Ntdtv, oleh Li Jiaxin- Beberapa hari yang lalu, para ekstrimis kiri Antifa mengambil keuntungan dari insiden protes dan kerusuhan untuk menduduki wilayah di kota Seattle yang meliputi 6 blok, mengumumkan pembentukan apa yang disebut Daerah Otonomi Capitol Hill atau Capitol Hill Autonomous Zone. kelompok itu meminta walikota untuk menarik dana kepolisian. Pada 9 Juni malam, mereka kembali memasuki balai kota secara paksa, meneriakkan tuntutan pengunduran diri walikota dari Partai Demokrat, Jenny Durkan.

Dalam huru hara yang mengubah unjuk rasa menjadi kerusuhan, kemudian berubah lagi menjadi pemberontakan ini. Hal demikian terkandung kompromi yang lemah dari walikota termasuk gubernur yang pro-sayap kiri, dukungan dari para anggota dewan kota yang Marxis. Selain itu, konfrontasi kekerasan dari Antifa. Hal ini semua adalah perpanjangan dari faktor-faktor komunis dan sosialis. Sehingga menjadikan Seattle sebagai wakil yang paling menonjol dari kerusuhan nasional kali ini.

Media lokal ‘Komo News’ pada 11 Juni memberitakan, sebelum para ekstrimis mengumumkan pembentukan Daerah Otonomi Capitol Hill, Kantor Kepolisian Seattle menyerahkan Kantor Sektor Timurnya kepada kelompok ekstremis. Dikarenakan ancaman mereka mau membakar gedung. Dengan demikian, kaum anarkis tanpa susah payah berhasil menduduki daerah tersebut untuk dijadikan Daerah Otonomi Capitol Hill.

Media ‘City Journal’ memberitakan, kelompok bersenjata ekstrem kiri ‘John Brown Gun Club’ yang berafiliasi dengan Gerakan Antifa kemudian mengendalikan daerah itu.

Sejumlah rekaman gambar menunjukkan bahwa setelah para ekstrimis menguasai daerah itu, lalu membuat penghalang jalan untuk membangun “perbatasan.” Kemudian memasang tanda-tanda yang berbunyi : Jika Anda ingin memasuki daerah ini, berarti Anda meninggalkan Amerika Serikat sekarang.

Pada saat yang sama, para militan Gerakan Antifa juga menempatkan para penjaga yang dipersenjatai dengan senapan semi-otomatis AR-15 untuk berpatroli. Selain itu, mengendalikan pintu masuk area “perbatasan” untuk memeriksa warga yang masuk dan meninggalkan daerah ini.

Menurut laporan media konservatif Kanada ‘The Post Millennial’ pada 10 Juni, meskipun kerusuhan dan penjarahan sebelumnya telah menghancurkan banyak bisnis di kota Seattle, beberapa anggota Dewan Kota terus mendorong kekerasan dan menyerukan penarikan dana kepolisian.

Orang yang memimpin para demonstran untuk menyerang balai kota pada Selasa malam itu adalah anggota kongres kota bernama Kshama Sawant, ia merupakan seorang yang berideologi Marxisme. Ia adalah anggota dari partai politik ‘Socialist Alternative’ yang menganut Trotskyisme di Amerika Serikat. Slogannya sangat jelas yakni menuntut Walikota Jenny Durkan untuk mundur.

Kshama Sawant memiliki sejarah memfitnah polisi Seattle. Melalui Twitter dia menyampaikan sikapnya yang mendukung kerusuhan.

Tidak hanya itu, tetapi beberapa anggota dewan kota berpemahaman ekstrem kiri termasuk Teresa Mosqueda juga memuji para perusuh. Teresa adalah pendukung jangka panjang Gerakan Antifa, bahkan mengenakan T-shirt bertuliskan Gerakan Antifa kepada anaknya.

Catatan menunjukkan bahwa para perusuh menyerang polisi, membakar mobil-mobil polisi, dan mencuri 2 pucuk senapan AR-15 milik polisi. Kemudian ditemukan oleh seorang penjaga keamanan reporter ‘Q13 Fox’ yang meliput kerusuhan tersebut.

Seattle tidak asing dengan kekerasan dari Gerakan Antifa. Sejak 2016, kelompok ini jelas ada di Seattle dan mereka memiliki koneksi dengan para pemimpin Partai Demokrat lokal. Semua anggota dewan kota dan walikota saat ini, mendapat dukungan dari partai-partai demokrasi lokal yang dikendalikan oleh para ekstrimis ini.

Kerusuhan dan penjarahan didukung oleh banyak anggota Dewan Kota Seattle. Pekan lalu, dalam sebuah konferensi video tentang kerusuhan, anggota dewan sosialis Tammy Morales mengatakan : “Ketika setiap hari ada pria atau wanita kulit hitam yang menghadapi kematian, dirinya jadi tidak mengerti : “Mengapa penjarahan mesti membuat orang resah ?”.

Reaksi Walikota Seattle asal Partai Demokrat, Jenny Durkan juga memiliki kecenderungan untuk “membelot” kepada para perusuh. Meskipun dia mengutuk kerusuhan dan penjarahan, tetapi di Twitter ia menulis : Saya ingin mengakui bahwa, baik di Seattle atau di seluruh negeri, banyak kekerasan dan kehancuran itu terjadi akibat hasutan orang-orang kulit putih.

Polisi Seattle tampaknya telah menerima perintah untuk tidak menangkap para perusuh. Banyak video menunjukkan bahwa mereka tidak peduli dengan penghancuran etalase-etalase toko. Walikota bahkan mengeluarkan perintah darurat yang melarang penggunaan senjata di daerah tersebut, sehingga pemilik usaha kecil tidak dapat melindungi mata pencaharian mereka. Banyak penduduk secara terbuka mengumumkan niat mereka untuk pindah dari kota Seattle. Dikarenakan pemerintah tidak mampu melindungi mereka, sementara penduduk juga tidak diizinkan untuk melindungi diri sendiri.

‘The Post Millennial’ mengutip ungkapan seorang sumber melaporkan bahwa setelah penyerahan sektor Timur oleh kepolisian Seattle dan menduduki Balai Kota oleh para ekstremin Gerakan Antifa, kantor polisi lainnya di kota itu juga menjadi target serangan. Pertama dan terutama adalah Sektor Barat dari Kantor Kepolisian Seattle, dimana merupakan pusat panggilan 911 kota tersebut. 

Ada laporan yang menyebutkan bahwa sejumlah data dan peralatan sensitif telah dipindahkan dari Distrik Barat, dan ruang pertemuan semua cabang telah ditutup. Pejabat lokal tampaknya mengakui untuk menyerahkan lebih banyak distrik dan cabang kepolisian kota kepada Gerakan Antifa.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa entah kapan pemberontakan ini akan berakhir. Tampaknya Seattle sudah menyerah kepada perusuh. (Sin/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular