampir 10 juta jiwa itu seakan tenggelam oleh banjir.

Seberapa parah banjir di selatan Tiongkok, media domestik nyaris tidak memberitakannya. 

Netizen yang memosting video itu, mengatakan bahwa Guangdong, Guangxi, Hunan, dan Sichuan diterjang hujan lebat selama beberapa hari berturut-turut. Kota setempat digenangi air, jalan-jalan ambruk, dan tanah longsor di daerah pedesaan. Namun media domestik nyaris tidak melaporkan peristiwa banjir dahsyat itu, dan seakan tidak peduli berapa banyak tunawisma yang tidak punya tempat bernaung, dan berapa banyak orang tua serta anak-anak yang hilang tersapu oleh banjir. Pemerintahan jahat seperti itu tidak bisa dibiarkan. 

Seorang netizen mengatakan bahwa ayahnya yang berkecimpung dalam pemanfaatan sumber daya hidrolik dan pencegahan bahaya banjir, menuturkan bahwa bendungan yang dibangun pada tahun 1950 dan 1960-an itu dibangun sesuai dengan persyaratan usia pemakaian selama seratus tahun. 

Belakangan orang-orang sederhana ​​ini menjadi “duri dalam daging” atau tidak disukai  di mata sejumlah orang, dan kemudian setelah mereka pensiun, kondisi bendungan mulai rapuh. 

Dihimbau sebaiknya hati-hati terhadap bendungan yang dibangun dalam 20 tahun terakhir. Ada banyak “proyek ampas tahu” dan banyak orang akan tersapu begitu ambruk.  Istilah “proyek ampas tahu” mengacu pada proyek yang dibangun alakadarnya dibawa standar.  

Banyak netizen mengingatkan, Bendungan Tiga Ngarai berisiko ambruk. !

Pada 9 Juni 2020, seorang netizen memosting video sambil mengingatkan, “Jika hujan tiada henti seperti itu, saya benar-benar khawatir dengan kondisi bendungan. Proyek asal jadi Partai Komunis mana bisa menahan terjangan banjir? Kepada saudara-saudara yang tinggal di Hilir Bendungan Tiga Ngarai Sungai Yangtze sebaiknya segera pindah, terlepas bagaimana dengan kondisi anda, karena ambruknya bendungan itu bisa terjadi kapan saja.”

Selama beberapa dekade terakhir, real estat dibangun di mana-mana, merusak saluran air alami, proyek yang merusak lingkungan alam, membuat bendungan yang berisiko runtuh dapat terjadi kapan saja.

Selain itu, ada netizens yang mengutip pernyataan pejabat Kementerian Sumber Daya Air, mengingatkan puluhan juta penduduk di daerah hilir Bendungan Tiga Ngarai sebaiknya segera membuat rencana ke depan. Harta habis masih bisa dicari, tetapi nyawa hanya satu, hilang sudah jika sudah melayang. 

Pada 10 Juni 2020, beberapa netizen mengingatkan bahwa selain banjir, awan gempa telah muncul di daratan Tiongkok, dan dipastikan ada gempa bumi yang kuat di Tiongkok Barat Daya dalam waktu 7 hari, dan Bendungan Tiga Ngarai berisiko ambruk. 

Quanlang, ahli Feng-Shui asal Hong Kong meramalkan, bahwa Bendungan Tiga Ngarai akan runtuh ketika ada gempa bumi berkekuatan 8,3 atau lebih tinggi di barat daya Tiongkok pada bulan Juni 2020. Ini dapat diverifikasi.

Seorang netizen menyarankan: “Musim banjir telah tiba, sekadar mengingatkan saudara-saudara yang tinggal di tengah dan hilir agar selalu waspada terhadap risiko ambruknya Bendungan Tiga Ngarai. Tidak akan ada peringatan dini. Kita tahu tikus akan pindah secara kolektif sebelum gempa bumi, untuk alasan yang sama, Anda hanya perlu memperhatikan gerak-gerik ‘kawanan tikus’ (pejabat korup) setempat.”

“Tips menyelamatkan diri sebagai berikut: hujan lebat dalam beberapa hari terakhir, arus air akan mengalir ke Sungai dan Danau. Kawanan tikus/ pejabat korup berduyun-duyun pindah ke tempat lain. Pada saat demikian, Anda tidak perlu lagi banyak pertimbangan, tinggalkan semua hal di luar tubuh/ harta benda, selamatkanlah diri bersama isteri dan anak-anak Anda!” (Johny/rp) 

Reporter Li Yun / Editor : Zhu Xinrui

Video Rekomendasi

Share

Video Popular