Epochtimes,  oleh Wang Xiang- ‘The Washington Post’ pada hari Jumat, 12 Juni memberitakan bahwa, aliansi politisi yang belum pernah ada sebelumnya  dibentuk oleh para politisi negara-negara maju, menunjukkan bagaimana kekhawatiran terhadap ulah Beijing akhir-akhir ini telah menyebar luas ke seluruh dunia.

Empat orang anggota Kongres Republik AS dan empat orang anggota Partai Demokrat AS yang bertindak sebagai inisiator pembentukan aliansi ini, termasuk Senator Marco Rubio dan Robert Menendez.

Aliansi politik tersebut telah menarik perhatian dunia di awal berdirinya, karena yang bergabung mencakup sejumlah anggota parlemen atau politisi dari negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Australia, Kanada, Jerman, Norwegia, Swedia, dan mencakup total 18 kursi kepala staf gabungan.

Selain Amerika Serikat, ada juga mantan Menteri Pertahanan Jepang Jenderal Gen Nakatan, Miriam Lexmann, anggota Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Eropa, Iain Duncan Smith, salah satu veteran dari Partai Konservatif Inggris, dan lainnya.

Aliansi mengatakan akan memperhatikan lima bidang utama, termasuk menjaga ketertiban berdasarkan prinsip-prinsip internasional, hak asasi manusia, mempromosikan perdagangan yang adil, memperkuat pengembangan strategi keamanan untuk menghadapi komunis Tiongkok, dan memastikan integritas negara sehingga tidak merusak ekonomi negara lain.

Akhir-akhir ini diplomasi srigala perang komunis Tiongkok menjadi semakin radikal.

Beijing baru-baru ini secara paksa mendorong disahkannya UU Keamanan Nasional versi Hongkong agar dapat melakukan tindakan dengan tanpa melalui persetujuan legislatif Hongkong. Hal ini memicu kecaman dari pemerintah Barat. 

Pemerintah AS telah menyatakan bahwa mereka akan membatalkan perlakuan perdagangan preferensial yang diberikan oleh AS kepada Hongkong.  Inggris juga telah mengindikasikan bahwa mereka akan merevisi kebijakan imigrasi Inggris dan mempertimbangkan untuk menerima hampir 3 juta warga Hongkong yang memenuhi syarat untuk memperoleh paspor BNO atau British National Overseas.

Menurut pernyataan yang diterbitkan oleh aliansi melalui situs webnya, disebutkan bahwa tujuan aliansi adalah melakukan koordinasi di antara negara-negara demokratis.  Langkah itu, demi memberikan tanggapan yang sama dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh perilaku komunis Tiongkok saat ini, serta ambisinya di masa depan yang menimbulkan ancaman.

Kelima negara yang baru bergabung dengan aliansi tersebut adalah Republik Ceko, Jerman, Italia, Lithuania dan Belanda.

Salah seorang inisiator pendirian aliansi ini, Marco Rubio pada 10 Juni mengatakan : “Bagaimana berurusan dengan komunis Tiongkok adalah masalah besar yang tidak dapat diselesaikan hanya oleh partai atau terbatas pada pemerintah tertentu”.

Susan Shirk, direktur Pusat Penelitian Tiongkok Abad 21 dari Universitas California, San Diego kepada ‘Wall Street Journal’ mengatakan bahwa organisasi yang longgar, lemah dalam koordinasinya, apakah memiliki kemampuan untuk melawan Beijing, sebuah kekuatan baru yang mengancam ? Inilah fakta yang patut menjadi perhatian.

Dia mengatakan bahwa aliansi ini didirikan untuk menunjukkan kepada para pemimpin Partai Komunis Tiongkok, bahwa ketidakpuasan atas ekspansi kekuatan yang berlebihan dari Partai Komunis Tiongkok tidak terbatas pada Amerika Serikat saja.

Geng Shuang, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok pekan lalu menuduh bahwa politisi asing yang terlibat ini memiliki mentalitas perang dingin. Selain itu, dituding  memiliki ideologis yang membias. (Sin/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular