Erabaru.net. Facebook telah menghapus foto penduduk asli yang digunakan untuk membuktikan rasisme di Australia, setelah mengklaim foto itu termasuk dalam katagori ketelanjangan.

Foto itu dibagikan secara online untuk membuktikan rasisme telah terjadi di Australia buntut dari pernyataan perdana menteri negara itu, Scott Morrison, mengatakan tidak ada perbudakan di sana.

Dalam gambar yang dianggap tidak pantas, sembilan pria asli dapat terlihat hanya mengenakan kain untuk menutup alat kemluannya dan rantai di leher mereka, sementara tiga pria kulit putih berpakaian lengkap, salah satunya memegang senjata laras panjang berdiri di dekat mereka.

(Foto: PA)

Dalam sebuah wawancara radio pada hari Kamis, 11 Juni, Morrison ditanya tentang pemindahan patung setelah pengunjuk rasa Black Lives Matter di Bristol, Inggris, merobohkan patung mantan pedagang budak Edward Colston.

Berbicara tentang sejarah Australia, Morrison mengatakan:

“Australia ketika didirikan sebagai pemukiman, seperti New South Wales, didasarkan atas dasar bahwa tidak akan ada perbudakan. Dan sementara kapal budak terus melakukan perjalanan di seluruh dunia, ketika Australia didirikan ya, tentu, itu adalah pemukiman yang cukup brutal.

“Nenek moyang saya berada di Armada Pertama dan Kedua. Itu adalah tempat yang sangat brutal, tetapi tidak ada perbudakan di Australia.”

Mengikuti pernyataan berani dari Perdana Menteri Australia ini, seseorang membagikan foto orang-orang asli di akhir tahun 1800-an secara online, tetapi foto itu kemudian dihapus oleh Facebook karena ‘ketelanjangan’, seperti yang dilaporkan The Guardian.

Mereka yang mencoba berbagi gambar disambut dengan pesan yang menyatakan bahwa postingan tersebut bertentangan dengan Standar Komunitas Facebook karena mengandung ketelanjangan atau aktivitas seksual.

Namun foto itu telah dipulihkan, dengan Facebook meminta maaf atas penghapusannya. Seorang juru bicara dari situs media sosial itu menjelaskan bahwa itu mungkin telah dihapus ‘oleh sistem otomatis karena kesalahan’.

Morrison sejak itu mengakui ada ‘praktik mengerikan’ dalam sejarah Australia ketika ditanya apakah dia menganggap ‘blackbirding’ sebagai perbudakan. Blackbirding adalah praktik penculikan penduduk Kepulauan Pasifik dan menggunakannya untuk kerja paksa, khususnya pada perkebunan gula dan kapas di Australia.

Menjawab pertanyaan itu, Morrsion mengatakan,: “Ada berbagai macam praktik mengerikan yang telah terjadi, jadi saya tidak menyangkal hal itu.” Seperti yang dilaporkan The Guardian.

(Foto : PA )

Menyusul protes Black Lives Matter yang sedang berlangsung di seluruh dunia, termasuk di Australia, Amerika, dan Inggris, rasisme institusional yang nyata masih terjadi dan sangat terasa di negara-negara ini, serta di tempat lain.(yn)

Sumber: Unilad

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular