Ntdtv, oleh Xiao Jing- Kementerian Pertanian AS mengkonfirmasi pada 11 Juni bahwa Amerika Serikat mengekspor 720.000 ton kedelai ke Tiongkok.

Dalam laporan mingguan Kementerian Pertanian AS menunjukkan bahwa Amerika Serikat mengekspor 1 juta ton kedelai dalam pekan yang berakhir pada 4 Juni, di mana 337.000 ton dijual ke Tiongkok. Selain itu, Tiongkok juga membeli 644.000 ton tanaman baru.

Pada hari yang sama, Zhu Guangyao, mantan wakil menteri keuangan Tiongkok sebagai Penasihat Dewan Negara mengatakan dalam briefing yang diadakan oleh Dewan Negara, bahwa Tiongkok dan Amerika Serikat perlu menjaga komunikasi tentang masalah-masalah penting dan melanjutkan komunikasi yang normal.

Selain itu, Bank Sentral Tiongkok mengatakan pada hari Sabtu, 13 Juni bahwa mereka telah menyetujui American Express Bank untuk membuka bisnis kliring untuk kartu bank (kredit) di Tiongkok melalui usaha patungan.

Voice of America berpendapat bahwa serangkaian langkah yang dilakukan oleh Beijing, tampaknya berharap untuk meredakan ketegangan yang meningkat antara negaranya dengan Amerika Serikat. Karena sebelum ini, Presiden Trump telah menyampaikan gagasannya untuk meninggalkan perjanjian perdagangan AS – Tiongkok.

Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow pada 26 Mei lalu juga dalam wawancara dengan Fox News mengatakan, bahwa bobot dari perjanjian perdagangan tahap pertama itu sudah tidak lagi sama seperti yang di waktu lalu.

Leland Miller, CEO CBB International, sebuah lembaga penelitian yang berpartisipasi dalam diskusi online berpendapat bahwa pada dasarnya perjanjian perdagangan tahap awal tidak mungkin terlaksana dalam 2 tahun. Apalagi terkena dampak epidemi pneumonia, sehingga tekanan untuk menggagalkan perjanjian tersebut bertambah besar.

Ia mengemukakan bahwa hubungan AS – Tiongkok dalam 6 bulan ke depan atau bahkan lebih lama akan mengalami lebih banyak kesulitan.

Lembaga penelitian Fitch Solutions dalam sebuah laporan bertopik tentang virus komunis Tiongkok, hubungan ekonomi dan perdagangan AS – Tiongkok menyebutkan bahwa komunis Tiongkok tidak mungkin dapat memenuhi komitmennya dalam perjanjian perdagangan tahap pertama. 

Sementara janji pembelian yang tidak mungkin dapat dipenuhi itu lebih terpukul lagi karena terjadi wabah virus. Sedangkan tekanan politik dalam negeri dari kedua belah pihak, lebih-lebih membuat tidak mungkin untuk membentuk perjanjian perdagangan yang komprehensif dalam tahun 2020. Selain itu, perkembangan di Hongkong bahkan mampu memicu perang perdagangan yang lebih besar.

Dalam laporan analisisnya, Fitch Solution berulang kali menegaskan bahwa Beijing menghadapi peningkatan isolasi internasional akibat epidemi virus dan perkembangan situasi Hongkong.

Pada 28 Mei lalu, Kongres Rakyat Nasional komunis Tiongkok secara paksa mengesahkan UU Keamanan Nasional versi Hongkong. Amerika Serikat kemudian menyatakan bahwa dengan demikian Hongkong tidak lagi memiliki tingkat otonomi yang tinggi, sehingga dapat kehilangan kebijakan preferensial yang diberikan oleh hukum AS. Dan karena itu hubungan AS – Tiongkok  memburuk lagi. (Sin/asr)

Video Rekomendasi

Share

Video Popular